Rabu, 11 Desember 2013

Bahagia Itu Sederhana

Bahagia itu sederhana. Ya, sesederhana itulah kebahagiaan...

Seperti yang sudah pernah saya tulis sebelumnya. Saya baru 4 tahun belakangan ini aktif menulis di Blog. Tulisan saya sampai sekarang masih kacau balau. Tapi saya tetap keukeuh dengan pendirian saya, bahwa menulis bukan tentang ‘hasil’, menulis adalah tentang ‘kenikmatan’, biarlah kacau, nikmat kok.

Sekali lagi, bahagia itu sederhana,ya sederhana memang. Beberapa minggu yang lalu, tulisan saya yang berjudul ‘Selamat Hari Blogger Sedunia’ dikomen oleh salah satu penulis idola saya, Kika Dhersy Putri. Bagi yang belum mengenal (saya juga belum berkenalan), Kak Kika ini adalah seorang penulis yang berdomisili di Surabaya. Saya mengenal sosok Kak Kika ini melalui tulisannya dalam kolom ‘Halau Galau With Kika’ yang dimuat dalam rubrik ‘For Her’ oleh koran terbesar se-Indonesia, Jawa Pos. Selain itu, Kak Kika juga merupakan seorang Creative Director di CV Think Tank Creative yang bergerak di bidang kreatif konsultan. Saya kagum dengan tulisannya, hebat. Mayoritas tulisannya membahas mengenai isu sosial yang sedang beredar di tengah realita masyarakat. Namun, Kak Kika mampu membahas dan menyajikannya dengan apik. Diksi yang digunakan, timing pemunculan kalimat, kekuatan analisis, solutif dan dirangkum dalam susunan kata yang saling bertautan membuat tulisannya sangat saya tunggu.
Saking bahagianya, tulisannya sampai saya screenshot, haha!


Walaupun Kak Kika hanya ‘Say Hi!’, tapi menurut saya itu adalah apresiasi tingkat tinggi. Ya tingkat tinggi. Bagaimana Kak Kika bisa tahu Blog saya hingga dia bisa berkomentar ‘saya juga masih belum apa-apa’ menyiratkan bahwa ternyata tulisan saya dibaca. Bagi seorang penulis, sebuah tulisan dibaca dan dikomentari merupakan wujud apresiasi tertinggi. Terima kasih Kak Kika!

Setelah tulisan dikomentari oleh idola, saya jadi semakin terpacu untuk lebih produktif dalam menulis, untuk menghasilkan tulisan yang bisa memuaskan saya. Saya menulis memang tidak memiliki motivasi lain selain karena saya menyukai proses menulis. Persetan dengan yang namanya pencitraan, pengakuan, atau pujian dari kawan, saya tidak butuh itu untuk tulisan saya.

Oh iya, saya kok sekarang jadi sadar, ternyata lingkungan yang saya tinggali ini penuh dengan kepalsuan dan pencitraan...

World is full of amateur there’s acting like a pro... – The S.I.G.I.T (Clove Dopper)

Benar sekali yang dikatakan kang Rektivianto Yoewono ini, lirik di atas seolah melukiskan fenomena yang sedang terjadi di dunia ini. Tak perlu jauh-jauh, saya bisa melihat di lingkungan sekitar saya, lingkungan dimana saya menuntut ilmu perkuliahan. Banyak sekali ‘Amatir’ yang berlagak ‘Profesional’, hanya bercitra. Seolah mereka bisa apa saja. Haha, pencitraan itu palsu bung. Seperti apa yang grup band Seringai tegaskan dalam lagu Citra Natural. Saya muak dengan pencitraan yang sebenarnya hanya menyamarkan kepalsuan. Tak usahlah berlagak sok ‘perlente’ kalo nyatanya hanya bisa ‘memble’. Apa itu busana, kendaraan, gaya bicara, pergaulan, media sosial jika aslinya hanyalah seorang amatir yang keberadannya tersebar dimana-mana? Mengerumuni yang benar-benar profesional?

Saya ini juga bukan seorang profesional, tapi setidaknya saya mencoba apa adanya. Seorang amatir jika ia jujur, ia akan menjadi ‘Amatiran yang Profesional’, bisa kitasebut profesional bukan? Jika memang kita nihil, berhenti bercitra! Jika memang kuasa, tunjukkan, usahlah beretorika! Dunia tidak butuh pencitraan, dunia butuh bukti nyata! Daripada kita hanya bercitra, marilah berkarya, entah lewat apapun. Tulisan, sajak, lagu. Mari kita tunjukkan kemampuan kita, tidak perlu bersilat lidah, berbusana bak seorang Gatsby sejati. Karya haruslah berbanding lurus dengan citra.

Saya memutuskan untuk menulis, karena dengan media inilah saya bisa berkarya. Anda bisa melihat citra nyata saya terwakili oleh tulisan saya. Saya tak berpura, setidaknya saya tidak hanya bisa bercitra. Kalo anda tidak bisa bekarya, buat apa bercitra. Citra saya adalah tulisan, saya menyukai menulis. Saya berjanji, akan semakin sering menghasilkan tulisan yang (semoga) lebih bermanfaat. Daripada saya hanya bercitra, apalagi diam.
Karena sungguh, ternyata menulis itu membahagiakan. Ya sesederhana itulah kebahagiaan.

Silence speaks louder than words. But for me, words act bigger than silence - Myself

Tidak ada komentar:

Posting Komentar