Kamis, 04 Mei 2017

Pengalaman Jobseeker #2 : Danone MT Star 2017

Halo halo semuanya, setelah sebelumnya saya menuliskan mengenai pengalaman menjadi jobseeker, kali ini saya ingin berbagi mengenai proses seleksi MT Star Danone 2017. Untuk proses ini sengaja saya tulis terpisah dari artikel sebelumnya karena proses seleksi di Danone ini terasa begitu istimewa dan paling berkesan (ya intinya karena saya diterima sih sebenarnya, hahaha). Jadi, di tulisan kali ini, saya ingin berbagi secara detail sedetail-detailnya mengenai proses seleksi menjadi MT Star Danone 2017.

Sebelum saya masuk ke proses seleksi, pertama-tama izinkan saya bercerita mengenai alasan saya mendaftar menjadi MT Star Danone ini. Jujur, saya pertama kali mengenal program MT Star Danone ini dengan cara cukup unik. Jadi waktu itu saat saya mengikuti tes Astra Graduate Program di Astra International, saat break makan siang saya bertemu dengan sesama peserta tes (maaf saya lupa namanya) yang berasal dari Teknik Industri UGM angkatan 2009. Waktu itu dia bercerita mengenai temannya yang bernama Teno Ismoko, yang juga kakak kelas saya sewaktu SMA (yang kemudian menjadi tempat curhat saya saat diterima MT ini hehe) yang diterima bekerja di Danone dengan gaji bulanan yang lumayan dan mendapatkan penempatan di Sarihusada Jogja. Waktu itu dalam hati saya berpikir, wah kok enak sekali bisa kerja di Jogja bergaji lumayan tinggi dan yang jelas di perusahaan sekelas Danone. Dan waktu itu seketika saya memutuskan bahwa saya akan sebisa mungkin mengejar kesempatan untuk bisa menjadi MT Star Danone, walaupun saya tahu itu tidak akan mudah. Mendengar cerita dari teman saya bahwa seleksi menjadi MT Star Danone cukup sulit, saya sempat merasa ciut nyali tapi sekaligus tertantang. Dalam hati saya berkata bahwa “wah pasti keren banget nih bisa masuk Danone”. Dan saya pun mencoba mengejar kesempatan itu.

Kesempatan pertama saya datang waktu Danone membuka open recruitment untuk MT Star 2015. Namun saya tidak mendaftar karena waktu itu saya sudah diterima menjadi PPS Umum Bank BRI (yang pada akhirnya ujung-ujungnya gak jadi juga haha). Saya cukup sedih tidak bisa mendaftar, namun apa daya, kondisi skripsi yang belum kelar dan sudah takut kena masalah dengan Bank BRI karena membatalkan secara sepihak, saya memutuskan untuk tidak mendaftar pada waktu itu. Kesempatan kedua datang di bulan Agustus 2015 dimana Danone membuka lagi lowongan untuk MT Star 2016. Karena waktu itu kondisi saya baru saja melepas offer dari Bank BRI dan baru saja lulus kuliah. Dengan semangat membara waktu itu saya langsung apply program ini. Dengan penuh kepercayaan diri, saya menjatuhkan pilihan pertama sebagai MT Supply Chain dan MT Quality Assurance (QA) sebagai pilihan kedua, karena masih relate dengan bidang kuliah saya. Memang istimewanya di Danone adalah kita diberikan pilihan untuk bisa memilih function mana yang menjadi minat kita walaupun keputusan akhir dimana kita akan ditempatkan tetap sepenuhnya ditentukan oleh Danone sesuai kualifikasi kita dan kebutuhan perusahaan. Sayang beribu sayang, waktu saya langsung gagal di tahapan pertama yaitu tahapan online test. Karena kurang persiapan yang matang dan karena terlalu jumawa saat mengerjakan, nama saya tidak tercantum di daftar peserta yang lolos dalam email yang dikirimkan oleh pihak Danone (untuk proses detainya nanti saya ceritakan secara runut di bawah). Waktu itu saya sedih bukan main. Kesempatan emas untuk bisa menjadi MT Star Danone melayang sudah. Memang masih ada tahun-tahun berikutnya, namun entah kenapa saat itu saya merasa bahwa Danone bukanlah rejeki saya. Saya pun menjadi sangat kecewa karena kesempatan emas menjadi MT Star Danone harus pupus. Dan sejak saat itu, mimpi untuk menjadi MT Star Danone telah saya kubur (ngeri ya bahasanya, hehe). Saya pun mencoba ikhlas dan mulai move on untuk apply ke perusahaan lain.

Setahun waktu berlalu, setelah kesana kemari menjadi jobseeker veteran dan sempat juga bekerja walaupun hanya sebentar, Danone kembali membuka rekrutmen MT Star untuk tahun 2017. Proses pendaftaran dimulai sejak bulan Agustus 2016. Karena waktu itu saya sedang menganggur dan hanya mengisi waktu menjadi seorang freelance content writer, saya pun memutuskan untuk mendaftar lagi menjadi MT Star Danone. Namun waktu itu motivasi saya mendaftar sudah banyak berubah. Yang tadinya hanya sebatas gaji dan benefit, setelah melewati proses pencarian yang dalam, saya menemukan suatu nilai bahwa saya akan bekerja menghabiskan mungkin hampir setengah dari hidup saya, rasa-rasanya kok terlalu sia-sia jika waktu selama itu hanya saya gunakan untuk bekerja tanpa memberikan manfaat bagi sesama, jadi kalau saya harus bekerja kelak, paling tidak saya harus bekerja di perusahaan yang menawarkan nilai-nilai seperti itu. Saya juga punya prinsip lain bahwa saya harus bekerja di perusahaan FMCG multinasional. Mengapa FMCG? Karena saya merasa bahwa ilmu saya semasa kuliah akan sangat pas apabila diterapkan di jenis industri ini. Dan kenapa harus multinasional? Karena dengan begitu saya mempunyai kesempatan lebih untuk bisa pergi ke luar negeri dan mengeskplor banyak hal yang tidak bisa saya temukan. Intinya, ada banyak hal yang hanya bisa saya dapatkan jika saya bekerja di perusahaan multinasional. Dan yang terakhir, saya ingin bekerja di lingkungan yang ‘bebas dan fun’, dalam artian saya bebas mengekspresikan diri saya saat saya bekerja. Entah dari kebebasan berpakaian, lingkungan kerja yang dinamis, fun dan tidak kaku atau dari kebijakan perusahaan yang bisa memfasilitasi karyawannya dengan baik. Hal ini juga yang mendasari saya menjadi lebih selektif saat menjadi jobseeker. Dan ketiga faktor tersebut sangat pas dengan dengan apa yang ditawarkan oleh Danone. Dimulai dari campaign perusahaan dengan visi “bring health through food to as many people as possible”, lingkungan kerja yang menyenangkan dan kesempatan untuk belajar dan men-challenge diri lebih jauh, Danone seperti menjadi ‘career goals’ bagi saya. Setelah memiliki pondasi dan background yang lebih terstruktur, kali ini saya memantapkan hati untuk mendaftar lagi sebagai MT Star Danone. Dan berikut adalah detail tahapan seleksinya : 
  • Online Application 
Tahapan ini adalah tahapan awal dalam rangkaian proses seleksi menjadi MT Star Danone. Tahapan ini berlangsung selama kurang lebih satu bulan atau selama durasi dibukanya aplikasi menjadi MT Star Danone. Pada tahapan ini kita diminta untuk membuat akun/register di website resmi Danone Indonesia, yaitu dancommunity.com. Website dancommunity ini selain menjadi company website, juga lebih ditujukan untuk fitur informasi sekaligus promosi segala macam aktivitas di Danone kepada publik, termasuk juga urusan rekrutmen. Karena setau saya, Danone sangat jarang membuka rekrutmen melalui event semacam jobfair atau bekerja sama dengan career center di suatu kampus tertentu (kecuali rekrutmen yang dihandle langsung oleh CBU seperti Sarihusada). Jadi jika anda ingin memperoleh update mengenai info vacancy yang sedang dibuka, saran saya anda rajin-rajinlah update website ini dan juga follow di social media milik Danone seperti Twitter, Facebook dan Instagram, karena Danone sendiri termasuk sangat aktif dan bagus dalam hal branding mereka di social media. Setelah kita memiliki akun Danone, kita pun diminta untuk mengisi profil online/semacam CV yang telah disiapkan oleh pihak Danone. Pengisian ini meliputi data diri seperti nama, alamat, usia serta background jurusan kuliah kita. Selain itu, kita juga diberikan alternatif untuk memilih di function mana yang kita minati. Setelah proses pengisian selesai, maka kita akan mendapatkan link untuk mengerjakan online test yang bisa dikerjakan (kalau tidak salah) selama masa rekrutmen berlangsung. Jadi saran saya, semakin cepat anda mendaftar, maka semakin banyak waktu persiapan anda sebelum mengerjakan tes. Paling tidak mendaftar dulu di awal baru kemudian jika anda butuh mencari waktu yang benar-benar luang, anda masih memiliki waktu yang banyak untuk berpikir.


  • Online test 
Online test ini di-provide oleh pihak ketiga, yaitu ASI Rekrutmen, salah satu perusahaan vendor assesment untuk rekrutmen karyawan yang juga banyak digunakan oleh berbagai perusahaan besar. Setahu saya dua kali mengikuti online test MT Star Danone, mereka selalu menggunakan jasa ASI Rekrutmen dengan tipe soal yang 90% sama. Online test ini sendiri terdiri dari beberapa sub-test. Saya agak lupa detailnya, namun ada tes kemampuan verbal, algoritma, kemampuan dasar, numerical, kepribadian dan bahasa inggris. Waktu total pengerjaan sekitar 2 jam dengan bahasa Indonesia (kecuali tes bahasa Inggris tentunya hehe). Soalnya sendiri sifatnya multiple choice dengan tingkat kesulitan cukup sulit namun bukan yang sulit level dewa, saya yakin anda semua pasti bisa. Saran saya, cari tempat mengerjakan di tempat yang tenang dengan koneksi yang stabil. Saran saya, anda bisa mengerjakan di warnet saat sedang tidak ramai, untuk mengatasi mati listrik atau koneksi yang terputus di tengah jalan. Selesai mengerjakan, kita tidak langsung tahu hasilnya, karena Danone menunggu sampai batas akhir pengerjaan dan kemudian merekap hasilnya kemudian mengumukan setiap hasil tahapannya ini via email kepada para peserta.

  • Written Interview 
Sekitar satu bulan setelah tahapan online test, tiba-tiba ada notifikasi email di HP saya. Setelah saya buka, ternyata itu merupakan email dari Admin HR Groupe Danone yang menginfokan bahwa hasil tahapan online test sudah bisa dilihat di attachment pdf yang terlampir. Perlu menjadi catatan, bahwa Danone selalu mengirimkan info mengenai rekrutmen via email sistem milik function HR atau melalui karyawan Danone yang in-charge untuk program MT yang biasanya menggunakan ekstensi domain @danone.com. Jadi jika anda menerima email mengenai rekrutmen selain dari dua alamat di atas, anda sebaiknya melakukan konfirmasi ke pihak Danone. Waktu saya menerima email tersebut, saya deg-degan parah saat mau membukanya, karena saya sempat agak pesimis mengingat di tahun sebelumnya saya pernah gagal di tahapan online test ini. Namun setelah menguatkan tekad, akhirnya saya pun membukanya. Dan..... Alhamdulillah, saya masih diberik kesempatan oleh Allah dan berhak untuk mengikuti tahapan selanjutnya yaitu written interview. Waktu itu saya senang bukan kepalang. Kendati belum resmi diterima, setidaknya saya bisa lebih baik dari tahun lalu, hahaha! Kemudian peserta yang lolos diminta untuk mengisi form written interview secara online via link yang sudah dicantumkan di email tersebut. Batas waktu submit interview ini kurang lebih seminggu sejak email kita terima. Written interview ini dikerjakan dalam format bahasa Inggris. Berisi 6 pertanyaan yang berkisar mengenai kepribadian kita. Seperti mengenai kenapa anda ingin bekerja di Danone? Function apa yang anda pilih dan apa alasan anda? Kesulitan terbesar apa yang pernah anda alami dan bagaimana cara menghadapinya. Sebenarnya pertanyaan ini tidak terlalu membingungkan, hanya saja karena maksimal hanya bisa ditulis dalam 200 karakter (karakter ya bukan kata, jadinya saat menulis walaupun kelihatannya baru sedikit tapi sudah mencapai limit, dan ini yang membingungkan maksud dari karakter itu sebenarnya apa hehe), jadi kita harus benar-benar menjawab dengan singkat, padat jelas namun tetap bisa menyampaikan maksudnya secara utuh. Disinilah tantangannya sebenarnya, saya yakin di kepala kita semua pasti akan bisa menjawabnya dengan lancar namun terkadang, menjadi sulit untuk meringkas dan menuangkannya di dalam sebuah tulisan yang dibatasi panjangnya. Dengan berbagai cara dan berbingung ria, akhirnya saya bisa menuangkan ide pikiran saya ke dalam tulisan itu. Setelah saya baca berulang-ulang sampai mantap, akhirnya saya men-submit form tersebut. Dan hasilnya akan dikirmkan via email entah kapan kita tidak diberikan informasi. Yang lolos berhak melanjutkan ke tahapan selanjutnya yaitu Leaderless Group Discussion (LGD).

  • Leaderless Group Discussion (LGD) 


Setelah sekitar kurang lebih satu bulan, sejak tahapan written interview. Saya mendapat email dari Danone, yang isinya nama-nama yang lolos dan berhak mengikuti tahap LGD. Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan dan nama saya masih tercantum di dalam daftar. Nama-nama yang lolos pun berhak untuk mengikuti tahapan LGD yang diselenggarakan di dua kota, yaitu Jakarta dan Jogja. Alhamdulillah saya mendapat jadwal LGD di Jogja, tempatnya di University Club (UC) UGM. Waktu itu saya pikir LGD aka diadakan beberapa hari setelah email diterima, ternyata jadwal LGD masih satu bulan kemudian, yang artinya masih sangat lama, haha! Awalnya saya cukup heran kenapa begitu lama sekali tahapan prosesnya, namun saya mencoba mengambil manfaatnya yaitu saya jadi memiliki waktu lebih banyak untuk persiapan. Satu bulan kemudian, di hari yang ditentukan. Saya datang ke UC untuk mengikuti LGD sesuai jadwal. Di sana, saya ketemu dengan beberapa teman kuliah saya yang sama-sama lolos ke tahapan LGD. Disana kami mengobrol sambil menunggu giliran saya masuk. Jumlah peserta yang mengikuti LGD ini masih sangat banyak dan dibagi ke beberapa shift mulai jam 8 pagi. Saya sendiri kebagian jadwal di jam 1 siang. Saat giliran saya dipanggil, saya kemudian masuk. Waktu itu satu kelompok LGD terdiri dari 6 orang. Saya satu kelompok berbarengan dengan satu teman kuliah saya. Di dalam ruangan, sudah ada satu panitia dari pihak Danone yaitu Mas Aldi Ramadhika yang mem-brief mengenai rules di LGD ini. Mas Aldi ini sendiri adalah MT Star 2012 function HR dan sekarang sudah menjabat sebagai Manager of Management Trainee, yang berarti Mas Aldi-lah yang mendesign jalannya program MT di Danone, mulai dari kurikulum, timeline program, development bahkan sampai menampung curahan hati seluruh MT (haha, thank you Mas Aldi!). Back to topic, LGD ini sendiri diberikan durasi selama 30 menit. Di situ, masing-masing peserta diberikan selembar kertas yang bertuliskan case yang harus kita pecahkan. Selama durasi waktu tersebut kita sudah harus merumuskan jawaban kita secara pribadi, untuk kemudian di sisa waktunya kita juga harus sudah merumuskan jawabannya melalui diskusi kelompok. Waktu itu kasus yang disajikan berupa case di sebuah perusahaan yang sedang merumuskan strategi mengenai pengembangan produk baru dan di situ tersedia beberapa alternatif opsi apa saja yang menjadi prioritas untuk melaksanakan strategi tersebut. Jujur saya agak lupa detailnya, tapi kurang lebih berkisar mengenai opsi pilihan strategi perusahaan. Saya cukup beruntung, karena materi seputar LGD ini masih berhubungan banyak dengan keilmuan manajemen dan teknik industri yang notabene tidak jauh beda dengan apa yang saya dapat sewaktu kuliah. Diskusi di kelompok kami pun berjalan cukup lancar. Tidak ada yang pasif namun juga tidak ada yang terlalu menggebu-gebu mati-matian mempertahankan pendapatnya. Setelah kesepakatan kelompok tercapai, LGD pun selesai. Mas Aldi menyampaikan bahwa hasil lolos atau tidaknya akan diinfokan sore harinya via email. Yang lolos, berhak untuk lanjut ke tahapan interview HR keesokan harinya di lokasi yang sama. Dan di sore harinya, saya mendapatkan email dari Danone. Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan ke tahapan interview HR esok harinya.

  • Interview HR 



Interview ini berlangsung sehari setelah LGD yang masih berlangsung di UC UGM. Waktu itu saya bertemu dengan 2 orang lain dari kelompok LGD saya. Ternyata dari kelompok kami ada 3 orang yang lolos termasuk saya. Sayangnya, teman-teman kuliah saya masih belum beruntung untuk melanjutkan ke tahapan ini, jadilah hanya saya sendiri dari jurusan saya. Di dalam interview HR kali ini, kita akan berhadapan face to face dengan interviewer dari divisi HR. Sebelum mulai interview, sang interviewer mengenalkan diri dengan nama Mbak Citra dan mempersilahkan saya untuk memperkenalkan diri lebih dahulu. Mbak Citra ini adalah HR dari divisi Early Life Nutrition (ELN) di plant Sarihusada Prambanan, Klaten. Interview dilakukan dalam bahasa Inggris dengan materi pertanyaan seputar lebih jauh mengenai kepribadian kita, alasan mendaftar program ini, pengalaman, prestasi dan backgorund kita lebih jauh lagi. Saran saya, simpan baik-baik dan pelajari lebih dalam jawaban anda sewaktu mengerjakan tahapan written interview. Karena baseline pertanyaan yang diajukan tidak terlalu jauh dari saat written interview dan untuk menjaga agar jawaban anda tetap konsisten. Jujur, untuk menghadapi interview ini saya tidak melakukan persiapan apa pun. Karena waktu persiapan yang sangat pendek (hanya sehari), ketidaktahuan saya akan apa yang harus disiapkan dan berbenturan dengan pekerjaan yang harus saya selesaikan, maka saya pun menjadi tidak maksimal saat menjawa pertanyaan dari Mbak Citra. Saya merasa bahwa interview kali ini adalah salah satu interview terburuk yang pernah saya hadapi. Selesainya interview, saya diberitahukan Mbak Citra bahwa hasil akan diberitahukan via email. Waktu itu saya sudah pasarah total apabila memang saya tidak lolos. Mengingat interview saya yang acak-acakan, saya sudah yakin bahwa saya akan gagal sampai tahapan ini. Namun saya tetap berdoa memohon agar masih diberi kesempatan untuk lanjut. Mbak Citra menyampaikan bahwa hasil interview akan diinfokan kurang lebih sebulan kemudian. Jujur saya sudah berusaha mengikhlaskan kalau pun nanti hasilnya saya dinyatakan gagal. Ya bagaimana lagi, persiapan yang sangat minimal dan hasil interview yang tidak sesuai ekspektasi membuat saya sudah berusaha ikhlas apapun hasilnya. Dan ternyata, waktu sebulan yang dijanjikan sampai hasil diinfokan mundur menjadi begitu lama. Saya sempat pesimis dan yakin bahwa mungkin saya akan gagal karena tidak kunjung menerima email pemberitahuan. Namun saya masih berharap bisa lanjut ke tahapan interview user. Dan bodohnya saya, waktu interview HR, saya tidak berkenalan dengan peserta lain dan bertukar kontak, sehingga saya tidak bisa menanyakan ke peserta lain apakah mereka sudah mendapatkan email atau belum. Karena saya tidak ada teman untuk bertanya, maka saya pun mencoba mencari informasi di forum Kaskus, karena biasanya, banyak peserta proses rekrutmen suatu perusahaan yang membuat forum untuk bertukar informasi antar sesama peserta. Dari grup tersebut, saya pun menemukan link untuk join di group chat Telegram yang di dalamnya berisi para peserta rekrutmen MT Star Danone 2017. Saya pun akhirnya join chat dan bertanya-tanya kepada peserta lain. Ternyata memang ada beberapa divisi yang proses rekrutmennya masih berlangsung dan belum mendapatkan hasil. Namun ada beberapa divisi yang juga sudah masuk tahapan interview user. Saya antara tenang dan waswas sebenarnya. Tenang karena bisa jadi untuk divisi yang saya apply hasilnya belum keluar namun waswas karena siapa tahu peserta yang dipanggil ke tahapan interview user tidak bergabung di grup Telegram ini. Namun saya mencoba untuk positive thinking dan yakin bahwa hasilnya memang belum keluar. Sudah hampir dua bulan lebih sejak proses interview HR dan hasil lolos atau tidaknya belum juga ada kabar. Saya sudah super pasrah sampai pada suatu malam saat saya sedang latihan bersama band saya untuk perform di acara kampus, tiba-tiba ada email yang menginformasikan bahwa saya dinyatakan lolos sampai ke tahapan interview user. Waktu itu saya senang bukan main. Penantian yang begitu lama akhirnya terbayarkan saat saya menerima email tersebut. Di email disebutkan bahwa peserta yang lolos sampai tahapan interview user di Jogja ada 5 orang. Dan yang lebih melegakan lagi, interview akan dilaksanakan seminggu lagi di kantor Sari Husada di Yogyakarta yang hanya berjarak 5 menit menggunakan motor dari rumah saya. Yang berarti saya tidak perlu repot-repot mengurus akomodasi ke kantor pusat Danone di Jakarta, saya benar-benar beruntung, haha! Waktu itu ada salah satu dari 5 peserta, namanya Jonathan, dari Teknik Elektro ITB yang mencari info mengenai peserta lain yang mendapat jadwal interview di Jogja melalui grup Telegram. Saya pun kemudian men-chat personal dia untuk menawarkan bantuan stay di rumah saya sekaligus bersama-sama berangkat untuk proses interview. Dia merasa sangat senang karena teman saya ini sangat bingung harus stay dimana saat di Jogja. Karena dia tidak punya relasi dan belum pernah mengunjungi Jogja sebelumnya. Saya pun juga dengan senang hati menawarkan bantuan, karena itu juga berarti saya dapat kenalan baru dan ada teman ngobrol saat nanti proses interview. Seminggu kemudian, teman saya tiba di Jogja dan stay semalam di rumah saya untuk kemudian berbagi info dan cerita ngalor ngidul dan berangkat interview berbarengan.

  • User Interview


Tiba dimana pelaksanaan user interview pun dimulai. Waktu itu saya dan Jonathan tiba 30 menit sebelum waktu pelaksanaan interview dimulai. Setibanya di lokasi interview, yaitu di Sarihusada Jogja, kami bertemu dengan dua orang peserta lain. Kami pun saling berkenalan, mereka adala Beni dari Teknik Elektro ITS dan Jayson dari Teknik Elektro ITB. Kami mengobrol banyak sambil menunggu panggilan masuk ruang interview sekaligus menghilangkan rasa tegang sebelum interview. Dari 5 orang yang dipanggil, ternyata satu peserta tidak hadir tanpa pemberitahuan (lumayan lah, mengurangi saingan, haha). Kemudian tiba giliran saya dipanggil masuk ke ruang interview. Saya mendapat giliran kedua setelah Jonathan, saat perjalanan ke ruang interview, saya bertanya kepada Mbak Kanya (MT HR 2016 yang ditugaskan untuk mendampingi peserta interview), berapa orang total yang lolos sampai tahap user interview dan dimana saja lokasi pelaksanaan interview user untuk MT Industrial ini. Mbak Kanya menyampaikan bahwa, selain di Jogja, interview user juga dilaksanakan di plant Nutricia Ciracas dan juga masih ada MT Industrial untuk CBU Aqua. Oh iya, sebagai informasi. Jadi Danone Indonesia sendiri dibagi menjadi tiga Country Business Unit (CBU) dan satu Country Business Support (CBS) yang berisikan support function seperti Information System, Finance, HR dan Corporate Communication. CBU terdiri dari divisi Early Life Nutrition (ELN), Waters (Aqua & VIT), dan Medical (Nutrical Medical Nutrition/NMN). CBU ELN sendiri terdiri dari 4 plant/pabrik, Nutricia di Ciracas Jakarta, Sarihusada di Jogja dan Prambanan Klaten serta Sugizindo di Sentul, Bogor. Untuk NMN, tahun ini masih belum ada MT yang dibutuhkan, sehingga proses seleksi MT hanya ada di CBU ELN dan Aqua serta CBS. Khusus untuk Aqua, seleksi MT Industrial mereka memiliki proses yang berbeda, dimana mereka ada semacam proses pra-MT yang disebut program Link and Match, dimana para kandidat akan diseleksi dahulu untuk menjalani semacam magang di plant Aqua selama 4 bulan untuk kemudian di-review. Jika lolos, mereka berhak melanjutkan menjadi MT Star. Jadi semua peserta interview MT Industrial yang dipanggil kali ini semua akan diplot untuk CBU ELN. Oke kembali ke inti, setelah sampai di depan ruang interview saya pun mengetuk pintu untuk kemudian dipersilahkan masuk. Di dalam ruang interview, sudah ada dua orang interviewer yang berhadapan dengan kita. Yang pertama ada Bapak Joko Yulianto, Plant Manager Sarihusada Jogja dan Bapak Arif Sosiawan, Manufacturing Performance Manager Danone ELN Indonesia. Interview dilakukan dalam bahasa Inggris, dimulai sejak perkenalan. Pertanyaannya masih seputar diri kita namun sudah digali lebih dalam dibanding interview HR dengan beberapa pertanyaan teknis yang berkaitan dengan background kita semasa kuliah. Mungkin karena ini interview user, yang berarti mereka adalah atasan kita langsung selama bekerja, maka mereka harus benar-benar memastikan bahwa kita memiliki kriteria yang cocok dan benar-benar mereka cari. Untunglah untuk interview kali ini, saya sudah melakukan persiapan lebih matang sejak jauh-jauh hari. Tidak ingin kejadian saat interview HR terulang, saya mempersiapkan semuanya dengan sebaik mungkin. Saya mempelajari overview mengenai company profile Danone dan Sarihusada. Saya pun mempersiapkan ‘senjata pamungkas’ berupa miniatur keyboard yang saya buat dari karton sebagai interview user. Saya juga mencetak hasil tulisan saya saat menjadi content writer di sebuah digital agency sebagai contoh pekerjaan saya. Dan bahkan saya mempersiapkan sulap saat saya menembak pacar saya lengkap dengan ceritanya untuk saya paparkan di depan interviewer. Mengapa saya sampai melakukan hal seperti itu? Begini, saya punya pemikiran bahwa perusahaan FMCG multinasional sekaliber Danone pasti mencari talenta terbaik dari kandidat yang ada. Dan agar kita bisa mencuri ‘spotlight’ itu, tentu kita tidak bisa hanya mempersiapkan diri seadanya. Karena saya percaya, orang sukses bukanlah orang yang paling pandai atau paling terbaik di antara yang lain, namun orang yang sukses adalah orang yang bisa mengenail karakter dirinya dengan baik dan mengeluarkan setiap potensi kemampuan dirinya secara maksimal. Dengan kata lain, orang tersebut harus ‘berbeda dari yang lain’ dalam konteks positif. Dan agar bisa mencapainya, maka saya harus bisa memberikan perbedaan mulai dari proses interview. Saya mencoba mengeluarkan ide kreatif di kepala saya yang bisa menunjang proses interview dan menarik atensi para interviewer. Semua properti yang saya keluarkan ternyata cukup ampuh menarik perhatian para interviewer, terlihat antusiasme mereka saat mendengar presentasi saya. Semua bisa saya keluarkan, kecuali properti sulap kartu yang saya siapkan, karena saya belum menemukan momen yang pas. Interview berlangsung selama kurang lebih 30 menit. Para interviewer memberitahu bahwa hasil akan dikirimkan via email kurang lebih dua minggu. Keluar dari ruangan, entah kenapa saya merasa sangat puas dengan hasil interview saya. Mungkin ini adalah salah satu interview paling asyik yang pernah saya ikuti. Namun saya tetap tidak mau jumawa, saya tetap berdoa memohon diberikan hasil yang terbaik. 


  •  Interview Director 
 
Seminggu kemudian, tiba-tiba saya mendapat notifikasi email bahwa saya dinyatakan lolos ke untuk ke tahapan interview akhir, yaitu interview Director. Ternyata yang bertahan sampai tahap ini hanya dua orang, yaitu saya dan Jayson. Saya sempat merasa sedih karena Jonathan belum bisa lanjut, saya sangat berharap Jonathan bisa lolos karena kami sudah sangat akrab. Tapi mungkin sudah ada jalan rezeki pekerjaan yang lebih baik yang menantinya. Interview akan dilaksanakan seminggu lagi masih di tempat yang sama yaitu di Sarihusada Jogja. Saya pun berkabar dengan Jayson sekaligus menawarkan bantuan akomodasi selama di Jogja. Ternyata dia mengabari bahwa dia minta untuk di-reschedule mundur jadwal interviewnya karena berhalangan. Jadi dia tidak di-interview di Jogja bersama saya namun di-interview seminggu kemudian di plant Nutiricia di Ciracas Jakarta. Itu artinya saya datang sendirian saat proses interview Director. Untuk interview kali ini, saya coba mendalami lagi materi yang saya pelajari dan mencoba menganalisis apa saja yang masih kurang saat interview user kemarin, dengan harapan saya bisa lebih siap dan lebih baik menghadap interview kali ini. Saya pun masih membawa ulang properti saya saat interview sebelumnya dan saya berjanji bahwa kali ini trik sulap kartu harus saya keluarkan bagaimanapun keadaanya. Saya tidak mau kesempatan emas yang sudah selangkah di depan mata hilang hanya karena kesalahan yang saya buat. Akhirnya tiba juga saat hari-H interview. Waktu itu yang meng-interview saya adalah Bapak Delta Deritawan. Pak Delta ini adalah Manufacturing Director Danone ELN Indonesia. Artinya, proses produksi di 4 plant Nutricia, Sarihusada dan Sugizindo berada di bawah komando Pak Delta ini. Ini adalah pertama kalinya saya di-interview oleh user dengan jabatan setinggi ini. Dan bagaimanapun, auranya berbeda jauh dari interview lain yang sudah saya jalani sebelumnya. Interview dilakukan dalam bahasa Inggris. Dan sekalipun pertanyaan yang diajukan tidak terlalu berbeda dengan saat interview user, namun entah kenapa saya merasa seperti ada pressure yang begitu besar meskipun Pak Delta hanya berbicara dan bertanya dengan santai. Entah karena aura beliau yang begitu luar biasa, suasana menjadi begitu tegang buat saya. Entah kenapa pertanyaan yang harusnya bisa saya jawab dengan lancar menjadi agak terbata-bata saat saya mengutarakannya. Ya mungkin beda level interview, berbeda pula nuansanya. Namun asiknya di interview kali ini, interview berjalan secara dua arah. Selain Pak Delta yang bertanya, beliau juga menyampaikan nasihat dan saran yang benar-benar membuka sudut pandang dan pengetahuan baru bagi saya. Saya masih ingat betul beliau bertanya seperti ini kepada saya, “Wayah, apa planning karirmu untuk 5 tahun ke depan? Saya ingin tahu”. Saya pun menjelaskan panjang lebar yang intinya 5 tahun mendatang saya ingin bisa meraih posisi director (setelah saya pikir-pikir, bodoh juga waktu itu saya membuat plan seperti ini). Pak Delta pun tersenyum geli dan merespon apa yang saya ucapkan, “Kamu pikir kamu bisa semudah itu mencapai posisi Director dalam waktu 5 tahun? Itu sangat impossible. Begini ya, kita bekerja jangan hanya terpatok target untuk mencapai jabatan tertentu, itu hanyalah sebuah struktur posisi. Yang terpenting adalah, bagaimana progres kalian bekerja. Bagaimana di tahun-tahun ke depan, kalian sudah memiliki mindset seorang manager atau seorang director dengan cepat. Jika sudah demikian, percayalah, posisi manager, director atau bahkan CEO akan datang dengan sendirinya tanpa kalian cari. Dan kamu harus tahu, bahwa menjadi Director berarti saya adalah orang yang berdiri paling akhir jika suatu saat plant kita mengalami guncangan, jadi ini semua bukan tentang posisi, tapi tentang bagaimana kalian bersikap”. Luar biasa! Saat itu entah kenapa saya mata saya benar-benar terbuka dan saya mendapatkan perspektif baru mengenai bagaimana bekerja itu seharusnya. Benar-benar sebuah pengalaman interview yang tak terlupakan, wajar jika Pak Delta ini dipercaya sebagai Director karena memang beliau memiliki pengalaman yang luar biasa. Interview pun diakhiri setelah kurang lebih satu jam berjalan. Saya berpamitan dan berterima kasih sebesar-besarnya atas petuah yang beliau berikan, benar-benar sebuah learning yang mungkin tidak bisa saya dapatkan di bangku kuliah. Entah kenapa kendati banyak pertanyaan yang saya jawab kurang lancar, namun saya merasakan senang yang luar biasa karena saya banyak sekali mendapatkan pengetahuan dan perspektif baru dari Pak Delta.

  • Medical Check Up (MCU) & Offering

Seminggu kemudian setelah tahapan final interview, saya mendapatkan email dari pihak Danone bahwa saya dinyatakan lolos menuju ke tahapan MCU. Namu sebelum saya diberikan jadwal MCU, saya diberikan draft kontrak via pdf email yang harus dipelajari dulu. Draft ini bukan draft kontrak asli, hanya untuk dipelajari dan tidak perlu ditandatangani. Jika setuju, maka kita bisa melanjutkan ke tahapan MCU namun jika tidak, kita tidak berhak melanjutkan ke tahapan MCU. Offering Letter yang sebenarnya akan dikirimkan via email apabila kita lolos tahapan MCU. Setelah saya pelajari dan berdiskusi dengan orang tua, akhirnya saya menyetujui offering tersebut dan membalas email dari Danone bahwa saya siap untuk mengikuti MCU dari Danone. Beberapa hari kemudian saya ditelpon orang bagian HR bernama Aldi Kristanto atau biasa dipanggil Kris (yang lucunya Kris ini kemudian menjadi MT Sales Aqua di angkatan saya, dulunya dia adalah karyawan kontrak di bagian employee branding Danone, haha). Kris menanyakan domisili saya saat ini dan waktu kosong saya untuk meng-arrange jadwal MCU. Waktu itu saya ditelpon hari Senin dan saya minta waktu untuk MCU hari Kamis yang bertempat di Prodia Bintaran Jogja. Kenapa saya memilih jeda dua hari? Sebenarnya bukan apa-apa, karena sebelum MCU saya merasa pola makan saya tidak terartur, jadi saya butuh waktu untuk ‘menormalkan’ kondisi badan saya. Tadinya saya mau minta seminggu lagi tapi kok saya pikir-pikir keterlaluan juga mundurnya kalau seminggu lagi haha. Di jeda waktu dua hari ini saya maksimalkan untuk detoks kecil-kecilan dan olahraga. Saya perbanyak makan sayur, buah dan minum air putih. Berhubung kondisi badan saya yang cukup subur dan pengalaman kegagalan saya di Pramita saat tes PLN, maka saya benar-benar melakukan persiapan ekstra untuk menghadapi MCU kali ini. Untuk tes MCU sendiri ada banyak hal yang di tes. Seperti ambil darah, tes fisik (mata, THT, berat dan tinggi badan), rekam jantung, dan yang paling unik adalah tes feses dan urine untuk melihat apakah tubuh kita menjadi carrier bakteri patogen. Karena menjadi seorang MT Industrial mengharuskan kita masuk ke ruangan produksi High Care Area yang benar-benar harus bebas kontaminasi mikrobiologis. Alhamdulillah, proses MCU berjalan dengan lancar. Walaupun hasilnya masih harus menunggu email dari pihak Danone. Biasanya akan ada pembacaan hasil MCU dari Dokter oleh pihak Danone, namun entah kenapa saya tidak melewati proses tersebut karena seminggu kemudian, saya mendapat email bahwa saya lolos tahap MCU dan langsung dikirimi draft offering letter asli oleh Danone, yang harus saya tandatangani dan di-scan ulang kemudian dikirim via email. Saya senang bukan kepalang, secara de facto saya sudah resmi menjadi MT Star Danone, walaupun secar de yure saya masih harus menunggu sampai hari pertama masuk kerja. Tidak masalah, yang penting saya bisa bereuforia terlebih dahulu sebelum saya benar-benar masuk kerja nanti. Hahaha. Namun saya sedikit sedih karena ternyata kawan saya Jayson memutuskan untuk tidak mengambil offering dari pihak Danone karena sudah mendapat offering dari perusahaan lain. Ya mungkin jalan rezekinya ada yang lebih baik selain di Danone. Good luck bro!

  • Induction day and life as MT Star Danone 2017

Dua minggu setelah proses offering. Saya mendapatkan email invitation Danone MT Star Induction yang akan diadakan selama 10 hari di kantor pusat Danone di Cyber 2 Tower Kuningan, Jakarta Selatan dan outbond di Highland Resort Park, Bogor. Begitu mendapatkan email ini saya senang bukan kepalang. Akhirnya impian saya benar-benar menjadi kenyataan. Walaupun saya tahu, perjalanan menjadi seorang MT Star pasti akan jauh lebih berat daripada saat mendaftar, tapi semoga kebahagiaan saya ini bisa menjadi pemicu saya untuk bisa bekerja lebih giat. Proses induction dan outbond selama 10 hari yang berlangsung di Head Office Danone dan Highland Park Resort Bogor benar-benar sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Saya banyak bertemu kawan baru yang begitu luar biasa. Beruntungnya saya, MT Star tahun ini banyak yang berasal dari almamater yang sama dengan saya, yaitu UGM dan banyak juga yang asli Jawa, jadi proses adaptasi saya relatif tidak terlalu sulit dan saya benar-benar merasa seperti mendapat keluarga baru yang sangat hangat. Awalnya saya pikir orang-orang menjadi MT adalah orang-orang yang super pintar dan serius. Namun ternyata saya salah, mereka semua memang super pintar, namun hampir semua dari kami hobinya adalah bercanda satu sama lain, jadi selama induction 10 hari benar-benar terasa sangat fun bagi saya.

Sebenarnya setelah tahapan ini, masih ada tahapan lain yaitu Assesment Center yang merupakan tes mengenai sejauh mana kesesuaian kita dengan leadership style di Danone. Dan di tahapan ini, biasanya ada pihak Danone Global yang turut serta. Namun karena ini masih pilot project, jadi tidak semua peserta mengikuti tahap ini termasuk saya, hanya beberapa peserta saja. Namun bisa saja mulai tahun-tahun berikutnya, tahapan ini akan dimasukkan ke dalam rangkaian proses seleksi.
Program MT di Danone ini sendiri berlangsung selama setahun dengan diadakan presentasi review per empat bulan. Nah, di tiap review ini akan menentukan apakah kita berhak melanjutkan di program ini atau tidak, sampai nanti di review yang terakhir ini akan diputuskan apakah kita berhak untuk menjadi karyawan tetap atau tidak. Selama program MT ini berlangsung, akan ada Mentor dan Coach yang akan mendampingi kita. Biasanya dari Director dan user atau atasan kita langsung. Selain itu, akan ada buddy yang juga bisa mendampingi kita, yang biasanya merupakan MT dari angkatan sebelumnya. Setelah lulus, kita akan menjalani proses graduation dimana kita juga menggunakan toga seperti layaknya wisuda. Pokoknya benar-benar menyenangkan!

MT Industrial ELN sendiri terdiri dari 6 orang termasuk saya. Untuk program MT Industrial ini sendiri, tahun ini mengalami perbedaan dari tahun-tahun sebelumnya, dimana tahun-tahun sebelumnya, para MT sudah langsung ditempatkan di sebuah plant untuk kemudian mengerjakan suatu improvement project untuk menilai hasil kinerja mereka. Mulai tahun ini, kami berenam akan dibagi menjadi dua tim, yakni East Team dan West Team dengan masing-masing tim terdiri dari 3 orang. Untuk 8 bulan pertama, kami akan dirotasi ke 4 plant milik Danone ELN. Untuk West Team, di dua bulan awal mereka akan ditempatkan di plant Nutricia, Ciracas dan 2 bulan di plant Sugizindo, Sentul. Untuk East Team, 2 bulan di plant Sarihusada Jogja dan 2 bulan di plant Sarihusada Prambanan. Setelah 4 bulan, akan ditukar penempatannya antara West Team dan East Team agar kami bisa mendapatkan big picture mengenai proses di keempat pabrik. Setelah selesai 8 bulan rotasi, kami kemudian akan ditempatkan sesuai dengan project yang kita kerjakan dan kebutuhan pabrik.

Kendati program MT di Danone ini sangat berat, namun sampai saat ini saya merasa sangat enjoy bekerja disini. Karena lingkungan kerja yang benar-benar nyaman, orang-orangnya yang ramah dan terbuka serta kita bisa dengan mudah mendapat support apabila kita memiliki suatu ide yang ingin kita diskusikan, sehingga proses belajar dan pelaksanaan project bisa lebih optimal. Kendati memang waktunya cukup pendek, namun faktor-faktor tersebut membuat proses belajar menjadi lebih semangat. Sampai tulisan ini ditulis, saya sedang di-assign di plant Sarihusada Prambanan dan sedang memasuki bulan keempat, yang artinya waktu untuk presentasi review pertama sudah dekat, hahaha!

Ya demikianlah kisah perjalanan saya menjadi seorang MT Star Danone. Jika anda juga tertarik bergabung, maka anda bisa terus keep update di website Danone karena biasanya di pertengahan tahun sekitar bulan Juli-Agustus, program rekrutmen MT Star mulai dibuka, jadi anda bisa mempersiapkan dari sekarang. Oh iya, saya juga punya referensi pengalaman rekrutmen milik beberapa teman MT Star seangkatan saya yang menurut saya lebih detail dan lebih bagus, yaitu Rendy Bayu Aji, Alvin Yurisman dan Elsa Safira Kinanti. Bahkan dari blog milik Rendy inilah saya bisa lancar menghadapi proses seleksi, terima kasih Bung Rendy, haha! Dan jika ada pertanyaan lebih lanjut mengenai program ini, anda bisa meninggalkan komentar atau bisa kontak saya lebih lanjut via email di wayaharnaandika@gmail.com, saya akan dengan senang hati berdiskusi dengan teman-teman sekalian. Sekian dan terima kasih, semoga kesuksesan senantiasa menyertai kita semua! Aamiin!

P.S : Berikut saya lampirkan foto-foto selama saya bergabung di Danone. So lovable moment! Sekali-kali narsis dikit gapapa ya, haha!

Induction Day #1 : Di depan spot wajib Danone Academy Indonesia


Induction Day #1 : (After Performance) Danone MT Star 2017 Induction Day!

Induction Day #2 : Business Model Presentation


Induction Day #3 : Factory Visit at Plant Aqua Citeureup, Bogor

Induction Day #4 : CSR Visit at RBS Aqua Tangerang

Induction Day #5 : Danopoly Games!!!

Induction Day #6 : Fun Outbond at Highland Park Resort, Bogor

Induction Day #7 : Fun Presentation Skill Training

Induction Day #8 : We Are SpongeBeb....Elac Team

Induction Day #8 : Fun Outbond with Mas Aldi Ramadhika

Induction Day #LastDay : SpongeBeb....elac with Our Beloved Trainer

Induction Day #LastDay : We Are Danone MT Star 2017 Family!


Danone MT Star 2017 Industrial ELN Team in Annual Manufacturing Meeting at Lombok

Life at Plant : Megacon Manufacturing Meeting 2017 at Hotel Sahid Jaya Jogja

Life at Plant : Fun Aerobic with Sarihusada Jogja Factory Family

Life at Plant : Safety 2000 DWA Celebration Sarihusada Jogja at Hotel Grand Mercure Jogja

Pengalaman Jobseeker #1 : Pengalaman Rekrutmen


Halo semuanya, apa kabar? Selamat berjumpa kembali, setelah sekian lama blog ini saya anggurkan dan berhubung kesoksibukan saya yang begitu menyiksa (halah), akhirnya sekarang saya diberi kesempatan untuk bisa menulis lagi. Di kesempatan kali ini, saya ingin membagi sedikit informasi mengenai proses seleksi masuk kerja yang pernah saya ikuti. Ya berhubung saya sekarang (dengan bangga memproklamirkan) sudah bekerja (wuuus) dan saya dulu pernah berjanji pada diri saya sendiri apabila diterima bekerja saya ingin suatu saat berbagi pengalaman mengenai suka dukanya menjadi seorang hardcore jobseeker, lebay ya? Hehe. Disini saya mencoa menuliskan daftar seluruh perusahaan yang pernah saya lamar dan tahapan seleksinya serunut mungkin, tentunya dengan keterbatasan memori. Mungkin ada beberapa detail yang terlupakan, namun disini saya mencoba untuk berusaha menuliskan semaksimal mungkin. Apabila ada yang ingin dikoreksi atau ada pertanyaan, monggo silahkan saja tinggalkan komentar anda di kolom comment. Oke langsung saja kita mulai! 

  •  PT. Astra International Tbk
Untuk seleksi perusahaan yang saya ikuti pertama kali adalah PT Astra Internasional Tbk atau biasa disingkat AI. Waktu itu kalau tidak salah, proses seleksi diadakan sekitar bulan Maret/April 2014 dan saya memperoleh info lowongan ini dari salah satu kawan saya. Waktu itu lowongan yang dibuka adalah Astra Graduate Program (AGP). AGP ini adalah posisi untuk menjadi Management Trainee (MT) di AI. Waktu itu posisi saya belum lulus kuliah (maklum, saya termasuk tipe mahasiswa pemalas, hehe) dan menjadi seorang MT di sebuah perusahaan adalah impian saya. Karena waktu itu saya sudah banyak membaca dan mendengar mengenai benefit menjadi seorang MT, terutama soal gaji. Jujur, dulu saya masih seorang idealis yang hanya melihat sebuah pekerjaan dari faktor gaji. Dulu saya selalu mengasumsikan bahwa menjadi seorang MT pastilah bergaji tinggi apalagi di perusahaan sekaliber Astra, tanpa pernah mencoba menggali lebih dalam mengenai plus minusnya. Didorong oleh dua faktor kuat ini, saya pun tanpa pikir panjang langsung apply tanpa memperdulikan fakta bahwa saya masih belum menyelesaikan studi saya, karena waktu itu saya sering mendengar info banyak perusahaan yang bersedia menunggu sampai kita menyelesaikan studi. Saya pun langsung mengirim Curriculum Vitae (CV) ke alamat email yang tertera. Beberapa hari kemudian saya mendapatkan email dari HR AI yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi adminsitrasi dan diundang untuk mengikuti psikotes tertulis yang berlokasi di Astra Honda Motor Jalan Magelang Yogyakarta. Waktu itu saya begitu excited, karena ini merupakan pengalaman pertama kali saya mengikuti seleksi kerja dan langsung mendapatkan panggilan dari AI. Namun karena saking excited-nya, saya malah tidak mempersiapkan apapun. Bermodal kepercayaan diri yang berlebih saya pun berangkat mengikuti tes. Tes diadakan siang hari jam 13.00, jumlah peserta pada jam itu kalau tidak salah ada sekitar 100 orang yang dibagi ke dalam beberapa batch dalam dua hari. Jadi jika ditotal mungkin ada sekitar 400-500 orang yang lolos ke tahapan psikotes. Soal psikotesnya saya lupa detailnya, namun jika tidak salah ada tes persamaan kata, perlawanan kata, mencocokkan gambar, refleksi, pengelompokkan kata, deret, dan beberapa matematika dasar dalam bentuk pilihan ganda. Saya yakin kawan-kawan sekalian pasti sudah familiar dan paham dengan model tes seperti ini. Tes ini berlangsung selama kurang lebih 2-3 jam. Dan hasil lolos atau tidaknya diumumkan kurang lebih 2 jam setelah tes selesai berlangsung. Apabila lolos, akan lanjut ke tahapan Focused Group Discussion (FGD) pada hari berikutnya. Setelah hasil pengumuman keluar, saya pun dinyatakan lolos ke tahapan selanjutnya. Waktu itu mungkin ada sekitar 50% peserta yang tidak lolos, jadi saya termasuk sangat beruntung. Dan saat waktu FGD tiba, jujur saya waktu itu masih bingung harus bagaimana, karena ini benar-benar pengalaman pertama saya mengikuti tes FGD. Hanya bermodal membaca kisi-kisi pengalaman orang-orang yang pernah mengikuti seleksi dari internet, saya pun memantapkan diri untuk mengikuti prosesnya. Waktu itu kesimpulan yang saya ambil dari kisi-kisi yang saya baca adalah ‘jangan terlalu dominan namun juga jangan terlalu pasif’, tanpa mencoba menelaah lebih jauh mengenai maksud kalimat tersebut. Tahapan FGD pun dimulai, waktu itu 1 kelompok terdiri dari 6 orang peserta dengan didampingi oleh tim HR dari AI sebagai moderator. Waktu itu entah kenapa perasaan saya tidak enak, saya merasa pesimis di FGD ini karena saya sama sekali minim persiapan. Dan ketakutan itu terbukti, dari perkenalan anggota saja saya sudah ‘kalah’ duluan. Rata-rata anggota kelompok saya sudah menamatkan studi S2nya dan rata-rata lulusan Universitas Terkemuka di-Indonesia. Saya merasa sangat minder karena meskipun berkuliah di UGM saya hanya mengambil jurusan Teknologi Industri Pertanian yang mungkin masih sangat asing di telinga orang-orang. Dan saya makin merasa pesimis setelah membaca topik yang akan didiskusikan. Waktu itu topiknya kalua tidak salah mengenai proyek pembangkit listrik menggunakan panel surya. Kita disuguhi sebuah case dengan beberapa alternatif solusi yang bisa kita ambil. Kita diminta membuat urutan prioritas solusi sesuai preferensi kita kemudian didiskusikan untuk memperoleh keputusan kelompok. Apes nian bagi saya yang sudah sangat asing dengan topik diskusi ditambah lagi dengan kualitas peserta lain yang sangat mengagumkan, bisa ditebak saya hanya berakhir sebagai ‘penonton’ dalam diskusi tersebut. Diskusi pun selesai dengan saya yang hanya mengutarakan satu pendapat (itu pun ngasal, wkwk). Dari tim HR AI menginformasikan bahwa hasil lolos atau tidaknya kita akan dikirimkan via email kurang lebih seminggu ke depan. Dan bisa ditebak, saya gagal lolos menuju ke tahapan selanjutnya yaitu (kalau tidak salah) interview HR. Waktu itu saya sangat syok karena ini merupakan pertama kali saya merasakan ditolak oleh sebuah perusahaan. Saya waktu itu lebih sedih lagi karena pihak AI memiliki kebijakan bahwa jika kita pernah mengikuti rekrutmen dan gagal dalam tahapan tes manapun, kita baru boleh mendaftar lagi di tahun berikutnya. Dan di tahun berikutnya saya juga mendaftar lagi di posisi yang sama, yang mana saya lebih parah lagi : gagal di tahap pertama psikotes, haha! 

  •  PT. Paragon Technology and Innovation (Wardah Cosmetics)
Perusahaan kedua yang saya ikuti adalah PT Paragon Technology and Innovation (PTI), perusahaan kosmetik asal Indonesia yang sedang berkembang. Waktu itu saya masih asing mendengar nama PTI ini sendiri, namun dari beberapa informasi yang saya dengar, perusahaan ini menawarkan benefit yang cukup kompetitif. Waktu itu saya apply untuk posisi MT (saya lupa detail nama programnya). Saya waktu itu apply perusahaan ini via Jobfair ECC bulan Mei 2014 kalau tidak salah. Tahapan tes di PTI ini pertama kali adalah psikotes. Soalnya sendiri berupa pilihan ganda dengan jenis soal standar psikotes yang lazim dijumpai, tidak terlalu rumit dan saya yakin anda semua juga sudah familiar. Ada beberapa jenis tes seperti pencerminan, sinonim, antonim, tes deret, pola dll (maaf lagi-lagi saya lupa detailnya). Tes tahap pertama ini berlangsung kurang lebih 2 jam. Hasilnya langsung diumumkan dan yang lolos berhak untuk mengikuti tes Pauli keesokan harinya. Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk lanjut. Keesokan harinya, saya berangkat mengikuti tes Pauli. Untuk tes ini, meski belum pernah mencoba sebelumnya, namun saya tidak terlalu asing. Tes ini membutuhkan fokus dan kekuatan tangan ekstra prima karena selama kurang lebih satu jam, anda dituntut untuk menuliskan hasil penjumlahan dua bilangan secepat dan sebanyak mungkin. Saya sendiri tidak tahu sebenarnya seperti apa sistem penilaian dari tes ini, namun bagi saya yang terpenting adalah kerjakan sebanyak dan secepat mungkin anda bisa. Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan lolos ke tahapan selanjutnya. Tahapan selanjutnya adalah tahapan psikotes tahap 2. DI tahapan ini, tes yang dilakukan lebih detail lagi. Mengenai tes menggambar orang, menggambar pohon dan Wartegg Test. Selain itu ada tes kepribadian menggunakan tes preferensi dimana kita diminta untuk memilih satu dari dua pilihan sikap yang paling mendekati diri kita. Kemudian kita juga diminta menuliskan esai mengenai siapa kita secara detail dan alasan-alasan kita untuk bekerja. Yang tersisa sampai tahap ini ada sekitar 40 orang. Daftar peserta yang lolos akan diinfokan melalui laman Facebook PTI sekaligus diinfokan via sms. Namun hingga detik saya menulis tulisan ini, saya belum juga mendapat kabar, hahaha! Entah saya yang tidak lolos atau memang tidak ada kabar, saya juga tidak tahu. Saya berkali-kali mengecek laman Facebook PTI namun tidak ada informasi apapun. 

  • Bank BRI
Untuk tes berikutnya yang saya ikuti adalah tes masuk BRI melalu jalur Program Pengembangan Staf (PPS). Jalur PPS ini merupakan program MT milik BRI, dimana PPS BRI sendiri dibagi menjadi tiga jalur yaitu PPS Umum, PPS Audit dan PPS IT. Waktu itu yang saya apply adalah posisi PPS Umum, karena di samping fungsinya yang mencakup fungsi perbankan secara general, posisi ini juga yang membuka lowongannya untuk semua jurusan, hehe. Waktu itu saya mengetahui info lowongan ini dari teman saya dimana waktu itu proses registrasinya adalah kita harus register/login ke website karir Bank BRI dan mengisi informasi data diri secara lengkap. Setelah proses pengisian selesai, kita akan mendapatkan nomor registrasi pendaftaran. Sekitar seminggu kemudian, saya mendapatkan sms dari Bank BRI bahwa nama-nama peserta yang lolos tahap seleksi administrasi sudah bisa dilihat di website Bank BRI. Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan ke tahapan selanjutnya. Tahapan selanjutnya merupakan tahapan interview awal. Waktu itu peserta yang lolos diundang ke Sentra Pendidikan (Sendik) BRI di selatan UII Jakal Jogja. Peserta dibagi ke dalam beberapa batch, 1 batch terdiri dari 5 orang yang akan di-interview secara bersamaan oleh interviewer dari pihak Bank BRI. Waktu itu sistemnya adalah interviewer mengajukan 4 poin pertanyaan seputar diri kita, mengenai profil dan pengalaman. Kemudian satu-persatu peserta menjawab poin tersebut secara singkat dan bergantian. Proses interview awal ini sangatlah singkat, paling seorang peserta hanya membutuhkan waktu kurang lebih 5 menit. Mungkin karena jumlah peserta yang masih banyak dan waktu yang terbatas, jadi mungkin si interviewer hanya ingin menilai sekilas mengenai bagaimana profil kita. Hasil lolos atau tidaknya peserta akan diinfokan via sms sekitar seminggu kemudian. Seminggu berikutnya, saya kembali mendapat sms bahwa nama-nama yang lolos sudah bisa dicek di website BRI. Alhamdulillah, lagi-lagi saya masih diberi kesempatan untuk lanjut ke tahapan selanjutnya yaitu Assesment Day. Tahapan selanjutnya yaitu Assesment Day ini terdiri dari beberapa tahapan tes yang dipadatkan dalam satu hari dan menggunakan sistem gugur. Tes yang pertama adalah psikotes. Psikotes ini meliputi tes sinonim, antonim, deret, matematika dasar tes pauli dan apalagi saya lupa hehe. Pada dasarnya tes ini cukup familiar kita jumpai di beberapa tes rekrutmen perusahaan dan saya yakin anda semua tidak akan terlalu menemui kendala yang berat dalam tahapan ini. Waktu tes tahapan pertama ini sekitar 4 jam, dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang. Sembari istirahat makan siang, sambil menunggu panitia mengumumkan nama-nama yang lolos ke tahapan selanjutnya. Setelah waktu istirahat selesai, panitia kemudian menempelkan kertas yang bertuliskan nama-nama siapa saja yang berhak melanjutkan ke tahapan selanjutnya. Tahapan tes selanjutnya adalah tes TOEFL dan interview psikolog. Pada tahapan tes ini digabung menjadi satu dan tidak ada sistem gugur. Yang berhak untuk melanjutkan ke tahapan selanjutnya yaitu interview akhir. Tes TOEFL sendiri seperti tes TOEFL pada umumnya yang saya yakin anda semua pasti pernah mengerjakannya. Selesai mengerjakan tes TOEFL dengan waktu sekitar 2 jam, tahapan selanjutnya adalah interview psikolog. Sebelum masuk ke interview psikolog, kita diminta untuk mengisi form data diri. Mirip seperti saat registrasi online awal hanya saja mencakup aspek yang lebih detail mengenai pengalaman dan riwayat organisasi. Setelah itu kita diminta untuk menunggu panggilan untuk menjalani proses interview dengan psikolog. Interview psikolog ini sebenernya hampir sama persis seperti interview HR, mungkin karena jumlah peserta yang masih tersisa banyak, jadi mereka menggunakan vendor untuk melakukan proses interview ini. Poin apa saja yang ditanyakan dalam proses ini adalah mengenai profil diri kita secara detail, kesibukan, pengalaman, kelebihan dan kekurangan, serta momen-momen yang mempengaruhi hidup kita. Interview-nya sendiri berlangsung tidak terlalu lama, hanya sekitar 15-20 menit per peserta. Setelah proses interview ini selesai, kita diberitahu bahwa hasilnya akan diumumkan dalam kurun waktu sekitar satu bulan ke depan via website. Cukup lama memang, namun karena jumlah peserta yang masih tersisa ratusan saya cukup maklum, hehe. Sebulan berikutnya, saya mendapat sms bahwa daftar peserta yang lolos sudah dapat dilihat di website Bank BRI. Dan alhamdulillah, lagi-lagi saya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan ke tahap interview akhir. Jumlah orang yang lolos ke tahap ini ada sekitar 30 orang. Dalam hati saya berpikir, berarti cukup banyak peserta yang belum bisa melanjutkan ke tahapan selanjutnya. Memasuki hari di mana interview akhir dilaksanakan, saya berangkat ke Sendik BRI di Jogja untuk melakukan interview. Saya mempersiapkan diri selain dengan mempersiapkan presentasi diri saya yang baik juga belajar sekilas mengenai Bank BRI. Karena saya mendapat informasi bahwa yang meng-interview di tahapan akhir ini bisaanya adalah karyawan BRI yang sudah berada di jajaran top management. Tiba giliran saya dipanggil masuk ke ruang interview dan melakukan sesi interview. Dalam interview kali ini, kita ditanyai seputar profil, pengalaman dan aspek lain mengenai diri kita secara mendetail. Namun tidak hanya itu, banyak juga pertanyaan mengenai seputar perbankan secara general. Saya cukup gelagapan saat ditanyai mengenai perbankan karena saya belum menyiapkan hal tersebut dengan baik. Jadilah saya hanya mengarang bebas mengenai apa yang saya yang ketahui meskipun banyak sekali jawaban ngelantur yang salah, haha. Selesai interview, saya sudah pasrah apapun hasil yang saya terima. Karena saya merasa, meski secara garis besar saya mampu menjawab pertanyaan para interviewer, saya merasa saya kurang mantap di interview kali ini. Saya berpikir tidak masalah saya tidak lolos, toh kuliah juga belum lulus, hahaha. Sekitar 2 minggu kemudian, tiba-tiba saya mendapat informasi via website Bank BRI bahwa saya dinyatakan lolos ke tahapan medical check-up (MCU). Saya sangat bersyukur sekali, karena saya tidak menyangka interview saya yang berantakan bisa membawa saya lolos sampai ke tahapan final. Sebenarnya saya cukup deg-degan karena saya belum pernah melakuan MCU apapun sebelumya, jadi saya tidak tahu apa yang harus saya persiapkan. Ditambah lagi, postur tubuh saya sebenarnya kurang ideal (apalagi perut, haha). Sekitar beberapa hari sebelum MCU, saya hanya memperbanyak konsumsi sayur, buah dan air putih serta memperbanyak istirahat. Setibanya waktu MCU, saya bertemu juga dengan peserta lain yang total berjumlah 10 orang termasuk saya. Saya cukup terkejut, karena dari ratusan peserta yang mendaftar, ternyata hanya 10 yang diambil. Namun jumlah ini belum termasuk jumlah yang lolos rekrutmen di tempat lain. Saya merasa sangat bersyukur bisa sampai tahapan ini. MCU di Bank BRI kurang lebih sama seperti proses MCU di perusahaan lain pada umumnya. Bisaanya meliputi cek kadar gula darah, kolesterol, tes urine, rekam jantung, tes fisik (mata, THT, berat dan tinggi badan, gigi, dll), tekanan darah serta pemeriksaan dokter. Alhamdulillah, dua hari kemudian saya dinyatakan lolos tahap MCU dan berhak mengikuti tahapan offering dan tanda tangan kontrak serta program pendidikan PPS BRI yang diadakan di pusat pendidikan karir Bank BRI di Rawamangun, Jakarta seminggu kemudian. Namun, karena waktu itu posisi saya belum punya ijazah karena saya belum lulus (oh ya, program PPS BRI waktu itu mensyaratkan kontrak kerja selama 5 tahun dengan ijazah yang ditaham, serta dilarang menikah selama 2 tahun pertama), maka saya pun terpaksa memohon untuk meminta penundaan sampai saya lulus dan memiliki ijazah. Waktu itu dari pihak Bank BRI mengizinkan penundaan jadwal untuk disertakan dalam batch berikutnya atau proses rekrutmen setelah ini. Waktu itu jujur, saya menjadi sangat jumawa, saya merasa bangga karena saya merasa sudah ‘aman’, belum lulus kuliah tapi sudah mendapat pekerjaan. Dan ternyata memang benar kata orang tua saya, orang yang sombong itu balasannya akan datang cepat sekali. Ternyata proses pengerjaan skripsi saya tidak bisa semulus yang saya pikirkan. Sampai sekitar 3 kali saya ditelpon oleh Bank BRI namun saya belum juga menyelesaikan studi saya. Bahkan parahnya, saya baru menyelesaikan studi saya setahun sejak saya resmi diterima menjadi PPS BRI. Jauh sebelum proses wisuda saya sudah beberapa kali menghubungi Bank BRI namun jawaban dari mereka saya diminta untuk menunggu panggilan lagi. Namun ternyata karena tidak kunjung juga ada panggilan, saya pun meminta kepastian kapan kira-kira saya bisa mengikuti program di batch selanjutnya, namun mereka juga tidak bisa memberikan kepastian kapan waktu pastinya saya bisa bergabung lagi di program ini. Hari-hari setelah lulus pun hanya saya habiskan untuk menunggu telepon dari Bank BRI. Dan setelah saya pikirkan matang-matang, karena tidak kunjung mendapatkan panggilan dari Bank BRI, saya menghubungi mereka apakah saya bisa sambil menunggu sambil mencari pekerjaan di tempat lain. Dan mereka pun mempersilahkan saya untuk mencari di tempat lain karena memang mereka juga tidak bisa memberikan kepastian kapan lagi akan ada batch selanjutnya untuk program ini. Dalam hati kecil saya sebenarnya cukup kecewa, walaupun Bank BRI sebenarnya bukan pekerjaan impian saya, namun prospek kerja di sini sebenarnya sangat menjanjikan. Bekerja di salah satu Bank BUMN terbesar, apalagi menjadi MT tentu memberikan sebuah ‘rasa aman’ bagi kita, orang tua, dan mungkin calon mertua kita kelak. Karena tidak menutup mata, untuk para orang tua, tentu melihat anaknya bisa bekerja di BUMN adalah sebuah kelegaan tersendiri. Waktu itu yang sangat kecewa tentu adalah orang tua saya. Namun apa boleh buat, semua ini karena salah saya yang terlalu jumawa karena merasa sudah ‘aman’ mendapatkan pekerjaan bahkan sebelum lulus. Ya ini pelajara bagi saya, bahwa sombong itu membahayakan diri kita sendiri. Karena balasannya begitu besar dan cepat. Semenjak kejadian ini, saya sempat merasa malas untuk mengikuti rekrutmen lagi karena masih dirundung kesedihan. Tapi saya harus move on, saya harus segera mungkin mendapatkan pekerjaan untuk masa depan saya. Dan sampai sekarang, saya juga tidak pernah dikontak lagi oleh Bank BRI, mungkin mereka sudah tidak menganggap saya, hahaha! 

  • PT Coca Cola Amatil Indonesia (CCAI)
Setelah kejadian kegagalan di Bank BRI, saya akhirnya move on dan mulai lagi mengirimkan aplikasi lamaran ke banyak perusahaan. Saya bahkan sampai membabi buta dimana ada lowongan yang sesuai dengan jurusan saya, apapun itu posisinya, saya pasti lamar. Sikap saya yang spartan ini didasari pada desakan karena malu jadi pengangguran, hehe. Karena dalam proses jobseeking, saya punya prinsip yaitu lamar lowongan yang sesuai sebanyak mungkin, baru nanti diseleksi setelah kita diterima. Kalo berhasil alhamdulillah, kalau gagal itung-itung bisa dapat pengalaman alias try out gratis hehe. Dan panggilan yang datang pertama kali waktu adalah dari PT Coca Cola Amatil Indonesia (CCAI). Ada cerita unik saat saya mengikuti proses seleksi di CCAI ini. Waktu itu, melalui webnya, CCAI sedang membuka lowongan posisi Graduate Trainee Program (GTP) atau MT. Waktu proses administrasi pendaftarannya adalah kita mendownload form registrasi yang harus kita lengkapi kemudian kita kirimkan ke alamat rekrutmen yang dituju melalui email. Waktu itu form-nya berisikan mengenai profil lengkap kita serta pertanyaan-pertanyaan seputar pengalaman kita. Form ini harus ditulis dalam bahasa Inggris dengan ada cukup banyak poin-poin pertanyaan yang harus kita jawab. Waktu itu saya kurang lebih menghabiskan sampai 5 halaman Ms. Word, lumayan membingunkan juga karena ini baru pertama kalinya saya melakoni seleksi dengan model seperti ini. Waktu proses menunggu hasil sejak kita mengirimkan form tersebut cukup memakan waktu lama. Saking lamanya, saya sampai sudah lupa pernah mendaftar di CCAI haha. Sampai tiba-tiba, beberapa bulan setelahnya, di suatu sore, saya ditelpon oleh HRD dari CCAI yang mengundang saya untuk mengikuti proses interview di plant CCAI di Ungaran, Semarang. Saya waktu itu sebenarnya agak bingung, baru tahapan awal kok sudah langsung interview? Apa memang tahap awalnya adalah interview? Tapi jika interview awal, kenapa proses informasinya langsung via telepon personal dimana biasanya penginfoan via telepon personal dilakukan jika proses sudah sampai pada tahap akhir atau ketika peserta sudah tinggal sedikit. Pada awalnya, saya ragu apakah ini penipuan. Saya pun sampai mengecek dan menanyakan ke pihak customer care CCAI pusat namun ternyata nomor telepon yang digunakan untuk menelepon saya memang benar milik CCAI. Karena sudah mendapat validasi, saya pun akhirnya berangkat mengikuti proses interview. Setibanya di hari saat proses interview, waktu itu ada sekitar 7 orang. Saya sempat heran juga, kenapa sedikit sekali? Atau memang sudah dibagi ke dalam beberapa batch? Kemudian saat itu, ternyata saya bertemu dengan kenalan saya, teman ospek fakultas semasa kuliah, yaitu Lyra. Saya pun kemudia bertanya kepada Lyra mengenai proses seleksi di CCAI ini. Sampai kemudian penjelasan Lyra mengejutkan saya bahwa ini merupakan tahap interview user yang berarti sudah tahapan akhir. Karena sebelumnya, dia sudah melewati tahapan tes tertulis, FGD dan interview HR. Saya makin terkejut lagi, kok bisa saya tidak mengikuti ketiga tahapan tersebut namun tiba-tiba saja sudah langsung dipanggil untuk interview user? Apa dari pihak CCAI ada kesalahan data sehingga mungkin harusnya bukan saya yang dipanggil? Namun ternyata bukan, ada satu lagi peserta yang juga langsung dipanggil untuk interview user tanpa mengikuti proses sebelumnya seperti saya, saya pun makin bingung. Kemudian saya memutuskan untuk menanyakan hal ini kepada interviewer saya nanti. Bukan apa-apa, saya hanya khawatir kalau sampai ternyata ini adalah kesalahan pemanggilan, kasihan peserta yang seharusnya saya ‘gantikan’. Kemudian tiba giliran saya masuk ke ruang interview. Saya di-interview oleh dua orang, yang satu adalah HR Manager Plant Ungaran dan yang satunya lagi adalah Plant Manager CCAI Ungaran. Tadinya saya mau langsung menanyakan hal ini di awal, namun melihat kesempatannya belum ada dan saya juga melihat CV serta form saya ada di atas meja interviewer saya berpikir mungkin memang ini bukan kesalahan, jadi saya putuskan untuk menanyakannya setelah selesai interview nanti. Proses interview dilakukan dalam bahasa Inggris dengan pertanyaan seputar informasi diri dan pengalaman serta masalah-masalah apa saja yang pernah kita alami dengan beberapa tambahan pertanyaan mengenai seputar keilmuan semasa kuliah. Proses interview berjalan kurang lebih 30 menit. Kemudian di akhir interview saya diberi kesempatan untuk bertanya balik. Saya pun menggunakan kesempatan ini untuk mengklarifikasi mengenai pemanggilan saya ini apakah benar seperti ini atau ada sebuah kesalahan, mengingat saya tidak mengikuti proses-proses sebelumnya. Namun kata HR Managernya, tidak ada kesalahan dalam proses ini dan memang saya benar-benar dipanggil. Beliau mengatakan, bahwa memang ada beberapa kandidat yang langsung mendapat shortcut karena kualifikasinya dan proses interview ini tadi sebenarnya juga menggunakan sistem untuk menilai beberapa aspek yang juga dilihat ketika tes tertulis maupun FGD. Saya sempat terkejut dan agak sedikit ‘bangga’ juga, karena berarti saya cukup qualified untuk mendapat ‘jalan pintas’ ini, hehe. Kemudian beliau juga menyampaikan pada saya bahwa hasilnya akan diinfokan kurang lebih dalam seminggu ke depan via telepon. Jika lolos, maka kita akan lanjut ke tahpan MCU kemudian tahapan offering dan siap untuk bekerja kira-kira dalam 2 minggu ke depan, hmm kilat juga pikir saya. Seminggu kemudian, waktu itu hari Kamis siang, saya mendapat telepon dari CCAI yang menginfokan bahwa saya dinyatakan lolos ke tahapan MCU dan diminta untuk datang proses MCU pada hari jumat di Lab. Prima Medika di Solo. Saya waktu itu sempat terkejut, karena prosesnya yang begitu singkat dan mendadak. Karena jika kita dinyatakan lolos MCU, maka pada hari Seninnya, kita sudah diminta untuk berangkat ke Head Office CCAI di Jakarta untuk offering kontrak sekaligus mulai bekerja hari pertama. Waktu itu saya sempat bimbang, kenapa? Karena prosesnya yang begitu cepat dan apesnya, proses ini jadwalnya sangat berdekatan dan hampir berdekatan dengan rekrutmen perusahaan lain yang sebenarnya lebih menjadi prioritas saya. Saya pun mencoba mengontak apakah saya bisa memninta penundaan jadwal dengan maksud saya bisa melihat dulu hasil rekrutmen di dua perusahaan lain tersebut namun ternyata hasilnya tidak bisa, karena mereka juga terbentur dengan jadwal yang sudah mereka atur. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan dan berkonsultasi dengan orang tua dan orang-orang terdekat, saya pun memutuskan untuk tidak melanjutkan ke tahapan MCU di CCAI dengan harapan agar bisa lebih berfokus ke rekrutmen perusahaan yang lain. Agak berat juga awalnya, namun mungkin memang CCAI belum menjadi rejeki saya. 

  • Indofood Noodle Division (I-CBP)
Perusahaan berikutnya yang saya coba apply adalah Indofood. Waktu Indofood Noodle Division membuka lowongan untuk program MT yang dinamakan I-Fuel (Indofood Future Leader). Waktu itu saya memperoleh info mengenai lowongan ini melalui website ECC UGM. Karena dari segi posisi dan company yang cukup benefit, saya kemudian langsung apply. Panggilan baru datang sekitar sebulan sesudahnya dan saya ingat betul, saya menerima teleponnya ketika sedang menunggu antrian untuk interview di CCAI. Saya sebenarnya agak sedikit lupa detail mengenai tahapan proses seleksinya, namun secara garis besar akan saya coba jelaskan. Tahapan seleksi I-Fuel ini sendiri sebenarnya cukup panjang namun dipadatkan menjadi dua hari sampai tahapan sebelum interview akhir dimana kita harus berangkat ke Jakarta. Proses seleksinya sendiri waktu itu dilangsungkan di University Club (UC) UGM. Sebelum masuk ke tahapan tes, pertama-tama oleh pihak panitia kita diberikan presentasi mengenai company Indofood dan program I-Fuel ini secara garis besar (yang mana ini sangat bagus menurut saya untuk dicontoh oleh setiap perusahaan agar setiap kandidat benar-benar mantap untuk mengikuti seleksi dan agar setiap perusahaan benar-benar memperoleh kandidat yang benar-benar sudah mantap dari awal). Tahapan pertama terdiri dari tes tertulis. Tes tertulis ini sendiri cukup berbeda dibandingkan dengan yang saya pernah ikuti. Soal berkisar tentang logika, numerical dan bahasa Inggris. Soalnya sendiri ada sekitar 50 soal namun bukan pilhan ganda seperti tes tertulis pada umumnya melainkan isian singkat. Tahapan ini berlangsung sekitar 30-45 menit, jika lolos, langsung berhak melanjutkan ke tahapan berikutnya. Pengumuman lolos atau tidaknya ke tahapan selanjutnya sendiri sangat cepat, selesai mengerjakan, kita diminta menunggu kurang lebih 15 menit sampai panitia seleksi mengoreksi dan memperoleh nama-nama yang lolos. Kemudian, nama-nama yang lolos berhak melanjutkan ke tahapan selanjutnya. Tahapan selanjutnya adalah tahapan tes Pauli (kalau tidak salah, saya sedikit lupa). Namun sebelum mengerjakan tes ini, sebelumnya peserta diminta untuk menuliskan mengenai pengalaman hidup yang paling berkesan di sebuah kertas HVS dengan panjang maksimal 8 paragraf dalam bahasa Inggris, dengan waktu kurang lebih 15 menit kemudian hasilnya dikumpulkan ke panitia. Setelah selesai, baru kemudian tes Pauli dimulai. Setelah sekitar 30 menit mengerjakan, kemudian diperoleh hasil nama-nama yang lolos ke tahapan selanjutnya. Nama-nama yang lolos berhak tinggal untuk melanjutkan ke tahapan berikutnya. Tahapan berikutnya adalah tahapan penilaian performa. Ini juga unik menurut saya, karena seumur hidup saya baru pertama kali melakukan tes seperti ini. Format tes ini adalah, peserta diberikan waktu selama 1 menit untuk menceritakan kembali mengenai pengalaman hidup yang dituliskan di kertas HVS tadi dalam Bahasa Inggris. Namun uniknya, peserta yang maju ke depan harus berbarengan sejumlah 6 peserta yang kemudian berbicara bersama-sama. Uniknya lagi, panitia rekrutmen mengambil posisi duduk di barisan paling belakang, sehingga secara tidak langsung peserta harus bisa berbicara dengan jelas dan menyampaikan maksudnya dengan baik sampai ke panitia yang ada di belakang. Yang mana tentu akan sulit, karena semua peserta hanya diberi waktu selama satu menit dan tentu suaranya akan tumpang tindih dengan peserta lainnya. Urutan majunya sendiri bersifat sukarela siapa yang ingin maju lebih dahulu. Saya sengaja tidak memilih maju pertama untuk mengamati dulu seperti apa prosesnya. Ternyata seperti yang saya duga, suara para peserta yang tumpang tindih membuat para pendengar tidak bisa mendengar dan menangkap maksudnya dengan baik, bahkan bagi saya yang duduk paling depan sekalipun. Namun kemudian saya ‘menangkap’ satu hal, bahwa pasti yang dinilai bukan lah dari apa yang mereka ucapkan, karena toh percuma, para panitia yang duduk paling belakang juga tidak akan bisa mendengar dengan baik. Namun disini yang lebih dinilai adalah elemen visual, yaitu mengenai gaya kita berbicara, intonasi, mimik serta gestur tubuh kita. Karena itulah yang paling bisa dilihat dengan baik. Dan benar saja, saat giliran saya maju, saya ‘iseng’ untuk membuktikan dugaan saya tadi. Saya berbicara ngalor ngidul tidak sesuai apa yang saya tulis di HVS, namun saya barengi dengan gestur tubuh dan mimik wajah sedemikian rupa agar tampak meyakinkan. Dan ternyata terbukti, saya dinyatakan lolos ke tahapan selanjutnya. Dalam hati saya senang namun sebenarnya tertawa geli juga karena apa yang saya bicarakan di depan tadi sama sekali tidak ada isinya, hahaha! Tahapan selanjutnya adalah tahap FGD. Sampai pada tahapan ini, peserta yang tersisa ada sekitar 20 orang. FGD ini membagi peserta ke dalam dua kelompok besar yang masing-masing beranggotakan 10 orang. Dalam FGD kali ini, setiap kelompok diberikan kasus mengenai 20 pilihan alternatif benda-benda yang harus kita bawa ketika kita akan diberikan ujian survival di sebuah pulau asing yang belum kita ketahui. Tugas kita adalah untuk memilih 10 dari 20 daftar benda yang tersedia untuk kita bawa. Awalnya kita diminta untuk memikirkan jawabannya secara individu kemudian kita diminta untuk berdiskusi secara kelompok untuk menentukan jawaban kelompok kita. Proses diskusi kelompok ini sendiri berjalan sangat lancar dan menyenangkan. Kendati ada beberapa kali silang pendapat, namun semua bisa diatasi dengan baik. Tidak ada anggota kelompok yang terlihat ngotot dan mendominasi jalannya diskusi. Hasil akhir pun kemudian tercapai, kita juga diminta melihat ada berapa perbedaan antara pilihan kita secara individu. Kemudian, setelah hasil dinilai oleh panitia selama kurang lebih 10 menit, nama-nama yang lolos kemudian diumukan. Di kelompok saya hanya ada 1 orang yang tidak lolos dan di kelompok sebelah, ada sekitar 5 orang yang tidak lolos. Sebenarnya kami cukup sedih, membayangkan perasaan satu-satunya rekan kami yang belum bisa lanjut sedangkan kami semua bisa lanjut. Tapi mungkin sudah ada rejeki lebih baik yang menanti rekan kami tersebut. Setelah nama-nama yang lolos telah diperoleh, kemudian dilakukan briefing oleh pihak panitia. Tahapan selanjutnya adalah tahapan terakhir sebelum final interview. Tahapan ini adalah tahapan business case presentation, dimana kita diminta untuk melakukan studi lapangan mengenai sebuah bisnis dilihat dari kacamata supply chain, pemasaran dan apalagi saya lupa detailnya hehe. Dibuat pptnya yang kemudian akan kita presentasikan keesokan harinya. Namun sampai pada tahap ini saya pun dengan berat hati harus mengundurkan diri tidak melanjutkan karena jadwalnya bertabrakan dengan salah satu perusahaan yang lebih saya prioritaskan. Lagi-lagi saya sebenarnya sangat sedih karena harus melepaskan kesempatan yang sebenarnya sudah cukup dekat, namun mungkin memang Indofood belum menjadi rejeki saya. 

  • PT PLN Persero
Rekrutmen selanjutnya yang saya ikuti adalah di PT PLN Persero. Waktu itu saya mengetahui lowongan PLN dari publikasi di situs informasicpnsbumn.com serta jobscdc.com (silahkan rajin-rajin buka dua situs ini karena sangat lengkap dan update. Untuk situs yang pertama, khusus hanya untuk info lowongan BUMN dan BUMD di seluruh Indonesia dan untuk situs yang kedua, update mengenai semua jenis perusahaan besar di Indonesia. Dan keduanya menyertakan link langsung ke perusahaan terkait). Awalnya saya tidak terlalu yakin mendaftar di PLN, karena tidak ada spesifik pilihan untuk jurusan saya, hanya untuk Teknik Industri. Namun karena waktu itu saya sudah ‘frustasi’ karena lama tidak kunjung mendapat pekerjaan, saya nekat coba apply saja, karena di samping ilmu yang masih mirip, proses pendaftarannya sendiri hampir mirip dengan proses pendaftaran di Pupuk Kaltim yang juga saya ikuti, yaitu melalui pos dan menggunakan format serta dokumen yang hampir sama dan waktu pendaftaran yang juga hampir berdekatan. Awalnya saya justru lebih yakin akan diterima di Pupuk Kaltim karena bidang pekerjaannya lebih ‘sesuai’ dengan jurusan saya, namun ternyata justru saya tidak lolos seleksi administrasi di Pupuk Kaltim dan justru beberapa hari sesudahnya saya mendapat sms bahwa nama saya lolos seleksi administarsi untuk PT PLN. Program yang saya ikuti di PLN ini adalah program seleksi calon pegawai untuk lulusan S1. Awalnya saya sempat terkejut, kok bisa ya saya diterima di antara banyaknya peserta lain yang mungkin memiliki background jurusan yang sesuai? Tapi saya beranggapan bahwa mungkin ini adalah kesempatan emas bagi saya untuk bisa bergabung dengan PLN. Tahap pertama setelah kita lolos seleksi administrasi adalah tes tertulis. Berhubung waktu itu jumlah pendaftar yang begitu banyak, maka periode tes pun dibagi ke dalam dua tahapan besar, yaitu untuk jurusan non-teknik dulu, baru jurusan teknik. Jurusan teknik pun dalam satu hari masih dibagi lagi ke dalam empat batch dimana per batchnya sendiri terdiri kurang lebih 200 orang. Waktu itu tes dilakukan di JEC. Tes tertulis tahap pertama ini meliputi psikotes seperti numerikal, matematika, persamaan dan lawan kata serta mengurutkan susunan gambar acak menjadi sebuah rangkaian yang membentuk sebuah cerita (detail tesnya seperti apa saya agak lupa), yang jelas kurang lebih sama seperti psikotes pada umumnya. Tes berlangsung selama kurang lebih 2 jam dan nama-nama yang lolos akan diumumkan via website PLN dan ECC UGM pada malam harinya untuk kemudian mengikuti tes kemampuan bidang dan bahasa Inggris di keesokan harinya. Kemudian malam harinya, saya mendapatkan info bahwa nama saya beruntung bisa lolos untuk mengikuti tes kemampuan bidang dan bahasa Inggris keesokan harinya. Karena pengumumannya baru di-publish sekitar jam 7 malam dan saya kebetulan juga ada acara, jadilah saya kurang maksimal dalam persiapan untuk tes, terutama tes kemampuan bidang. Untunglah saya mendapat jadwal jam 1 siang, jadi saya masih punya sedikit waktu belajar di pagi harinya. Tes kemampuan dasar ini terdiri dari 50 soal yang berisi mengenai soal-soal yang berhubungan dengan background jurusan kita. Jadi berbeda background jurusan, berbeda pula tipe soal yang diberikan. Karena saya apply untuk jurusan teknik industri, maka soalnya pun berkisar mengenai keilmuan tersebut (waktu itu kebanyakan mengenai riset operasional). Yang sama hanyalah tes kemampuan Bahasa Inggris. Dalam tes ini, memiliki aturan yang cukup tricky, karena jika kita menjawab benar, kita akan mendapat nilai +4, jika kita tidak menjawab kita mendapat nilai 0, namun jika kita menjawab salah, kita akan mendapat nilai -1. Dan parahnya, karena saya tidak belajar mengenai kemampuan bidang dengan baik, saya hanya mengisi 5 dari 50 soal! Artinya hanya 10% saja! Di samping memang banyak soal yang saya lupa, saya juga takut menjawab beberapa soal yang jawabannya masih ragu karena sistem pengurangan nilai yang diterapkan tadi, selain itu saya cukup optimis dengan soal bahasa Inggris, jadi semoga saja kekurangan saya di tes kemampuan bidang bisa ter-cover di tes bahasa Inggris ini. Kedua tes ini total waktunya berlangsung sekitar 3-4 jam. Hasil nama-nama yang lolos akan diumukan malam harinya dan nama-nama yang lolos berhak untuk mengikuti psikotes keesokan harinya. Saya sebenarnya cukup pesimis mengingat tes kemampuan bidang saya yang begitu pas-pasan, namun saya begitu terkejut saat mengetahui bahwa saya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan ke tahapan selanjutnya, Alhamdulillah. Tahapan selanjutnya merupakan tahapan psikotes. DI tahapan kali ini jumlah peserta sudah mulai berkurang cukup banyak. Psikotes disini meliputi beberapa tahapan, di antaranya adalah Wartegg test, Pauli, Menggambar orang dan pohon (jika kurang saya mohon maaf, karena ada yang lupa). Selain tes ini, kita juga diminta untuk mengisi form biodata dan profil yang disediakan, yang meliputi informasi lebih detail mengenai diri kita. Tahapan ini berlangsung selama kurang lebih 3 jam. Namun hasilnya baru akan diumukan sebulan kemudian, dikarenakan untuk mengoreksi tes ini memang membutuhkan waktu. Kita juga dihimbau untuk menjaga kondisi fisik dan kesehatan untuk persiapan mengikuti tes fisik dan laboratorium jika lolos, karena pihak PLN menjelaskan bahwa di tahapan ini merupakan tahapan yang paling sulit sehingga sering banyak peserta yang gugur. Namun memang saya yang ‘bandel’, waktu sebulan itu tidak saya manfaatkan dengan baik. Sehingga pada saat nama saya tercantum di antara nama-nama peserta yang lolos ke tahapan tes fisik, saya mendadak panik, karena tahapan tes fisik akan dilakukan seminggu kemudian! Saya panik karena kondisi fisik saya yang gendut dan masih berada di atas berat badan ideal (BMI). Saya panik karena hampir mustahil dengan waktu seminggu menurunkan berat badan hingga mencapai kondisi ideal dan menghilangkan perut buncit saya. Sebenarnya waktu itu pengumuman PLN ini berbarengan juga dengan offering dari CCAI dan interview di Indofood, namun dengan alasan PLN lebih benefit, saya memilih PLN tanpa memperhitungkan strategi dan mana perusahaan yang menawarkan peluang lebih besar. Pokoknya waktu itu saya hanya bermodal nekat dan yakin bahwa saya bisa lolos. Karena waktu itu saya juga berasumsi bahwa sepertinya tesnya sama dengan MCU di Bank BRI dimana saya juga bisa lolos dengan kondisi fisik tubuh yang tidak jauh berbeda. Namun ternyata, dugaan saya sangat jauh berbeda. Tes fisik PLN ini begitu ketat. Tesnya sendiri dilakukan di lab Prodia dan memakan waktu kurang lebih 3 jam. Saya mendapatkan jadwal tes di jam 8 pagi. Mungkin dari semua tahapan tes MCU yang pernah saya lalui, MCU PLN ini adalah MCU dengan tahapan yang paling detail dan paling panjang. Aspek yang dicek sangatlah banyak. Dimulai berat badan, tinggi badan, tekanan darah, berat badan ideal, mata, telinga, keseimbangan badan, gigi, lingkar perut, hingga pengecekan (maaf) anus juga dilakukan. Dan entah kenapa, mungkin juga karena kurang persiapan, sepanjang tes saya merasa sangat deg-degan dan alhasil, ketika ada pengecekan tekanan darah, tensi saya menunjukkan nilai yang begitu tinggi. Ditambah lagi dengan ukuran lingkar perut saya yang sudah ‘offside’ ini, saya pun merasa sangat pesimis saya bisa lolos ke tahap selanjutnya. Apalagi peserta yang lain badannya jauh lebih ‘oke’ ketimbang saya. Namun entah kenapa, saya masih berharap banyak pada PLN ini sekalipun peluangnya sangat kecil. Sehingga saya pun berani melepas peluang di CCAI dan di Indofood. Ya mungkin juga karena faktor BUMN yang membuat saya terus berharap banyak. Hasil dari MCU ini akan diumumkan seminggu kemudian. Dan setelah tiba di hari pengumuman, seperti yang sudah saya duga, ternyata saya tidak lolos ke tahapan tes laboratorium. Ternyata pada tahapan ini, jumlah peserta yang di-cut sangatlah banyak, hampir separuhnya. Saya waktu itu benar-benar sedih sesedih-sedihnya. Karena perhitungan saya yang meleset, saya jadi kehilangan tiga kesempatan kerja sekaligus. Karena terlalu ngotot mengejar PLN, peluang di CCAI dan Indofood yang sudah terbuka lebar pun akhirnya harus melayang. Pelajaran yang bisa saya ambil dari kejadian kali ini adalah bahwa dalam mencari pekerjaan, kita harus bisa benar-benar jeli menghitung setiap peluang yang ada. Kendati ada satu perusahaan yang memang kita kejar, kita juga harus consider dengan peluang atau tawaran yang paling dekat. Harus benar-benar jeli, cermat dan berhati-hati. 

  • PT Surya Madistrindo
Perusahaan selanjutnya yang saya ikuti seleksinya adalah PT Surya Madistrindo (SM). Bagi yang belum tahu, PT Surya Madistrindo ini adalah anak perusahaan milik PT Gudang Garam, tbk. (GG) yang khusus didirikan untuk menangani bidang sales, distribution dan marketing. Kenapa sampai dibentuk perusahaan sendiri? Agar penjualan rokok di Gudang Garam yang volumenya sangat besar bisa ter-handle dengan baik dan lebih optimal. Untuk posisi yang saya apply ini adalah posisi di Management Trainee Sales & Management Operation (MT-SMO). Sebenarnya sejak awal, saya kurang tertarik bekerja di perusahaan rokok dan tembakau karena beberapa faktor, namun melihat salary dan benefit yang ditawarkan begitu ‘wah’, saya menjadi ‘dibutakan’ dan langsung berminat mendaftar. Saya memperoleh info dan meng-apply lowongan ini via web ECC UGM. Dan saya sudah apply cukup lama namun setelah beberapa bulan saya baru mendapat panggilan untuk seleksi tahap awal, yaitu psikotes. Psikotes ini dilaksanakan di ECC UGM. Soal yang diujikan cukup standar dan cukup awam ditemui, sehingga saya yakin anda semua juga pasti bisa mengerjakan dengan lancar. Tahap psikotes ini dilaksanakan dalam sehari dengan dibagi ke dalam 4 batch. Tiap batch-nya bedurasi sekitar 2 jam dengan jumlah peserta tiap batch-nya sekitar 50 orang. Nama-nama yang lolos kemudian akan mendapatkan invitation ke tahapan selanjutnya, yaitu (FGD) via email sekitar seminggu ke depan. Seminggu berikutnya, saya mendapat email yang isinya saya berhak lolos ke tahapan FGD. Namun sehari sebelum melaksanakan FGD, para peserta yang lolos diminta hadir di acara presentasi company profile yang dilaksanakan di Hotel Ibis oleh pihak PT SM. Pada acara presentasi ini, para peserta dijelaskan mengenai profil PT SM secara gambaran umum dan detail mengenai program MT serta apa yang akan didapat dan dipersiapkan. Menurut saya, presentasi company profile ini sangatlah menarik dan bermanfaat. Bagi saya, presentasi mengenai company profile dan program rekrutmen yang dilakukan di awal merupakan win-win solution bagi pihak perusahaan maupun peserta. Karena dengan begini, peserta bisa mendapatkan gambaran ke depan akan seperti apa serta dapat menentukan dengan baik dan memantapkan pilihannya untuk lanjut mengikuti proses seleksi atau tidak. Dan bagi perusahaan, mereka akan mendapatkan kandidat yang sudah benar-benar mantap untuk bergabung dan meminimalisir resiko kandidat yang mundur di tahapan akhir, singkatnya proses seleksi menjadi lebih efektif dan efisien. Pihak SM juga sedikit ‘memberikan’ bocoran bahwa materi presentasi ini juga kemungkinan akan terus ditanyakan kembali saat proses seleksi ke depan, jadi para peserta diminta untuk fokus dan bisa menyerap materi dengan baik. Presentasi ini berlangsung kurang lebih 2 jam sekaligus dilakukan pembagian kelompok untuk proses FGD di keesokan harinya. Hari berikutnya, proses FGD pun dilaksanakan. FGD dilakukan di kantor SM cabang Jogja di Jalan Monjali depan Hotel Hyatt. Saya mendapat giliran pada jam 1 siang. Waktu itu anggota kelompok FGD saya ada 6 orang. FGD dilaksanakan dengan dipandu oleh moderator dari pihak SM. FGD ini dimulai dengan durasi 30 menit. Dengan rincian, 10 menit untuk membaca materi dan 20 menit untuk berdiskusi. FGD kali ini cukup unik dan baru pertama kali saya temui. Soal FGD sendiri dibagi ke dalam 2 tipe, yang pertama adalah berupa soal bacaan esai dan yang kedua adalah menentukan urutan/skala prioritas. Sebelum memulai diskusi, kita diminta untuk membuat jawaban kita sendiri yang nanti kemudian hasilnya akan dibandingkan dengan jawaban akhir hasil dari diskusi kelompok. Jika jawaban kita sama dengan jawaban kelompok, kita mendapat nilai +1 (kalau tidak salah) dan jika jawaban kita berbeda, kita mendapatkan nilai -1. Kemudian, semua jawaban ditotal nilainya untuk menghitung skor akhir. Proses diskusi berjalan cukup lancar, setiap peserta dapat memaparkan pendapatnya dengan baik dan lancar. Sampai pada penghitungan skor, ternyata saya mendapatkan nilai minus karena ada beberapa jawaban saya yang tidak sesuai dengan jawaban kelompok. Awalnya saya sempat ragu dan pesimis melihat saya satu-satunya yang mendapatkan skor minus di antara semua peserta lain, namun saya sudah nothing to lose terhadap apapun hasil yang saya terima nantinya. Panitia mengumumkan bahwa hasil dari FGD ini sudah bisa didapatkan sore hari nanti dan nama-nama yang lolos berhak untuk melanjutkan ke tahapan interview HR keesokan harinya. Kemudian di sore harinya, saya sangat terkejut ketika mendapatkan sms dari pihak SM yang mengundang saya untuk mengikuti sesi interview HR keesokan harinya, yang berarti saya lolos dari tahapan FGD. Saya cukup kaget juga mengingat skor saya saat FGD memperoleh nilai minus. Saat tiba sesi interview HR, saya lebih kaget lagi karena dari 6 orang peserta FGD, hanya 3 yang lanjut ke tahapan interview HR. Saya cukup kaget mengingat performa peserta lain sebenarnya semua sangatlah bagus. Yah, mungkin mereka berhak mendapatkan jalan rejeki yang jauh lebih baik di tempat lain. Kemudian tiba giliran saya di-interview oleh pihak HR. Interviewernya sendiri ada 3 orang yang salah satunya merupakan pengisi materi saat presentasi company profile. Sesi interview HR ini sendiri dilakukan dalam bahasa Indonesia dan memakan waktu cukup singkat hanya sekitar 15 menit. Pertanyaan yang diajukan seputar kepribadian kita dan beberapa poin-poin materi terkait presentasi company profile. Setelah sesi selesai, interviewer menjelaskan bahwa hasilnya akan diumumkan via telepon. Bagi peserta yang lolos, akan ditelpon untuk mengikuti sesi final interview yang akan dilakukan di kantor pusat SM di Jakarta. Setelah sekitar 3 minggu berikutnya, saya baru ditelpon oleh pihak SM yang memberitahukan bahwa saya dinyatakan lolos interview HR dan berhak mengikuti sesi final interview di Jakarta. Namun, karena saat itu posisi saya sudah bekerja, maka saya pun harus menolak tawaran dari pihak SM ini. 

  • PT HM Sampoerna Tbk. /Phillip Morris Indonesia
Perusahaan selanjutnya yang saya daftar adalah PT HM Sampoerna (HMS). Saya memperoleh informasi adanya lowongan ini melalui website ECC UGM. Waktu itu lowongan yang dibuka adalah untuk posisi supervisor marketing. Beberapa minggu setelah saya apply lowongan tersebut, saya memperoleh sms undangan dari pihak HMS untuk mengikuti tahapan written test awal yang diadakan di UKDW Jogja. Tahapan test ini dalam satu hari dibagi ke dalam 4 batch. Setiap batch-nya berlangsung selama 2 jam dengan peserta masing-masing batch ada sekitar 50-an orang. Written test di HMS ini menurut saya termasuk salah satu proses written test yang cukup berbeda dan relatif lebih sulit dibanding jenis written test lain yang pernah saya kerjakan. Tesnya sendiri terdiri dari 50 soal dan merupakan gabungan antara psikotes, matematika, bahasa inggris dan soal logika lain. Dengan sistem penilaian mirip seperti tes masuk perguruan tinggi. Yaitu apabila benar akan mendapatkan nilai +4, salah -1 dan apabila tidak dijawab tidak mendapatkan poin. Karena sistem penilaian ini, maka kita pun harus benar-benar jitu dan cermat dalam menjawab soal-soalnya. Saya waktu menjawab sekitar 40 soal. Kemudian pihak HMS memberitahu bahwa hasilnya akan diumumkan di sore harinya dengan nama-nama yang lolos berhak untuk mengikuti tahapan FGD dan rangkaian interview. Sore harinya, saya kembali ke UKDW untuk melihat hasil pengumuman yang ditempelkan di papan pengumuman. Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk lolos ke tahapan selanjutnya. Tahapan tesnya sendiri diadakan 2 hari kemudian. Dari tiap-tiap batch, ada sekitar 10 orang yang lolos. Jadi total yang lolos dari tahap tes awal ini ada sekitar 40 orang. Tahapan tes selanjutnya adalah FGD dan interview. Tahapan ini dilaksanakan di kantor HMS Jogja di daerah Nogotirto ring road barat. Waktu itu kami diminta datang pukul 8 pagi. Pertama-tama, kami di-brief terlebih dahulu mengenai pembagian kelompok untuk FGD. Satu kelompok terdiri dari 6-7 orang. Kelompok saya mendapatkan urutan masuk nomor 2. Di tahapan ini, saya juga bertemu beberapa orang kawan kuliah saya, namun sayang saya tidak satu kelompok dengan mereka, jadi tidak bisa kerjasama, haha! Kemudian tibalah giliran kelompok saya untuk memulai FGD. Begitu masuk, sudah ada 4 orang dari pihak HMS yang akan bertindak sebagai reviewer. Karena sistem FGD di HMS ini sendiri sebenarnya lebih mirip ke Business Case Presentation dibandingkan dengan FGD lain yang pernah saya ikuti. Waktu FGD ini adalah 30 menit dengan rincian 10 menit diskusi kelompok yang dilanjutkan dengan 20 menit presentasi dan tanya jawab oleh reviewer dan peserta. Soalnya sendiri merupakan studi kasus mengenai sebuah perusahaan yang ingin merilis produk baru dengan dua opsi pilihan dan analisis mengenai strateginya. Kita diminta untuk memilih opsi mana yang akan kita gunakan dan alasan mengenai pemilihan opsi tersebut. Saat proses diskusi kelompok, semua berjalan relatif lancar, sampai saat yang paling mendebarkan adalah saat sesi presentasi dan tanya jawab dengan reviewer. Suasananya saat itu benar-benar mirip seperti saat sidang skripsi, deg-degan parah! Namun alhamdulillah kami bisa melewati tahapan ini dengan cukup lancar meskipun ada beberapa hal yang kurang bisa disampaikan dengan baik. Hasilnya sendiri akan langsung diumumkan sekitar 10 menit setelah kita keluar dari ruangan. Setelah kami semua keluar, kami pun sangat dag dig dug menanti keputusan dari pihak HMS siapa saja yang lolos. TIdak sampai 10 menit, tiba-tiba salah satu interviewer mengumumkan nama-nama yang lolos. Dari 7 orang anggota kelompok saya, ada 3 orang yang dinyatakan lolos dan alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk lanjut ke tahapan selanjutnya. Tahapan selanjutnya adalah tahapan interview HRD+user. Seharusnya tahapan interview HRD dipisah, namun karena kesibukan para interviewer, kesulitan mencari waktu serta kebutuhan rekrutmen, maka untuk sesi interview kali ini dijadikan dalam satu sesi. Saat tiba giliran saya di-interview, saya mendapat giliran di maju nomor dua. Saat itu ada 5 orang interviewer. Satu dari pihak HRD dan empat lainnya adalah dari user/manager terkait. Interview dilaksanakan di dalam bahasa Inggris. Saat pertama kali setelah mengenalkan diri, saya cukup terkejut karena pertanyaan pertama yang terlontar dari salah satu interviewer adalah : “Kamu suka Star Wars ya? Ini kok di Instagrammu banyak postingan tentang Star Wars”. Saya cukup syok, karena saya belum pernah membayangkan bahwa mereka akan mencari tahu sedetail ini mengenai diri saya, bahka sampa melihat Instagram saya. Dan pertanyaan mengenai Star Wars ini kemudian menjadi pertanyaan pembuka yang lebih dalam lagi. Hingga saya ditanya lebih detail mengenai alasan saya menyukai Star Wars. Memang interview kali ini cukup unik menurut saya, mungkin juga karena perusahaan rokok terutama untuk posisi marketing, jadi pertanyaan yang diajukan juga cukup berbeda dari interview lain yang pernah saya ikuti. Selain mengenai informasi diri, saya juga ditanya mengenai band kesukaan saya, pengalaman membuat event musik sewaktu SMA, selera musik, konser-konser favorit dan masih banyak lagi. Hingga proses interview pun selesai dan saya diberitahu bahwa hasilnya akan diinformasikan sekitar dua minggu kemudian. Saya merasa bahwa proses interview saya berjalan sangat sebentar, namun setelah keluar, peserta lain mengatakan bahwa interview saya sangat lama, hampir satu jam lebih. Mungkin karena ini salah satu interview yang paling menyenangkan yang pernah saya alami, maka saya jadi merasa menikmati proses interview saya selama di dalam. Setelah dua minggu sejak proses interview, saya kemudian mendapatkan telepon dari pihak HMS bahwa saya dinyatakan lolos dan berhak mengikuti MCU. MCU dilaksanakan di Klinik Pramita Yogyakarta. Waktu saya melakukan registrasi di Pramita, saya mengintip di buku registrasi milik petugasnya dan saya mendapatkan info bahwa yang lolos sampai tahap MCU ada 3 orang, namun saya tidak bertemu mereka di lokasi, mungkin jadwalnya yang beda. Yang dites di tahap MCU ini meliputi pengambilan darah, urine, rontgen, rekam jantung dan cek fisik. Hasilnya nanti akan langsung diinfokan oleh pihak HMS melalui telepon untuk menyatakan apakah kita lolos atau tidak. Sekitar dua minggu sejak MCU, saya kemudian mendapat telepon dari Manager Area Marketing HMS area Surabaya, yang menyatakan bahwa saya lolos tahapan MCU dan mendapatkan offering sekaligus mendapatkan penempatan di area Surabaya. Saya ditawari posisi menjadi Supervisor Consumer Engagement (SCE) yang meng-handle bagian community dan event. Waktu itu, salary dan benefit yang ditawarkan oleh pihak HMS benar-benar tinggi untuk seorang fresh graduate seperti saya. Jumlah salary dan benefit yang tinggi, ditambah dengan penempatan di area Surabaya, yang notabene masih di Jawa dan tidak terlalu jauh dari Jogja, saya pun tidak berpikir lama-lama untuk kemudian menyetujui offering dari HMS tersebut. Saya kemudian diberi tahu bahwa saya bisa mulai bekerja seminggu kemudian. Selama proses masuk kerja pertama ini saya sangat antusias. Saya diberikan fasilitas tiket pesawat dan menginap di hotel bintang 4 selama sebulan. Selain nominal salary yang saya terima juga sudah sangat besar, saya masih mendapat benefit fasilitas lain seperti mobil dinas, laptop, tunjangan handphone, tunjangan pulsa, tunjangan tempat tinggal, tunjangan makan, serta uang saku harian selama 3 bulan pertama yang jika semuanya dinominalkan, gaji saya setiap bulannya bisa lah untuk membeli satu motor Honda Vario keluaran terbaru. Namun setelah beberapa bulan bekerja, saya baru sadar bahwa ternyata uang atau gaji bukanlah segalanya dalam bekerja. Awalnya saya sangat antusias melihat gaji yang saya dapatkan, namun karena beberapa faktor ketidakcocokan hati dan nurani, maka setelah 3 bulan saya memutuskan untuk resign dari HMS. Sebenarnya bekerja di HMS sangatlah menyenangkan, orang-orangnya yang sangat terbuka dan baik, manajemen perusahaan yang sangat mumpuni, people development yang di-manage dengan baik. Intinya, jika kalian ingin belajar dan menambah ­value added kalian, HMS adalah tempat yang sangat tepat. Secara HMS adalah bagian dari Phillip Morris yang merupakan perusahaan tembakau terbesar di dunia, sehingga values di perusahaan ini benar-benar mencerminkan sebuah perusahaan yang sangat kompeten. Saya juga mendapat mentor dan buddy yang sangat baik dan perhatian, yaitu Pak Fadjar. Kendati tampilan beliau cukup sangar dengan tutur khas orang Surabaya, namun beliaulah yang membantu saya untuk belajar dan memberikan wejangan-wejangan tentang hidup dan belajar (terima kasih banyak Pak Fadjar! Hope I’ll see you again in another occasion!). Namun semua kembali lagi, ada faktor kuat dalam diri saya yang membuat saya tidak bisa meneruskan bekerja di sini. Akhirnya, resmi per Juni 2016, saya tidak lagi menjadi bagian dari HMS, yang artinya lagi, saya kembali menjadi jobseeker. 

  • PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk.
Setelah resmi resign dari HMS, saya dengan susah payah harus kembali mengumpulkan niat dalam diri saya untuk memulai kembali proses pencarian kerja. Percayalah, masa-masa dimana kita harus memulai kembali menjadi seorang jobseeker setelah mendapat pekerjaan yang cukup settle adalah momen yang sangat berat. Memang tidak mudah untuk memulainya, namun saya harus mengumpulkan niat dan mencari pekerjaan, karena sya tidak boleh berlama-lama menganggur. Namun karena saya berhenti bekerja di pertengahan tahun, dimana di periode ini sangat sedikit perusahaan yang membuka rekrutmen karena berbenturan dengan puasa dan lebaran, maka saya pun hanya menghabiskan waktu dengan menunggu. Beruntunglah, di masa jobseeking yang sangat berat itu, saya juga bekerja freelance sebagai content writer di perusahaan startup IT lokal, sehingga lumayan untuk mengisi waktu luang dan menambah sedikit uang jajan sehari-hari. Setelah cukup lama menunggu panggilan, akhirnya saya pun mendapat panggilan pertama saya dari PT. Bank Muamalat Indonesia (BMI). Saya mendapat panggilan seleksi untuk posisi Muamalat Officer Development Program (MODP), atau posisi yang setara dengan MT. Waktu itu saya diminta hadir di proses seleksi awal yang diselenggarakan di Hotel Jayakarta Jogja. Tahapan pertama yang harus dilewati adalah tahapan FGD. Cukup unik juga bagi saya, karena baru pertama kali ini saya mengikuti rekrutmen yang proses FGD-nya ditaruh di awal. Waktu itu dari sekitar 100 orang yang hadir, dibagi ke dalam beberapa kelompok FGD dimana tiap kelompoknya terdiri dari sekitar 6-7 orang. Waktu itu tema FGDnya adalah tentang studi kasus mengenai pembukaan cabang baru di daerah yang butuh pengembangan dan kita diminta untuk memilih kepala cabang mana yang paling cocok untuk memimpin kantor baru tersebut sesuai dengan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh tiap kandidat. Proses FGD berjalan sekitar kurang lebih 30 menit. Dan hasilnya akan diumukan setelah semua kelompok selesai melakukan proses diskusi. Setelah sekitar 2 jam, hasil dari proses FGD sudah diumukan, alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan bersama sekitar 50 peserta lainnya untuk lolos ke tahapan selanjutnya. Tahapan selanjutnya adalah tahapan online test, dimana sebelumnya peserta sudah dihimbau untuk membawa laptop masing-masing agar bisa mengerjakan dengan baik. Proses online test ini meliputi dua tahapan, yaitu tes kepribadian dan logika. Saya agak sedikit lupa detail tesnya seperti apa, namun tipe soal-soalnya sendiri termasuk cukup awam ditemui di beberapa psikotes perusahaan lain. Jumlah soalnya juga tidak terlalu banyak dan total waktu pengerjaannya ada sekitar 2 jam. Dan hasil nama peserta yang berhak lolos langsung diumumkan begitu tes selesai dikerjakan. Dan alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan dan dinyataka n berhak lolos ke tahapan selanjutnya bersama dengan sekitar 20 peserta lain. Kemudian peserta yang lolos di-brief untuk mengikuti tahapan tes keesokan harinya, yaitu presentasi dan final interview. Kita kemudian diminta untuk membuat materi presentasi mengenai perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah yang akan dipresentasikan di hadapan para user dengan durasi sekitar 15 menit. Setelah sesi presentasi, akan dilanjutkan dengan final interview. Malamnya saya pun menyiapkan materi presentasi saya dengan semaksimal mungkin. Namun sungguh aneh tapi nyata, entah kenapa, hanya H-beberapa jam sebelum tes dimulai, saya memilih untuk tidak datang dan melanjutkan proses seleksi. Entah kenapa tiba-tiba, saya merasa bahwa BMI ini bukanlah tempat saya. Ya, memang saya juga belum tentu lolos, namun saat itu saya punya firasat kuat bahwa saya tidak perlu melanjutkan proses seleksi. Saya sendiri sebenarnya juga sangat terheran mengapa saya bisa sampai membuat keputusan mendadak seperti itu, bahkan saya sampai ditelpon berulang kali oleh pihak BMI dan saya tidak menjawabnya, haha! Jujur, bahkan sampai sekarang pun saya masih terheran-heran mengapa saya bisa membuat keputusan seperti itu. Tapi saya mencoba mengambil hikmahnya, mungkin Allah sedang berusaha menunjukkan pintu rezeki lain bagi saya melalui cara yang cukup ‘radikal’, hahaha! 

  • Perum Peruri
Rekrutmen berikutnya yang saya ikuti adalah rekrutmen di Perum Peruri. Peruri sendiri merupakan BUMN yang bertugas untuk mencetak uang kertas rupiah di Indonesia. Waktu itu saya memperoleh lowongan ini salah satu website loker pencarian kerja. Berhubung ada salah satu lowongan yang membutuhkan kualifikasi jurusan yang cukup sesuai dengan background saya, maka saya pun kemudian mencoba mendaftar. Tahapan pertama adalah kita diminta untuk melakukan registrasi online. Setelah selesai, hasilnya akan diumumkan sekitar 2 minggu kemudian. Setelah sekitar 2 minggu sejak saya mendaftar, saya kemudian mendapat sms informasi yang menyatakan bahwa saya berhak melanjutkan ke tahapan selanjutnya yaitu tes tertulis. Tes tertulis ini sendiri terdiri dari dua bagian, yang pertama soal mengenai kemampuan dasar yang meliputi tes logika sederhana dan yang kedua adalah tes kemampuan bahasa Inggris. Masing-masing bagian terdiri dari 50 soal dengan total waktu pengerjaan sekitar 2 jam. Setelah selesai, kami diinfokan bahwa hasilnya akan diumumkan keesokan harinya. Nama-nama yang lolos berhak untuk mengikuti tes selanjutnya, yaitu psikotes. Keesokan harinya, saya mendapatkan sms pemberitahuan yang berisi informasi bahwa saya dinyatakan lolos ke tahapan selanjutnya. Namun karena jadwalnya bertabrakan dengan tes di Bank Indonesia (BI) yang waktu itu lebih saya prioritaskan, maka saya pun terpaksa tidak melanjutkan tes di Peruri. Sebenarnya cukup sedih juga waktu itu, karena peserta seleksi Peruri yang total berjumlah 400 orang ternyata hanya setengahnya yang hadir. Dengan jumlah peserta dan tahapan yang relatif pendek serta kebutuhan jumlah pegawai yang cukup banyak dan mendesak, sebenarnya peluang di Peruri lebih terbuka. Namun karena waktu itu sejak awal saya sudah meniatkan diri untuk berfokus di BI, jadilah saya pun harus merelakan kesempatan di Peruri. 

  • Bank Indonesia 
Rekrutmen selanjutnya yang saya ikuti, sekaligus yang terakhir yang saya bagi disini, adalah rekrutmen di Bank Indonesia (BI). Waktu itu posisi yang dibuka adalah program Pendidikan Calon Pegawai Muda (PCPM). PCPM ini singkat kata adalah program MT di BI dengan segala macam benefit yang ditawarkan. Karena benefit yang begitu tinggi serta iming-iming prestige bisa bekerja di BI, saya pun langsung mendaftar dan berniat untuk berusaha sekuat tenaga untuk bisa masuk di posisi ini. Kendati di persyaratan tidak ada pilihan background pendidikan yang sesuai dengan saya, namun saya tetap ‘nekat’ mendaftar untuk posisi dengan background jurusan pertanian. Setelah selesai mendaftar online, hasilnya akan diinformasikan kurang lebih selama 2 minggu ke depan. Setelah kurang lebih 2 minggu sejak proses pendaftaran dilakukan, saya kemudian mendapatkan notifikasi bahwa saya masih diberi kesempatan untuk lanjut ke tahapan selanjutnya. Tahapan selanjutnya adalah tahapan tes kemampuan dasar. Proses tes ini dilakukan di Semarang, berhubung di pilihan lokasi tes hanya ada Semarang yang paling dekat dengan domisili saya, jadi dari awal sampai akhir, proses seleksi akan dilakukan di Semarang. Waktu itu seleksi dilakukan di Fakultas Ekonomi Unnes. Waktu itu jumlah peserta tesnya sangatlah banyak, mungkin bisa ribuan yang hadir yang dibagi ke dalam beberapa batch. Tes kemampuan dasar ini meliputi tes logika dasar yang awam ditemui di proses rekrutmen berbagai perusahaan. Jumlah total soalnya saya lupa detailnya berapa namun seingat saya cukup banyak. Dengan total durasi waktu mengerjakan sekitar 2 jam. Setelah selesai, panitia mengumumkan bahwa hasilnya akan diinfokan dalam waktu sekitar dua minggu setelahnya. Jika lolos, tahapan tes selanjutnya adalah tes ekonomi dasar dan kebanksentralan. Dua minggu kemudian, saya mendapatkan info bahwa saya masih mendapatkan kesempatan untuk lolos ke tahapan selanjutnya yang akan diselenggarakan seminggu kemudian. Saya pun berusaha semaksimal mungkin untuk belajar. Mengenai BI dan juga mengenai ilmu ekonomi. Walaupun saya tidak bisa maksimal karena saya harus benar-benar mulai dari nol dan keterbatasan waktu, namun saya tetap berusaha semaksimal mungkin. Kemudian tiba saat hari-H tes, saat membaca soal, saya seketika langsung lemas karena soal yang keluar jauh beda dengan apa yang saya pelajari. Dengan keterbatasan saya dan sistem penilaian yang menggunakan sistem skor -1 apabila kita menjawab salah, maka saya pun tidak bisa maksimal dalam mengerjakan. Alhasil, saat hasilnya diumumkan seminggu kemudian, saya pun tidak bisa lolos ke tahapan selanjutnya. Waktu itu saya sangat sedih, karena saya merasa sudah berusaha sekeras mungkin dan BI sangat saya kejar pada waktu itu. Ya, mungkin Allah sudah mempersiapkan jalan lain yang lebih baik bagi saya. Oh iya, jika lolos dari tahapan tes ini, tahapan tes selanjutnya kalau tidak salah adalah psikotes, interview dan MCU. Dan program PCPM ini sendiri cukup jarang ada lowongan, bisaanya 2 tahun sekali, namun itu pun juga tidak tentu. Dan perlu diketahui, gaji PCPM BI ini nominalnya sungguh bisa membuat mata terbelalak. DItambah dengan sangat terbukanya kesempatan untuk melanjutkan studi ke luar negeri yang dibiayai oleh BI, maka tidak heran jika BI menjadi impian banyak jobseeker di negeri ini.
Nah sekianlah sekelumit pengalaman saya saat menjalani proses rekrutmen di berbagai perusahaan. Sebenarnya selain daftar di atas, saya juga pernah mendapat undangan rekrutmen di berbagai perusahaan lain seperti Unilever, Frisian Flag, P&G, OJK, Pegadaian, Danareksa, Garuda Indonesia dan beberapa lagi. Namun memang tidak saya tulis karena beberapa saya tidak bisa datang atau gagal di tahap-tahap awal. Hahahahaha!

Dan Alhamdulillah, setelah melewati proses yang panjang dan melelahkan, sekarang yang sudah diterima bekerja di Danone dengan posisi MT. Untuk detail mengenai proses seleksi MT Star Danone, akan saya tulis di postingan saya selanjutnya. Terima kasih dan semoga bermanfaat!