Senin, 29 Desember 2014

Selamat ya, 'Cahaya yang tidak pernah pudar' !


Terasa benar bagaimana perjuanganmu selama setahun terakhir ini menguras keringat membanting tulang untuk merangkai kata dalam lembaran kertas putih (red : skripsi). Aku melihat sendiri bagaimana kamu melewati ‘penderitaan’ itu tanpa henti. Dari mulai fajar menyingsing, hingga di alam mimpi pun terkadang siklus masih berputar. Andaikata kamu punya kemampuan lucid dream, pastilah ingin sekali kamu mengakhirinya walaupun hanya dalam mimpi. Semua repetisi yang terus berulang, kamu seperti berjalan dalam suatu impromptu, hingga kamu merasa lelah. Seakan tak tahu di mana muara dari segala perjuangan ini.

“There is The Light that never goes out” – The Smiths

Tapi inilah kamu, selalu percaya bahwa ada suatu ‘cahaya yang tidak pernah pudar’. Cahaya yang selalu menerangi jalanmu, membangunkanmu saat kau terlelap, mengangkatmu saat kau terjatuh dan menggendongmu saat kamu lelah berjalan. Cahaya itu adalah cahaya harapan, harapan dari orang-orang tersayangmu, orangtuamu, sahabatmu dan tentu saja AKU (sengaja aku tulis secara gamblang, supaya semua orang tahu. Artis melahirkan saja semua orang harus tahu, masak aku yang orang biasa ini tidak ?) yang membuatmu selalu bisa melewati ‘kegelapan’ (sebut saja rintangan seperti dosen dll) hingga sampai ke ujung dari semua ini.

Selamat !

Terkadang rasa iri juga sesekali datang menghampiriku ketika melihatmu sampai tahapan ini, saat melihatmu berdiri sampai tahapan ini, kadang terjadi dekadensi semangat yang sempat meruntuhkanku. Syahdan, sekarang aku belum sampai ke tahapan sepertimu. Meskipun sekarang kita tidak lagi berada di zaman patriarki, dimana semua serba egaliter, aku tidak akan terlena, aku akan secepatnya menyusulmu. Aku berjani sebentar lagi aku akan berada di tahapan sepertimu.

Tenang, aku bukan cuma seorang hipokrit dengan semua rangkaian kata ini, aku tulus bersungguh-sungguh. Aku akan berjuang menyelesaikannya. Sedikit lagi dan aku akan menyusulmu. Aku pasti semangat, karena sekarang aku juga sudah punya ‘cahaya yang tidak pernah pudar’.

Ya, kamulah ‘cahaya yang tidak pernah pudar itu’

“By three methods we may learn wisdom. First, by reflection, which is noblest. Second, by limitation, which is easiest. And third, by experience. Which is the bitterest” – Confucius

Sekarang kamu resmi menjadi semakin bijaksana. Selamat Dyah Tiara Rita Meitia, teruslah menjadi ‘cahaya yang tidak pernah pudar itu’ !

Rabu, 12 Maret 2014

Televisi

TELEVISI

Aku ingin muncul di TV, buat acara sendiri – Naif (Televisi)

Sepenggal lirik yang rasa-rasanya bisa digunakan untuk menggambarkan apa yang saat ini sedang memenuhi hati saya. Sudah cukup lama saya prihatin dengan acara yang disiarkan oleh televisi negara kita. Dari fajar menyambut di ufuk timur hingga tenggelam di sisi barat, seperti sudah ada repetisi yang selalu bisa ditebak, apa dan siapa yang muncul di televisi. Pagi, diawali dengan acara sirkus berdalih pertunjukan musik lokal terbaik. Siang, membusakan mulut dan telinga dengan acara gosip pesohor layar kaca penuh intrik dan sensasi. Sore, opera sabun (red : sinetron) yang agaknya terlalu irasional untuk ditabulasikan ke dalam kehidupan nyata. Malam, acara hiburan yang dikemas dengan cara menganiaya para pengisi acara, baik dengan kata-kata kasar maupun fisik dengan durasi yang dielaborasi berlebihan, hingga tidak bisa diterima oleh akal sehat. Ya, hampir setiap hari yang terjadi ya seperti ini. Ironisnya, bukannya berlomba untuk mendobrak batas, para penyedia layanan televisi justru secara membabi buta terus menganiaya pemirsanya, jangan sampai kalah dengan pesaing, hanya demi rating, sinting!

Do you feel like a chain store? Practically floored, one of many zeroes, kicked around bored, your ears are full but you’re empty. I’ve seen so much, i’m goin’ blind and i’m braindead virtually – Blur (Coffee & TV)

Benar sekali apa yang Graham Coxon cs. analogikan dalam lirik di atas. Saya memang melihat acara televisi, tapi sebenarnya yang masuk ke otak saya ini ya hanya nol besar. Bagaimana bisa? Inilah yang saya rasakan (entah anda), bahwa televisi sekarang sesungguhnya telah meracuni pikiran kita. Ya, racun yang sangat berbahaya. Waktu saya masih kecil, acara hiburan anak yang diisi dengan permainan interaktif, kuis asah otak, nyanyian anak-anak sungguh menggembirakan. Sekarang? Miris melihat anak kecil dibawah umur begitu fasih melenggak-lenggokkan badannya menirukan salah satu maskot acara penganiayaan masal di televisi. Saat saya mulai beranjak remaja, MTV adalah surga, dan di dalamnya berisi para dewa yang benar-benar mampu mengabulkan permintaan para pemujanya dengan alunan musik (yang sesungguhnya) berkualitas. Sekarang? Dewa-dewa sudah tiada, digantikan para iblis yang menciptakan musik bukan karena ingin bermusik, namun hanya karena ingin dipuja. Padahal iblis itu tidak patut dipuja, benar kan? Karena hanya ingin dipuja, karya yang keluar pun terkesan seadanya. Dan ketika saya mulai dewasa, saya sudah tercekoki dengan kisah cinta fana insan manusia yang selalu saya lihat saat tengah hari, yang belakangan saya sadar, bahwa ternyata saya tidak sedang hidup di keluarga Montague & Capulet dalam fiksi Romeo & Juliet. Saya sadar, bahwa di televisi semua yang fana bisa jadi nyata, di televisi kisah cinta bagaikan surga tak peduli neraka.

Beberapa waktu yang lalu saya juga sangat terkejut saat mendengar berita bahwa salah satu pesohor ibukota yang rona merah mukanya selalu bisa kita lihat di televisi, kapanpun waktunya dan apapun stasiunnya, mendapatkan bayaran hampir 90 juta per episodenya. Ya, anda sedang tidak salah baca, 90 juta sekali tayang. Bisa anda bayangkan, jika sehari dia muncul di televisi sampai empat kali, berarti hanya dalam sehari dia bisa mengantongi hampir 400 juta. Dan yang perlu anda garisbawahi tebal-tebal, itu hanya untuk satu pengisi acara, silahkan kalkulasi sendiri jika rata-rata dalam satu episode membutuhkan lima pengisi acara. Yang membuat saya menghela nafas dalam-dalam adalah, uang sebanyak itu dihamburkan hanya untuk membayar seorang peserta berkata kasar, menganiaya pengisi acara lain, mengulik habis kehidupan pribadinya untuk dikonsumsi publik, menghibur secara abstrak dan tanpa konsep, sungguh logika yang sulit saya terima. Kenapa dengan uang sebanyak itu, tidak coba digunakan dengan lebih bijak. Dengan uang sebanyak itu, kenapa tidak membuat acara musik yang ‘sebenar-benarnya?’ Uang 400 juta dalam sehari bisa untuk mendatangkan Efek Rumah Kaca hingga GIGI untuk mengisi acara musik live dengan konsep menarik lengkap dengan settingan termutakhir sampai kuping kita terpuaskan, bukankah jauh lebih menghibur daripada hanya untuk membayar pesohor palsu untuk menyanyi dan bergoyang yang hanya akan merusak pikiran kita? Dengan 400 juta, daripada untuk membayar pengisi acara saling menganiaya, adakan saja turnamen pencak silat untuk generasi muda, lebih murah, lebih edukatif dan jika masih ingin mendapatkan esensi ‘penganiayaan’, kita masih bisa mendapatkannya secara elegan. Dengan 400 juta, undang saja Adrie Subono atau Yoris Sebastian untuk berbagi pengalaman serta memberikan tips serta motivasi yang tentunya akan jauh lebih bermanfaat daripada harus membayar mahal seorang pesohor hanya untuk berbagi romantika pribadinya yang rasa-rasanya juga tidak berpengaruh apapun terhadap kita selain hanya mengakumulasikan dosa.

They’ve sped up to the point where they provoke, the punch-line before they have told the joke. Plenty of desperation to be seen, staring at the television screen – Arctic Monkeys (Teddy Picker)

Sepertinya memang tidak akan habis saya membahas televisi dengan segala kepalsuan dan kefanaannya. Saya pun juga masih bertanya, saya bisa apa? Sepertinya masih ‘jauh panggang dari api’ jika saya harus membuat sendiri stasiun televisi pribadi. Karena sekarang yang dibutuhkan adalah aksi, caci maki sudah tak ada arti, namun saya hanya kurcaci, yang hanya bisa meratapi. Namun kegalauan saya perlahan sedikit terobati, sekarang sudah ada stasiun lokal yang menawarkan sesuatu yang lebih baru dan menarik. Stasiun televisi seperti Kompas TV dan Net.TV perlahan mulai menambal lubang di hati saya akibat sayatan stasiun televisi lokal para penguasa. Memang, stasiun televisi yang baru ini masih harus banyak berjuang untuk dapat bersaing dengan para penguasa, tapi setidaknya mereka sudah berani menantang, untuk mulai melangkahkan kaki meruntuhkan tirani pertelevisian yang ada. Dan saya akan terus mendukung aksi ini, selama masih ada program televisi yang bermanfaat saya tidak boleh berhenti. Karena kunci dari semua ini adalah berani. Seperti kuotasi dari Dallas Buyers Club, salah satu film yang mengisahkan perjuangan hidup yang hebat dari seorang pria dalam melawan penyakit AIDS yang baru saja saya tonton :

“Dare to live!”

Selamatkan pertelevisian Indonesia, selamatkan generasi penerus bangsa!

Selamatkan saya juga, tengok di http://theperceptionists.tumblr.com/

Rabu, 05 Februari 2014

Balada Bisul Telapak Kaki

Apa kabar penggemar? (nulis sambil ngaca). Kangen ya pasti? (masih liat kaca). Wajarlah, saya kan ganteng (kacanya pecah).

Saat pertama kali topik ini terpikirkan, tidak sadar sudah lama saya tidak menyapa kawan-kawan sekalian dengan cerita (yang semoga sepertinya memang benar-benar) lucu. Maka dari itu, saya tertarik untuk berbagi pengalaman menarik saya satu ini.

Kejadian ini saya alami sewaktu saya duduk di kelas 3 SMA, tahun 2009. Semua orang tahu, bahwa masa SMA adalah masa dimana kegantengan saya sedang berada di puncak piramida fase kegantengan seorang remaja pria. Namun semua itu luntur saat tiba-tiba telapak kaki kanan saya terasa nyeri. Awalnya saya anggap hal ini biasa, saya mengira hal ini disebabkan karena saya akan berubah menjadi Chaning Tatum. Namun ternyata semua premis ini patah seketika saat rasa nyeri tersebut terkonversi menjadi bulatan kecil yang jamak disebut : BISUL.

Bisul, ya... bisul. Bulatan yang terbentuk dari adonan daging (manusia) ini tumbuh di telapak kaki kanan saya. Memang sih, ukurannya kecil, tapi bagi saya terlihat seukuran perut ibu hamil. Dan yang paling mengganggu, karena letaknya di telapak kaki, jadi sangat mengganggu aktivitas saya. Setiap ke sekolah, saya harus berjalan pincang, karena kalo bisulnya terinjak, sakit meeen! Teman-teman saya heran dengan cara berjalan saya yang tiba-tiba pincang. Karena malu mengakui kalau saya bisul, setiap ada teman bertanya saya akan selalu menjawab saya pincang karena kapalan kelamaan main ice skating di Zimbabwe, mereka percaya.

Namun, karena takut bisul semakin membesar dan takut bertambah parah, saya pun bilang ke ibu saya supaya bisul di telapak kaki saya cepat-cepat dienyahkan dari muka bumi. Ibu saya pun mengiyakan dan mendukung penuh tawaran untuk mengenyahkan bisul ini dari muka bumi. Kemudian ibu saya lekas mengambil senapan dan menaiki garuda, ternyata ibu saya salah menafsirkan kata ‘mengenyahkan’ (maklum, kebanyakan nonton sinetron Indosiar). Maksud saya, saya minta dibawa ke dokter. Ibu saya awalnya mengiyakan, namun beberapa saat ibu saya teringat sesuatu.

“Mas, gimana kalo dicoba dibawa di klinik kantor ibu dulu? Disana melayani pengobatan buat bisul juga kok.”,
“Hah? Tapi apa bisa dipercaya tuh bu? Kan bukan dokter yang meriksa.”, setengah kaget saya menjawab.
“Bisa kok, percaya deh. Paling juga prosesnya sama kayak dokter. Bedanya kalo dokter bius gajah, di sana bius tengu.”, ibu saya mulai sok tau.
“Tapi bu... Saya agak kurang yakin...”, sambil menelan ludah saya menjawab.
“Ayolah, lagian gratis kok”,
“OKE BU! BERANGKAT SEKARANG!”, jawab saya dengan berapi-api.

Dengan dorongan kekuatan gratis, saya pun bergegas berangkat ke klinik di kantor ibu dengan harapan bisul saya segera enyah dari muka bumi. Sambil menunggu antrian, saya berbincang dengan bisul untuk yang terakhir kalinya. Kami bercengkerama, bercumbu hingga akhirnya tukar cincin. Hingga akhirnya giliran saya tiba. Saya sedikit tersentak, melihat kondisi ruangan klinik yang sangat steril ini. Jadi satu dengan tumpukan beras, kardus dan tumpukan perbekalan kantor. Saya jadi curiga, jangan-jangan setelah bisul saya diambil, saya disekap, dibuat pingsan kemudian keesokan harinya saya sudah berada di kapal perompak Somalia sebagai tebusan sandera yang ditawan. Namun saya tidak peduli, for the sake of ‘tetap ganteng’, saya harus tetap maju. Kemudian ada seorang pria paruh baya berperawakan gempal berkulit gelap mengenakan setelan baju olahraga dengan badan dipenuhi keringat. “Kingkong lepas dari mana nih?”, begitu ujar saya dalam hati. Sampai kemudian pria gelap tersebut mengajak bicara?

“Jadi ini yang tumbuh bisulnya di kaki ya?!!”, pria tersebut bertanya sambil berteriak, hingga mungkin seisi kantor mendengar. Sepertinya dia tidak bisa membedakan antara menjaga privasi pasien dan membunuhnya secara perlahan.
“I... iya pak, bapak siapa?”, ujar saya lirih karena takut dipermalukan lagi.
“Haha, perkenalkan, nama saya Honda (nama disamarkan), saya yang nanti akan mengambil bisul kamu”

Saya syok setengah mati mendengarnya, PRIA GELAP INI YANG AKAN MENGAMBIL BISUL SAYA??!! Kenapa tidak sekalian menyuruh penjual gorengan di depan kantor untuk mengambilnya?!! Tampang penjual gorengan di depan kantor terlihat lebih meyakinkan dari Pak Honda ini.

“Haha, kamu pasti syok ya? Wajar, tampang saya memang kurang meyakinkan sih, jadi pasien kadang takut, jadi saya sering sepi pasien”.

NAH, ITU BAPAK SADAR!!! Tau tampangnya udah gak meyakinkan kenapa gak resign aja dari profesi ini? Ajukan surat pengunduran diri, terus ganti profesi jadi pedagang Bakmi Jawa, itu lebih pantas sepertinya.

“Tenang aja dek, begini-begini kalo Cuma ambil bisul perkara gampang kok, saya sudah sering, jadi adek tenang aja, percaya deh sama saya”, ujar bapak tersebut sambil tersenyum.

Karena saya sudah tidak kuat dengan bisul yang mengganggu ini saya pun menguatkan iman saya untuk dengan ikhlas hati diperiksa oleh Pak Honda. Kalaupun nanti Pak Honda macam-macam dengan saya, tinggal saya arahkan bisul saya di depan mukanya.

“Baik pak, kalo begitu bisa dimulai sekarang?”, tanya saya sambil pasang tampang meyakinkan.
“Boleh, sekarang silahkan dilepas sepatunya dan adek tengkurap di kasur, saya siapkan dulu alat-alatnya”.

Saya pun menuruti instruksi dari Pak Honda, saya lepas sepatu dan mulai tengkurap di kasur tersebut. Kemudian Pak Honda terlihat sudah selesai persiapan dan kemudian menghampiri saya.

“Ini dibius dulu ya dek, agak sakit pas disuntik, jangan kaget ya”,

Karena saya memang tidak takut dengan jarum suntik, saya pun mengiyakan dengan antusias,“SIAP PAK!”.

Setelah dibius, dan menunggu sekitar 2 menit agar efek bius ini bekerja. Akhirnya proses pengangkatan bisul dimulai. Saya hanya bisa pasrah dan berdoa, semoga berjalan lancar dan kegantengan saya kembali seperti sediakala. Sekitar 10 menit semua berjalan lancar dan saya yakin semua pasti akan baik-baik saja dan operasi sukses. Namun bayangan tersebut buyar seketika saat Pak Honda mengatakan sesuatu.

“Aduh dek, ini guntingnya udah rusak, sebentar ya saya pinjamkan gunting ruang sebelah dulu”.

WHAT THE....???? Hei Pak Honda, ini udah operasi pak, masak iya guntingnya harus pinjem? Ya kalo ada, kalo gak? Masak iya Pak Honda bakal bilang,”Dek ini berhubung guntingnya lagi kosong, dilanjut besok ya operasinya, adek berbaring disini dulu sampe 2 minggu ke depan, soalnya saya mau umroh dulu, nanti pas di Arab saya sekalian beli gunting yang baru, sekalian tak bawain kurma”. OH NO!!! Operasi macam apa ini? Baru kali ini ada kasus operasi guntingnya rusak dan harus cari pinjaman. Syukur kalo nanti ada gunting yang pas, kalo adanya Cuma gunting rumput? Lagipula saya juga tidak bodoh bahwa gunting untuk operasi itu guntingnya khusus. Tapi karena dorongan untuk ganteng terus membara apa boleh buat.

“Oh gitu ya pak? Ya... silahkan pak...”, sambil dalam hati saya berdzikir 1000x.
“Sebentar ya dek, adek tunggu di sini saja, jangan kemana-mana”, Pak Honda kemudian keluar.

Ya iyalah pak, saya gak akan kemana-mana juga, bisa apa saya dengan kaki masih disayat-sayat belum selesai seperti ini? Mungkin Pak Honda takut kalo saya tiba-tiba pergi ke Amplaz dan baru pulang esok harinya.

Sejurus kemudian Pak Honda kembali.

“Sudah dapet dek guntingnya, mari dilanjutkan”, Pak Honda berbicara seolah melanjutkan kembali operasi yang tertunda sama entengnya dengan melanjutkan bermain catur setelah ditinggal pipis.

Akhirnya operasi pun dilanjutkan, sepertinya akan berjalan lancar, karena tinggal dijahit untuk menutup bekas luka. Tapi...

“Aduh dek, maaf lagi, ini benangnya habis, saya carikan dulu ya”

@@$!&&%%$^&@&**!!!!!!!!! Saya sudah kehabisan kata-kata. Pikiran saya melayang entah kemana. Saya jadi berburuk sangka dengan semuanya. Jangan-jangan klinik ini baru didirikan khusus untuk operasi saya, jangan-jangan Pak Honda ini adalah utusan sekte terlarang untuk membinasakan umat manusia dengan modus pengangkatan bisul.

“Tenang dek, saya coba carikan di ruang sebelah lagi, siapa tau ada,sebentar kok”.

Ya kalo ada pak? Kalo gak? Saya jadi membayangkan lagi Pak Honda bilang,”Aduh maaf dek, benangnya habis, operasinya dilanjut 2 bulan lagi ya? Saya soalnya mau naik haji ini, nanti adek saya suntik tidur biar berbaring disini, nanti kalo saya udah pulang, tak bangunin”. OH MEEEN!!! Saya sudah kehabisan akal, sampai-sampai saya mau menyuruh Pak Honda supaya menjahit saja dengan tali rafia di atas meja, supaya lekas selesai. Tapi sekali lagi, kalo tidak demi kegantengan, saya tidak akan lakukan ini.

“Yasudah pak..... silahkan...”, dengan mata sembab saya mengijinkan Pak Honda.

“Tunggu disini ya dek, jangan kemana-mana, sebentar kok”, ucap Pak Honda diiringi kekhawatiran jika saya pergi ke Timezone saat Pak Honda sibuk meminjam benang.

Pak Honda kemudian keluar. Dan setelah menunggu, Pak Honda pun akhirnya kembali sambil membawa benang. Saya pun merasa lega, operasi pun dilanjutkan. Sekitar 10 menit kemudian, operasi benar-benar selesai. Alhamdulillah, tidak ada lagi kendala yang datang. Saya pun berterima kasih kepada Pak Honda atas jasanya, Pak Honda juga dengan senang hati bisa membantu. Saya pun pulang ke rumah dengan rasa bangga, karena kegantengan saya bisa segera kembali. Sesampainya di rumah, saya mengintip jahitan di operasi saya, ternyata jahitannya berbentuk nomor HP Pak Honda disertai tulisan “Call Me If You Feel Lonely”.

.....

Saya pun juga sudah bisa langsung beraktivitas, termasuk berangkat sekolah, walaupun harus memakai sandal. Banyak teman saya yang berkata ada apa dengan kaki saya, agar tetap terlihat keren, setiap ada teman yang bertanya, saya selalu menjawab,”Iya nih, habis nginjek berlian yang berserakan di lantai rumah”. Seminggu kemudian saya sudah sembuh total, perban bisa dibuka dan saya bisa beraktivitas seperti semula. Resmi sudah, kegantengan saya telah kembali.

Namun ternyata masalah tidak hanya berhenti sampai di situ, sekitar 2 bulan kemudian telapak kaki kanan saya terasa nyeri lagi. Saya membiarkannya, karena perkiraan saya ini adalah proses perubahan saya untuk menjadi Adam Levine. Ternyata tidak, ada sesuatu yang muncul dan itu... BISUL SAYA TUMBUH LAGI, DI KOORDINAT YANG SAMA SEPERTI AWALNYA!!!!! Seketika itu dunia terasa runtuh. Hal yang pertama saya lakukan adalah menghubungi Pak Honda, karena nomor HP yang dijahit di kaki saya sudah saya catat. Namun ternyata tidak ada jawaban, belakangan diketahui bahwa Pak Honda sudah pergi ke Hongkong, jadi TKI. Karena saya sudah tidak tahan dan saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama, saya memaksa ibu saya untuk benar-benar membawa saya ke dokter yang benar-benar terpercaya. Ibu saya akhirnya mengiyakan setelah terjadi perdebatan sengit selama 4 jam.

Keesokan harinya, pagi-pagi kami berangkat ke rumah sakit, melakukan registrasi untuk pengobatan. Beruntunglah, saat itu saya mendapatkan antrian pertama. Malu saya sedikit tereduksi, karena bisa segera masuk tanpa diperhatikan banyak orang. Kemudian saya dipanggil masuk oleh mbak perawat ke ruang operasi. Sesampainya di dalam, ternyata dokter belum datang, mbak perawat kemudian mempersiapkan peralatan operasi dan mencoba mengecek kaki saya.

“Oalah, ini mah bukan bisul dek, ini namanya clavus. Beda sama bisul”.
“Oh gitu ya mbak, emang bedanya apa?”, saya penasaran.
“Ya beda dong, clavus itu ada jaringan yang tumbuhnya gak normal, jadi seakan-akan ada daging tumbuh, biasanya disebut juga bisul”, ujar mbak perawat.
“HAHAHAHA (tertawa bodoh dalam hati), iya mbak, beda banget ya sama bisul”, saya mencoba membanggakan penjelasan dari mbak perawat, supaya dia puas bisa menjelaskan perbedaan tersebut dengan sangat gamblang.

Tak lama kemudian dokter datang. Ternyata dokternya adalah seorang ibu-ibu muda yang masih nampak cantik dengan penampilan terjaga di usianya yang mungkin baru 40an tahun.

“Selamat pagi dek, perkenalkan saya Dokter Yamaha (nama disamarkan), saya dokter yang akan mengoperasi kamu. Coba saya cek dulu”.

Dokter Yamaha terlihat sangat meyakinkan dan cekatan, sangat berbeda dengan Pak Honda. Saya jadi sangat yakin bahwa kali ini pasti akan langsung berhasil.

“Oalah ini clavus, bukan bisul kok”, kata dokter Yamaha, tanpa menjelaskan perbedannya.
“Langsung saja dimulai operasinya, sudah siap kan?”, tanya Dokter Yamaha.
“Baik dok”.
“Oke, kalo gitu langsung tengkurap di kasur, saya persiapan dulu”.

Saya pun berbaring di kasur, sembari menunggu Dokter Yamaha mempersiapkan alat. Kemudian operasi pun dimulai, saya dibius seperti biasa. Sambil menunggu reaksi obat bius, Dokter Yamaha menjelaskan sesuatu kepada saya.

“Dek, nanti kita pake metode operasinya pake teknik laser. Jadi pembedahannya pake alat laser ini”, ujar Dokter Yamaha sambil menunjukkan alat sebesar knalpot motor menggantung di atas.

Saya terkejut, jangan-jangan laser itu nanti akan ditembakkan ke saya? Memang bisul saya lenyap, tapi saya juga ikut lenyap.

“Oh... La terus bedanya sama yang biasa apa dok?”, saya bertanya bercampur takut.
“Jadi kalo pake laser, gak perlu dibedah manual pake gunting atau pisau, gak perlu dijahit juga. Penyembuhannya juga cepet kok, udah banyak pasien saya operasi pake teknik laser, lebih efektif”, Dokter Yamaha menjelaskan dengan sangat meyakinkan.

Setelah mendengarkan penjelasan Dokter Yamaha, saya pun semakin mantap untuk melakukan operasi. Saya sangat yakin kejadian Pak Honda tidak terulang di sini. Sepertinya tidak mungkin Dokter Yamaha akan bilang,”Waduh dek, ini bensin lasernya habis, diganti pakai Petromax dulu ya”. Saya percaya kamu, Dokter Yamaha...

Operasi pun berlangsung, selama sekitar 20 menit, operasi akhirnya selesai. Alhamdulillah, tidak terjadi apa-apa, semua berjalan lancar. Dokter pun menjelaskan perawatan pasca operasi sembari menuliskan resep dokter. Apabila lancar, dalam 5 hari ke depan saya sudah sembuh total. Saya pun berterima kasih kepada Dokter Yamaha, tidak lupa berterima kasih kepada Mbak Perawat atas penjelasan perbedaan antara clavus dan bisul. Saya pun berpamitan meninggalkan ruang operasi.

Keesokan harinya, saya tetap berangkat sekolah walaupun kaki harus diperban menggunakan sandal sambil berjalan pincang. Teman-teman saya tentu heran, kenapa saya diperban lagi. Supaya tetap tampil prima, setiap teman bertanya saya selalu menjawab,”Iya nih guys, habis keserempet Lamborghini yang dibawa pembantu buat beli sayur lodeh di depan rumah”.

Dan akhirnya, sampai sekarang bisul, eh clavus di telapak kaki kanan saya tidak pernah muncul lagi. Semoga selamanya, dia enyah dari muka bumi ini (pasang muka melotot dan berbicara dalam hati ala sinetron di TV).
Bye-bye Balada Bisul Telapak Kaki!

P.S : Pembaca yang budiman adalah pembaca yang meninggalkan komentar di comment box, hehe.

Mampir juga ya di http:// dan http://theperceptionists.tumblr.com/

Fenomena 'Music Haters'

Tulisan ini juga dimuat di http://theperceptionists.tumblr.com/

Pada mulanya saya sedikit bingung mengenai topik ini. Berkaitan dengan music haters maupun tetek bengeknya. Bukan apa-apa, saya adalah tipikal orang yang mendengarkan musik karena musiknya, bukan tampangnya, lingkungannya, ataupun isu yang mengiringinya. Jadi saya tidak pernah terlalu memusingkan keberadaan haters dari sebuah band. Jika suatu musik nyaman di telinga dan masuk ke jiwa, hajar saja, tak peduli berapa banyak jumlah haters-nya .

Namun, setelah membaca persepsi yang dituangkan oleh sahabat saya, Dwian, mata saya jadi sedikit terbuka, alhasil, tergeraklah jari saya.

Haters, saya tidak tahu pasti definisi tentang kata ini, namun jika dirunut, haters berarti pembenci. Dalam musik, haters berarti pembenci musik, dalam hal ini bisa merujuk kepada pembenci suatu band atau aliran musik tertentu. Yang jadi pertanyaan adalah, mengapa mereka bisa membenci?

Sebenarnya saya bingung, geleng-geleng kepala. Musiknya bagus, tapi kenapa banyak yang membenci? Memang, bagus dan tidak itu perkara persepsi. Tapi di dalam musik sebenarnya tidak sahih kita mengatakan bagus dan tidak, musik adalah seni, dan seni menyoal persepsi. Pertanyaan belum terjawab, apa yang membuat mereka benci. Saya tidak tahu pasti, namun saya mencoba menganalisanya dengan persepsi saya sendiri.

Saya ambil kasus, dulu saat saya SMA, sekitar tahun 2007-2009, sedang nge-hype di kalangan seumuran saya band Pee Wee Gaskins. Saya termasuk yang bersyukur, band seperti Pee Wee Gaskins diturunkan oleh Tuhan ke dunia. Mengapa? Sekali lagi, saya menikmati musik karena musiknya. Memang, sama seperti sahabat saya Dwian, rock n’roll adalah kiblat saya dalam bermusik. Jimi Hendrix, Stevie Ray Vaughan, Led Zeppelin, The Rolling Stones, AC/DC, The Datsuns, Arctic Monkeys, The Black Keys, The S.I.G.I.T wajib hukumnya ada di playlist saya. Namun, saya juga tidak menutup mata terhadap band lain di luar rock n’roll. Saya juga sering menikmati alunan musik pop ala The Script, All Time Low, A Rocket To The Moon dll. Saya nyaman ketika mendengar alunan jazz khas George Benson, Corine Bailey Rae, Casiopea. Saya terbelalak saat mendengar alunan instrumental khas Depapepe maupun Trisum. Saya pun merasa nikmat mendengar sentuhan folk khas Ed Sheeran, Of Monsters and Men. Saya juga bisa terbang saat mendengar David Archuleta, Taylor Swift, Alanis Morisette, Carie Underwood, Katy Perry, Avril Lavigne berdendang. Bahkan percaya tak percaya, kepala saya juga bisa terhentak saat mendengar bombardir metal tiada ampun dari Deadsquad, Burgerkill Lamb Of God. Jadi saat Pee Wee Gaskins datang dengan sentuhan power-pop, khas dengan bebunyian synthesizer, saya kagum. Karena bagi saya mereka hebat, mereka bisa menciptakan musik hebat dan mendobrak pagar musik Indonesia yang waktu itu sangat didominasi band beraliran melayu, yang kurang sesuai dengan selera saya. Seiring perkembangan waktu, ternyata banyak haters yang menyuarakan kebenciannya terhadap band satu ini. Saya bingung, apa yang salah dengan Pee Wee Gaskins? Musik mereka bagus, skill para personilnya hebat, kemampuan musikalitas dalam mencipta lagu juga patut diacungi jempol, namun kenapa banyak yang membenci? Ternyata mayoritas para haters tersebut justru bukan membenci musiknya, tapi gaya berpakaian para personilnya, kelakuan fansnya bahkan hingga alasan klise karena mereka terlalu banyak tampil di gigs.

Saya tersenyum lebar saat mengetahui hal itu. Belajar dari kasus Pee Wee Gaskins di atas, ternyata banyak haters yang membenci suatu band bukan karena musiknya, tapi justru hal di luar musik itu sendiri. Lagi-lagi saya geleng-geleng kepala.

Benci gaya berpakaian? Kita adalah penikmat musik, bukan seorang fashion police. Memang benar, gaya seorang musisi bisa memperkuat imajinasi kita dalam menikmati musik dan gaya berpakaian juga menjadi identitas penegas yang bisa diidentikkan dengan musik suatu band tersebut. Saya belum bisa membayangkan apa jadinya Angus Young tanpa setelan jas seragam SD dengan topi khasnya, Red Hot Chili Peppers tanpa bertelanjang dada, Kiss tanpa make up uniknya, Stevie Ray Vaughan tanpa setelan cowboy-nya, bahkan Jimi Hendrix tanpa belly pants-nya. Tapi menghakimi suatu band itu buruk hanya karena gaya berpakaian? Berarti para haters itu menurut saya justru belum mengerti musik. Sama sekali tidak ada korelasi antara kualitas bermusik dengan gaya berpakaian. Gaya berpakaian hanya pendukung imajinasi, bukan faktor penentu musikalitas suatu band. Tak masalah suatu band berpakaian compang-camping asal kepala bisa mengayun saat mendengarnya.

Kelakuan fans suatu band yang sepertinya ‘alay’ jadi alasan para haters muncul? Jika memang yang bermasalah adalah fansnya, kenapa tidak menjadi haters fans tersebut? Lagipula memang kelakuan para fans seperti apa yang mereka anggap ‘alay’? Klasifikasi kelakuan ‘alay’ inilah yang sama sekali tidak jelas seperti apa. Saya pribadi tidak pernah mempermasalahkan tentang fans. Selama tidak anarkhi, saya tidak menyoal. Lagipula apa arti konser live tanpa bernyanyi bersama fans, headbanging, moshpit dan stage diving? Apa arti band tanpa kehadiran fans? Justru fans suatu band yang menjadi haters band lain itulah yang saya anggap ‘alay’.

Terlalu sering muncul di gigs. So what? Itu berarti suatu band berprestasi, suatu band dicintai, suatu band dihargai. Gigs, bagi saya adalah bentuk apresiasi tertinggi terhadap suatu band, ada kenikmatan batin saat melihat suatu band bermain di depan para penikmatnya, tanpa tedeng aling-aling, benar-benar jujur, dengan tanpa berkomunikasi pun mereka bisa saling memahami. Karena bagi saya lebih menyenangkan melihat suatu band sering tampil di acara musik yang hanya disaksikan oleh 10 orang namun benar-benar mengerti musik hingga suasana menjadi gila daripada band yang hanya tampil ala kadarnya dalam acara sirkus pagi di depan 100 orang yang (mungkin) tidak tahu band apa yang sedang tampil. Jadi, alasan tersebut sangat tidak relevan dilontarkan oleh haters hanya karena suatu band sering diundang di banyak acara musik. Benci atau iri?

Bagi saya, sah-sah saja suka atau tidak suka terhadap suatu band atupun genre musik tertentu, itu adalah pilihan. Yang saya tidak suka adalah, bentuk penyampaian ekspresi dari pilihan tersebut. Jika memang tidak suka, ya dibalas dengan karya yang lebih hebat, tak perlu berkoar-koar kesana kemari, malah membuat para haters menjadi lebih rendah daripada band yang mereka benci. Jika ingin mengungkapkan ekspresi, contohlah Efek Rumah Kaca, elegan bukan? Lagipula para penikmat musik sudah sangat cerdas, pada akhirnya kualitas yang berbicara, band yang benar-benar mengerti musik seutuhnyalah yang akan bertahan. Nyatanya Pee Wee Gaskins tetap bertahan sampai sekarang, bahkan saya baru mendengar kabar sekitar setahun lalu mereka diundang ke Jepang untuk menjadi pengisi acara salah satu festival musik dengan skala yang cukup besar disana. See? Quality proved it!

Jadi menurut saya inti dari semua ini adalah ternyata sikap yang dilontarkan para haters ini diakibatkan mereka tidak mampu menjadi lebih baik daripada band yang mereka benci. Lalu mereka menjadi menyalahkan musik. Huft...

‘Karena saya percaya, musik itu sendiri tidak pernah salah, yang dapat membuat ‘musik’ itu nampak buruk adalah sistem yang berinteraksi dengannya’

Salah satunya para haters.

Rabu, 15 Januari 2014

Bahagia Itu Sederhana #2

‘Jika kebahagiaan sulit dicari, buatlah sendiri kebahagiaan itu’ – Saya Sendiri

Kuotasi yang saya legitimasi sendiri tersebut tiba-tiba menyeruak di kepala saya setelah beberapa hari ini saya sedang libur kuliah karena break ujian, dan waktu libur ini lebih banyak saya habiskan di rumah, melakukan rutinitas yang akhir-akhir ini sering saya lupakan. Dari hanya mulai bangun tidur, berolahraga ringan, menonton televisi, berbaring seharian di atas tempat tidur, yang sekilas secara kasat mata nampak seperti suatu repetisi dari kesederhanaan, namun ternyata pada akhirnya semua terakumulasi menjadi suatu kebahagiaan. Ya, selama kurang lebih lima hari ini saya melakukan hal sederhana, ternyata ada beberapa kebahagiaan yang saya peroleh. Seperti yang banyak orang bijak utarakan bahwa kita harus berbagi kebahagiaan. Saya akan berbagi kebahagiaan yang sudah saya alami ini, semoga kebahagiaan yang sederhana ini bisa juga anda terapkan, berdifusi kepada lingkungan menjadi kebahagiaan yang lebih besar. Karena bahagia itu :

1. Bahagia itu adalah saat makan nasi padang pakai rendang daging plus kuah santan yang lumer, langsung dengan tangan di warung padang favorit. Tidak perlu harus ke restoran mewah yang menyajikan kuliner khas Jepang atau Eropa untuk sekedar memanjakan lidah kita, bagi saya, nasi padang pakai rendang adalah surga dunia. Takar kemampuan anda jika ingin bahagia, makan adalah sesuatu yang intim, hanya antara anda dengan makanan. Makanan diciptakan untuk kebahagiaan, bukan untuk pencitraan, usahlah pergi ke restoran bintang lima jika karena hanya ingin mendapatkan citra. Anda tidak akan menemukan kebahagiaan.

‘Kebahagiaan datang saat anda sudah mampu menakar kemauan terhadap kemampuan’ – Saya Sendiri

2. Bahagia itu adalah saat saya belajar tanpa ada paksaan, belajar karena memang saya ingin belajar, bukan karena saya harus belajar. Seakan hal kalimat di atas mungkin terdengar klise bagi anda, memang, ada unsur pelarian atas ‘gelar’ yang saya sandang, yaitu ‘Mahasiswa Tingkat Akhir’, tapi sungguh, hal tersebut benar-benar saya rasakan dan lakukan saat Ujian Akhir Semester (UAS) ini. Saat belajar, saya memang terkesan asal-asalan saat UAS ini, tanpa tendensi, tanpa alibi, tapi justru saya nyaman saat belajar maupun mengerjakan. Saat belajar saya tidak ada paksaan, saat mengerjakan terasa tanpa beban. Saya tidak terbebani mendapat hasil jelek, karena memang usaha saya standar, jika baik, saya rasa saya juga tak akan berlebihan. Saat tidak bisa, saya tetap bahagia, saat bisa saya akan bahagia. Kebahagiaan kadang datang dari hal yang banyak orang menganggapnya perkara, tapi ternyata itu salah.

‘Kadang, semakin anda kurang paham, semakin anda bahagia’ – Saya Sendiri

3. Bahagia itu adalah saat saya mengayunkan kepala saya sambil mendengarkan musik rock n’roll, apalagi jika saya sendiri yang bermain drum diiringi raungan Fender Telecaster sahabat saya, Dwian Kusuma Hendra. Saat saya mendengar dan memainkan riff-riff gahar dari The S.I.G.I.T, The Datsuns, The Black Keys, Arctic Monkeys, Wolfmother, The Vines, Jimi Hendrix, Nirvana dan Stevie Ray Vaughan, saya merasa lepas, sejenak saya merasa beban saya turut lenyap bersamaan dengan hentakan musik yang mengalun lepas. Saat itu saya bahagia, rock n’roll selalu bisa membuat saya bahagia.

‘Bahagia itu seperti musik rock, cukup keraskan suara dan ayunkan kepala’ – Saya Sendiri

4. Bahagia itu saat menonton film. Saya sangat hobi menonton film, selama libur ini, sudah banyak film yang saya tonton, terutama film rilisan baru yang memukau. Dan saya benar-benar terpukau oleh akting Bradley Cooper dan Amy Adams dalam American Hustle, Kehebatan Matthew McConaughey dan totalitas Jared Leto dalam Dallas Buyers Club, Kisah cinta yang edgy nan out of the box yang oleh dibuat Joseph Gordon-Levitt dalam Don Jon, Peran Cate Blanchett dalam Blue Jasmine, kepiawaian Leonardo DiCaprio dalam The Wolf Of Wall Street, kehebatan Matt Damon dalam Behind The Candelabra, serta penampilan salah satu aktor idola saya, Tom Hanks dalam Captain Philips. Semua film tersebut saya tonton selama masa liburan ini, benar-benar suatu kebahagiaan. Menonton film itu bagi saya benar-benar kebahagiaan, hanya cukup bermodalkan mata dan kesabaran mengikuti cerita, saya ternyata bisa juga bahagia.

‘Kadang ada saat dimana kebahagiaan hanya butuh sedikit usaha dan kesabaran yang menentukan hasilnya’ – Saya Sendiri

Itulah secuil kebahagiaan sederhana yang saya peroleh dengan kesederhanaan. Saya yakin, anda pasti bisa menemukan lebih banyak lagi kebahagiaan dalam setiap langkah anda.

Karena bahagia itu sederhana, ya, sesederhana itulah kebahagiaan.

P.S : Karena bahagia itu sederhana, baca juga tulisan saya sebelum ini dan mari mampir juga di http://wordsdontslowmedown.tumblr.com/ dan http://theperceptionists.tumblr.com/ semoga bahagia

Melihat Masa Depan

“Duh, coba dulu kita kerjain ya...”
“Kenapa nggak dari dulu?”
“Andai waktu bisa diputar kembali”

Kalimat tersebut sedikit dari sederetan frasa yang sering mengunang-mengunang di kepala saya, bahkan mungkin kita semua. Frasa yang mencerminkan penyesalan terhadap hal yang sudah terjadi. Sedikit mengundang empati dari saya, karena saya juga termasuk korbannya. Andai kita bisa melihat masa depan. Sayang, kita bukan Nostradamus yang termasyhur itu, kita hanya jelata liar tak berdaya jika waktu sudah menampakkan ‘kekejiannya’. Ya, waktu memang keji, waktu adalah simbol sebuah kelaliman dari kita yang tak mampu mengagungkannya.

Masuk ke inti, tiga frasa di atas mencerminkan bahwa kita masih belum dapat memahami waktu dengan baik. Jikalau boleh saya ungkapkan, jaman sekarang ini adalah peradaban yang menuntut kita harus bisa ‘melihat masa depan’. Menuntut kita menjadi seorang ‘visioner’.

Sekarang ini bukan lagi era dimana orang dengan bebas berkata,”Kita harus melakukannya, karena sudah sejak pertama kali kita disini, hal tersebut selalu dilakukan”. Bukan pula era untuk berkata,”Hal tersebut sudah menjadi tradisi yang harus dilakukan, apapun resikonya”. Bukan lagi saatnya histori masa lalu kita jadikan pranala ataupun hipotesa untuk mengambil suatu keputusan. Sekarang ini, kita harus mampu ‘melihat masa depan’.
Masih mau mendengar lagi tiga frasa di atas? Kalau histori adalah nilai anda, sekali lagi, jika waktu sudah menampakkan kelalimannya, anda bisa apa?

Zaman sekarang keras kawan, sedetik saja anda terlentang, tengkurap sudah logika anda. Sekarang ini, zaman menuntut kita untuk tidak lagi berpikir linear : putuskan A, jika terjadi B, selesaikan dengan C, jika gagal, teruskan dengan D. Jika yang terjadi adalah B’? Tersenyum sedikit ah...

Zaman sekarang ini menuntut kita harus berpikir secara paralel nan multidimensional. Jika masih bertahan dengan pola linear berazaskan tradisi, paling-paling mati. Mari berpikir paralel : putuskan A, jika terjadi B, selesaikan dengan B atau C. Jika yang terjadi B” selesaikan dengan B,B” dan C, begitu seterusnya. Percayalah, niscaya anda tidak akan mendengar lagi mondegreen akibat kelaliman dari sang waktu.

Mari, cobalah kita bersahabat dengan waktu. Bukan berarti memusuhi histori, hanya coba sedikit lakukan pendekatan paripurna terhadap masa depan. Bukannya banyak orang bijak yang bilang, masa depan itu lebih penting ya?

Marilah coba berpikir paralel, marilah bersahabat dengan waktu, marilah ‘melihat masa depan’ di setiap hal.

Oh iya, mari melihat masa depan dengan melihatv tulisan saya sesudah ini, di atas