Jumat, 24 November 2017

Momen Lebaran Bersama Traveloka

Jakarta, 15 Juni 2017

Malam itu, sepulang saya dari Shalat Tarawih di salah satu masjid di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, saya melihat ke arah anak-anak kecil yang sedang riuh gembira berlatih takbir Lebaran. Saya pun bergumam dalam hati, “Ah andai saja di malam lebaran nanti saya bisa bisa mengikuti gema takbir langsung dari kampung halaman di Jogja, rasanya pasti akan lebih menyenangkan”.

Ya, malam itu adalah malam pertama saya berada di perantauan.Tugas yang diamanatkan oleh perusahaan tempat saya bekerja membuat saya dimutasi ke Jakarta dan ini adalah pengalaman pertama saya merantau seumur hidup. Maklum, sejak lahir hingga selesai kuliah, saya tidak pernah berpindah dari Jogja. Pengalaman serba pertama inilah yang membuat saya nihil pengalaman mengenai bagaimana hidup di perantauan, termasuk salah satunya yang paling krusial : Berburu tiket pulang kampung.

‘Pulang kampung’ dan ‘tiket’ seakan sudah menjadi sebuah paket yang tidak dapat terpisahkan dari orang-orang yang berada di perantauan. Para perantau pasti sudah tidak asing dengan yang namanya berburu tiket serta beradu cepat dalam membelinya. Apalagi di momen lebaran, para perantau sejati tentu awam dengan hal ini dan tentu sudah memesan tiket sejak jauh-jauh hari. Namun nahasnya, kabar mutasi baru saya peroleh sekitar tiga minggu menjelang lebaran dan saya sudah harus pindah beberapa hari sesudahnya, sehingga persiapan yang saya lakukan pun serba mendadak. Banyak hal yang belum tersiapkan dengan baik, termasuk salah satunya tiket pulang kampung ke Jogja.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa tiket pulang lebaran selalu menjadi ‘momok’ menahun bagi para perantau. Jumlah kursi yang terbatas yang dibarengi dengan tingginya peminat, membuat tiket yang sudah dirilis (bahkan) tiga bulan sebelumnya pun bisa habis hanya dalam hitungan jam. Dalam momen seperti ini, website dan aplikasi e-ticketing seperti Traveloka menjadi ‘sasaran empuk’ para Ticket Hunter garis keras. Dan saya adalah korbannya. Saya tidak mendapatkan tiket kereta api untuk pulang ke Jogja di saat lebaran kala itu. Memang masih ada opsi lain yaitu menggunakan pesawat terbang. Namun, kita semua tentu paham bahwa harga tiket pesawat di saat musim mudik lebaran tentu akan melonjak cukup drastis dan tidak terjangkau bagi saya. Saya dan keluarga awalnya sangat sedih dan sudah ikhlas bahwa di momen Lebaran kali ini saya tidak bisa pulang ke Jogja. Sebagai gantinya, saya berencana akan mengambil cuti setelah Lebaran dan pulang kampung untuk menggantinya. Saya berpikir ini tidak akan menjadi masalah besar, toh ini pengalaman pertama dan cukup sekali saja, ke depan saya berjanji akan lebih mempersiapkannya dengan baik. Awalnya saya pikir semua akan berjalan baik-baik saja. Namun setelah dijalani beberapa hari di perantauan, tidak pernah terbersit sedikitpun bahwa membayangkan Lebaran tanpa kumpul keluarga dan makan ketupat opor ayam saja akan terasa begitu berat.

Beruntunglah ada aplikasi Traveloka. Saya termasuk pelanggan setia Traveloka dalam hal membeli tiket kendati saya bukanlah orang yang hobi travelling. Lantas, mengapa saya bisa sampai menjadi pelanggan setia Traveloka? Ada cerita unik dibaliknya. Saya bisa dibilang cukup sering menggunakan aplikasi Traveloka sejak dua tahun belakangan. Karena boleh dibilang, saya menjadi ‘point of contact’ di keluarga dan keluarga besar saya dalam hal perjalanan via kereta api. Kok bisa? Jadi begini, banyak om dan tante saya yang tinggal di Gunungkidul (salah satu kabupaten di ujung timur provinsi DI Yogyalarta) yang merasa repot setiap kali harus melakukan pembelian tiket kereta api. Maklum, di dearah tempat mereka tinggal, akses untuk membeli tiket cukup sulit ditambah lagi generasi om dan tante saya tidak familiar dengan sistem e-ticketing semacam Traveloka. Saya masih ingat betul, waktu itu saya membelikan tiket kereta api untuk Om dan Tante saya melalui aplikasi Traveloka dan seketika mereka ‘terkagum’ dengan kemudahan dan kecepatan layanan yang diberikan oleh Traveloka. Dan sejak momen itu, setiap kali Om, Tante atau sanak saudara saya yang lain ingin bepergian ke luar kota, mereka pasti meminta tolong saya untuk mencarikan tiket. Karena mereka hanya tinggal duduk manis dan menunggu dalam hitungan menit. Lalu voila! tiket pun sudah ada di tangan.

Kembali ke cerita saya. Didorong oleh rasa kangen rumah yang semakin membuncah dan harga tiket pesawat yang makin tak terjangkau, saya pun iseng-iseng membuka aplikasi Traveloka di smartphone. Yup, inilah salah satu manfaat aplikasi Traveloka untuk pekerja kantoran seperti saya. Di tengah kesibukan dari pagi hingga malam, aplikasi ini sangat membantu karena saya bisa mengaksesnya 24 jam bahkan sambil tidur-tiduran sekalipun. Hal yang tentu tidak terpikirkan oleh kita beberapa tahun yang lalu bahwa membeli tiket akan menjadi semudah dan semenarik ini. Maksud saya membuka aplikasi Traveloka adalah saya berharap siapa tahu masih ada sisa tiket dari orang yang membatalkan pesanan mereka. Inilah satu lagi keunggulan dari Traveloka, kendati tiket sudah terjual habis, kita masih bisa melihat apakah masih ada sisa tiket dari hasil orang yang membatalkan. Dan ajaibnya saya bak mendapat durian runtuh malam itu. Ternyata di malam itu, ada satu tiket tersisa yang saya yakin hasil dari pembatalan oleh orang  yang lebih dulu membelinya. Dan ajaibnya lagi, saya mendapat tiketnya langsung untuk tiket pulang-pergi. Waktu itu saya mendapat tiket pulang ke Jogja naik Argo Dwipangga via Stasiun Gambir untuk hari Sabtu tanggal 24 Juni 2017 pukul 8 pagi serta tiket kembali ke Jakarta via Stasiun Tugu di hari Minggu tanggal 8 Juli 2017 di jam yang sama. Betapa girangnya saya malam itu yang seperti tertimpa durian runtuh. Tanpa basa-basi saya langsung memilih tiket tersebut untuk kemudian melanjutkan ke proses pembayaran. Beruntunglah saya sudah memiliki akun Traveloka sebelumnya. Karena dengan demikian, saya tidak perlu berlama-lama lagi mengisi informasi data pribadi kita (yang tentu kita semua tahu, ini akan cukupt memakan waktu) sehingga jika tidak cepat, tiket yang sudah saya pesan akan keburu habis diambil orang. Setelah sukses melakukan pemesanan, saya pun langsung menuju ke fitur pembayaran. Dimana kita tahu, fitur pembayaran di Traveloka ini sangat beragam pilihannya. Saya memilih menggunakan mobile banking karena faktor kepraktisannya. Namun bagi yang tidak memiliki fitur mobile banking, anda tidak perlu khawatir, anda juga bisa langsung melakukan transfer melalui mesin ATM karena Traveloka sendiri telah bekerja sama dengan berbagai Bank di Indonesia. Atau bahkan jika anda tidak memiliki nomor rekening di bank, anda bisa membayar melalui mitra jaringan Indomaret dan Alfamart yang tersebar di seluruh Indonesia. Lihat, luar biasa mudah bukan? Dan lagi-lagi, hanya dalam hitungan menit tiket pun sudah ada dan dalam genggaman dan saya tidak perlu lagi khawatir akan melewatkan momen takbir dan makan ketupat opor ayam di kampung halaman.

Ya, inilah cerita pengalaman tak terlupakan saya di momen Lebaran tahun ini. Barangkali, ini adalah momen Lebaran paling fantastis yang pernah saya alami dengan seluruh ceritanya. Tentu semua tidak lepas dari peran Traveloka. Entah apa jadinya lebaran saya tahun ini jika tidak ada Traveloka. Terima kasih Traveloka! Berkat anda, Ketupat dan Opor ayam buatan ibu tidak hanya menjadi mimpi semata! Semoga Traveloka bisa selalu membahagiakan para perantau di luar sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar