Kamis, 04 Mei 2017

Pengalaman Jobseeker #1 : Pengalaman Rekrutmen


Halo semuanya, apa kabar? Selamat berjumpa kembali, setelah sekian lama blog ini saya anggurkan dan berhubung kesoksibukan saya yang begitu menyiksa (halah), akhirnya sekarang saya diberi kesempatan untuk bisa menulis lagi. Di kesempatan kali ini, saya ingin membagi sedikit informasi mengenai proses seleksi masuk kerja yang pernah saya ikuti. Ya berhubung saya sekarang (dengan bangga memproklamirkan) sudah bekerja (wuuus) dan saya dulu pernah berjanji pada diri saya sendiri apabila diterima bekerja saya ingin suatu saat berbagi pengalaman mengenai suka dukanya menjadi seorang hardcore jobseeker, lebay ya? Hehe. Disini saya mencoa menuliskan daftar seluruh perusahaan yang pernah saya lamar dan tahapan seleksinya serunut mungkin, tentunya dengan keterbatasan memori. Mungkin ada beberapa detail yang terlupakan, namun disini saya mencoba untuk berusaha menuliskan semaksimal mungkin. Apabila ada yang ingin dikoreksi atau ada pertanyaan, monggo silahkan saja tinggalkan komentar anda di kolom comment. Oke langsung saja kita mulai! 

  •  PT. Astra International Tbk
Untuk seleksi perusahaan yang saya ikuti pertama kali adalah PT Astra Internasional Tbk atau biasa disingkat AI. Waktu itu kalau tidak salah, proses seleksi diadakan sekitar bulan Maret/April 2014 dan saya memperoleh info lowongan ini dari salah satu kawan saya. Waktu itu lowongan yang dibuka adalah Astra Graduate Program (AGP). AGP ini adalah posisi untuk menjadi Management Trainee (MT) di AI. Waktu itu posisi saya belum lulus kuliah (maklum, saya termasuk tipe mahasiswa pemalas, hehe) dan menjadi seorang MT di sebuah perusahaan adalah impian saya. Karena waktu itu saya sudah banyak membaca dan mendengar mengenai benefit menjadi seorang MT, terutama soal gaji. Jujur, dulu saya masih seorang idealis yang hanya melihat sebuah pekerjaan dari faktor gaji. Dulu saya selalu mengasumsikan bahwa menjadi seorang MT pastilah bergaji tinggi apalagi di perusahaan sekaliber Astra, tanpa pernah mencoba menggali lebih dalam mengenai plus minusnya. Didorong oleh dua faktor kuat ini, saya pun tanpa pikir panjang langsung apply tanpa memperdulikan fakta bahwa saya masih belum menyelesaikan studi saya, karena waktu itu saya sering mendengar info banyak perusahaan yang bersedia menunggu sampai kita menyelesaikan studi. Saya pun langsung mengirim Curriculum Vitae (CV) ke alamat email yang tertera. Beberapa hari kemudian saya mendapatkan email dari HR AI yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi adminsitrasi dan diundang untuk mengikuti psikotes tertulis yang berlokasi di Astra Honda Motor Jalan Magelang Yogyakarta. Waktu itu saya begitu excited, karena ini merupakan pengalaman pertama kali saya mengikuti seleksi kerja dan langsung mendapatkan panggilan dari AI. Namun karena saking excited-nya, saya malah tidak mempersiapkan apapun. Bermodal kepercayaan diri yang berlebih saya pun berangkat mengikuti tes. Tes diadakan siang hari jam 13.00, jumlah peserta pada jam itu kalau tidak salah ada sekitar 100 orang yang dibagi ke dalam beberapa batch dalam dua hari. Jadi jika ditotal mungkin ada sekitar 400-500 orang yang lolos ke tahapan psikotes. Soal psikotesnya saya lupa detailnya, namun jika tidak salah ada tes persamaan kata, perlawanan kata, mencocokkan gambar, refleksi, pengelompokkan kata, deret, dan beberapa matematika dasar dalam bentuk pilihan ganda. Saya yakin kawan-kawan sekalian pasti sudah familiar dan paham dengan model tes seperti ini. Tes ini berlangsung selama kurang lebih 2-3 jam. Dan hasil lolos atau tidaknya diumumkan kurang lebih 2 jam setelah tes selesai berlangsung. Apabila lolos, akan lanjut ke tahapan Focused Group Discussion (FGD) pada hari berikutnya. Setelah hasil pengumuman keluar, saya pun dinyatakan lolos ke tahapan selanjutnya. Waktu itu mungkin ada sekitar 50% peserta yang tidak lolos, jadi saya termasuk sangat beruntung. Dan saat waktu FGD tiba, jujur saya waktu itu masih bingung harus bagaimana, karena ini benar-benar pengalaman pertama saya mengikuti tes FGD. Hanya bermodal membaca kisi-kisi pengalaman orang-orang yang pernah mengikuti seleksi dari internet, saya pun memantapkan diri untuk mengikuti prosesnya. Waktu itu kesimpulan yang saya ambil dari kisi-kisi yang saya baca adalah ‘jangan terlalu dominan namun juga jangan terlalu pasif’, tanpa mencoba menelaah lebih jauh mengenai maksud kalimat tersebut. Tahapan FGD pun dimulai, waktu itu 1 kelompok terdiri dari 6 orang peserta dengan didampingi oleh tim HR dari AI sebagai moderator. Waktu itu entah kenapa perasaan saya tidak enak, saya merasa pesimis di FGD ini karena saya sama sekali minim persiapan. Dan ketakutan itu terbukti, dari perkenalan anggota saja saya sudah ‘kalah’ duluan. Rata-rata anggota kelompok saya sudah menamatkan studi S2nya dan rata-rata lulusan Universitas Terkemuka di-Indonesia. Saya merasa sangat minder karena meskipun berkuliah di UGM saya hanya mengambil jurusan Teknologi Industri Pertanian yang mungkin masih sangat asing di telinga orang-orang. Dan saya makin merasa pesimis setelah membaca topik yang akan didiskusikan. Waktu itu topiknya kalua tidak salah mengenai proyek pembangkit listrik menggunakan panel surya. Kita disuguhi sebuah case dengan beberapa alternatif solusi yang bisa kita ambil. Kita diminta membuat urutan prioritas solusi sesuai preferensi kita kemudian didiskusikan untuk memperoleh keputusan kelompok. Apes nian bagi saya yang sudah sangat asing dengan topik diskusi ditambah lagi dengan kualitas peserta lain yang sangat mengagumkan, bisa ditebak saya hanya berakhir sebagai ‘penonton’ dalam diskusi tersebut. Diskusi pun selesai dengan saya yang hanya mengutarakan satu pendapat (itu pun ngasal, wkwk). Dari tim HR AI menginformasikan bahwa hasil lolos atau tidaknya kita akan dikirimkan via email kurang lebih seminggu ke depan. Dan bisa ditebak, saya gagal lolos menuju ke tahapan selanjutnya yaitu (kalau tidak salah) interview HR. Waktu itu saya sangat syok karena ini merupakan pertama kali saya merasakan ditolak oleh sebuah perusahaan. Saya waktu itu lebih sedih lagi karena pihak AI memiliki kebijakan bahwa jika kita pernah mengikuti rekrutmen dan gagal dalam tahapan tes manapun, kita baru boleh mendaftar lagi di tahun berikutnya. Dan di tahun berikutnya saya juga mendaftar lagi di posisi yang sama, yang mana saya lebih parah lagi : gagal di tahap pertama psikotes, haha! 

  •  PT. Paragon Technology and Innovation (Wardah Cosmetics)
Perusahaan kedua yang saya ikuti adalah PT Paragon Technology and Innovation (PTI), perusahaan kosmetik asal Indonesia yang sedang berkembang. Waktu itu saya masih asing mendengar nama PTI ini sendiri, namun dari beberapa informasi yang saya dengar, perusahaan ini menawarkan benefit yang cukup kompetitif. Waktu itu saya apply untuk posisi MT (saya lupa detail nama programnya). Saya waktu itu apply perusahaan ini via Jobfair ECC bulan Mei 2014 kalau tidak salah. Tahapan tes di PTI ini pertama kali adalah psikotes. Soalnya sendiri berupa pilihan ganda dengan jenis soal standar psikotes yang lazim dijumpai, tidak terlalu rumit dan saya yakin anda semua juga sudah familiar. Ada beberapa jenis tes seperti pencerminan, sinonim, antonim, tes deret, pola dll (maaf lagi-lagi saya lupa detailnya). Tes tahap pertama ini berlangsung kurang lebih 2 jam. Hasilnya langsung diumumkan dan yang lolos berhak untuk mengikuti tes Pauli keesokan harinya. Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk lanjut. Keesokan harinya, saya berangkat mengikuti tes Pauli. Untuk tes ini, meski belum pernah mencoba sebelumnya, namun saya tidak terlalu asing. Tes ini membutuhkan fokus dan kekuatan tangan ekstra prima karena selama kurang lebih satu jam, anda dituntut untuk menuliskan hasil penjumlahan dua bilangan secepat dan sebanyak mungkin. Saya sendiri tidak tahu sebenarnya seperti apa sistem penilaian dari tes ini, namun bagi saya yang terpenting adalah kerjakan sebanyak dan secepat mungkin anda bisa. Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan lolos ke tahapan selanjutnya. Tahapan selanjutnya adalah tahapan psikotes tahap 2. DI tahapan ini, tes yang dilakukan lebih detail lagi. Mengenai tes menggambar orang, menggambar pohon dan Wartegg Test. Selain itu ada tes kepribadian menggunakan tes preferensi dimana kita diminta untuk memilih satu dari dua pilihan sikap yang paling mendekati diri kita. Kemudian kita juga diminta menuliskan esai mengenai siapa kita secara detail dan alasan-alasan kita untuk bekerja. Yang tersisa sampai tahap ini ada sekitar 40 orang. Daftar peserta yang lolos akan diinfokan melalui laman Facebook PTI sekaligus diinfokan via sms. Namun hingga detik saya menulis tulisan ini, saya belum juga mendapat kabar, hahaha! Entah saya yang tidak lolos atau memang tidak ada kabar, saya juga tidak tahu. Saya berkali-kali mengecek laman Facebook PTI namun tidak ada informasi apapun. 

  • Bank BRI
Untuk tes berikutnya yang saya ikuti adalah tes masuk BRI melalu jalur Program Pengembangan Staf (PPS). Jalur PPS ini merupakan program MT milik BRI, dimana PPS BRI sendiri dibagi menjadi tiga jalur yaitu PPS Umum, PPS Audit dan PPS IT. Waktu itu yang saya apply adalah posisi PPS Umum, karena di samping fungsinya yang mencakup fungsi perbankan secara general, posisi ini juga yang membuka lowongannya untuk semua jurusan, hehe. Waktu itu saya mengetahui info lowongan ini dari teman saya dimana waktu itu proses registrasinya adalah kita harus register/login ke website karir Bank BRI dan mengisi informasi data diri secara lengkap. Setelah proses pengisian selesai, kita akan mendapatkan nomor registrasi pendaftaran. Sekitar seminggu kemudian, saya mendapatkan sms dari Bank BRI bahwa nama-nama peserta yang lolos tahap seleksi administrasi sudah bisa dilihat di website Bank BRI. Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan ke tahapan selanjutnya. Tahapan selanjutnya merupakan tahapan interview awal. Waktu itu peserta yang lolos diundang ke Sentra Pendidikan (Sendik) BRI di selatan UII Jakal Jogja. Peserta dibagi ke dalam beberapa batch, 1 batch terdiri dari 5 orang yang akan di-interview secara bersamaan oleh interviewer dari pihak Bank BRI. Waktu itu sistemnya adalah interviewer mengajukan 4 poin pertanyaan seputar diri kita, mengenai profil dan pengalaman. Kemudian satu-persatu peserta menjawab poin tersebut secara singkat dan bergantian. Proses interview awal ini sangatlah singkat, paling seorang peserta hanya membutuhkan waktu kurang lebih 5 menit. Mungkin karena jumlah peserta yang masih banyak dan waktu yang terbatas, jadi mungkin si interviewer hanya ingin menilai sekilas mengenai bagaimana profil kita. Hasil lolos atau tidaknya peserta akan diinfokan via sms sekitar seminggu kemudian. Seminggu berikutnya, saya kembali mendapat sms bahwa nama-nama yang lolos sudah bisa dicek di website BRI. Alhamdulillah, lagi-lagi saya masih diberi kesempatan untuk lanjut ke tahapan selanjutnya yaitu Assesment Day. Tahapan selanjutnya yaitu Assesment Day ini terdiri dari beberapa tahapan tes yang dipadatkan dalam satu hari dan menggunakan sistem gugur. Tes yang pertama adalah psikotes. Psikotes ini meliputi tes sinonim, antonim, deret, matematika dasar tes pauli dan apalagi saya lupa hehe. Pada dasarnya tes ini cukup familiar kita jumpai di beberapa tes rekrutmen perusahaan dan saya yakin anda semua tidak akan terlalu menemui kendala yang berat dalam tahapan ini. Waktu tes tahapan pertama ini sekitar 4 jam, dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang. Sembari istirahat makan siang, sambil menunggu panitia mengumumkan nama-nama yang lolos ke tahapan selanjutnya. Setelah waktu istirahat selesai, panitia kemudian menempelkan kertas yang bertuliskan nama-nama siapa saja yang berhak melanjutkan ke tahapan selanjutnya. Tahapan tes selanjutnya adalah tes TOEFL dan interview psikolog. Pada tahapan tes ini digabung menjadi satu dan tidak ada sistem gugur. Yang berhak untuk melanjutkan ke tahapan selanjutnya yaitu interview akhir. Tes TOEFL sendiri seperti tes TOEFL pada umumnya yang saya yakin anda semua pasti pernah mengerjakannya. Selesai mengerjakan tes TOEFL dengan waktu sekitar 2 jam, tahapan selanjutnya adalah interview psikolog. Sebelum masuk ke interview psikolog, kita diminta untuk mengisi form data diri. Mirip seperti saat registrasi online awal hanya saja mencakup aspek yang lebih detail mengenai pengalaman dan riwayat organisasi. Setelah itu kita diminta untuk menunggu panggilan untuk menjalani proses interview dengan psikolog. Interview psikolog ini sebenernya hampir sama persis seperti interview HR, mungkin karena jumlah peserta yang masih tersisa banyak, jadi mereka menggunakan vendor untuk melakukan proses interview ini. Poin apa saja yang ditanyakan dalam proses ini adalah mengenai profil diri kita secara detail, kesibukan, pengalaman, kelebihan dan kekurangan, serta momen-momen yang mempengaruhi hidup kita. Interview-nya sendiri berlangsung tidak terlalu lama, hanya sekitar 15-20 menit per peserta. Setelah proses interview ini selesai, kita diberitahu bahwa hasilnya akan diumumkan dalam kurun waktu sekitar satu bulan ke depan via website. Cukup lama memang, namun karena jumlah peserta yang masih tersisa ratusan saya cukup maklum, hehe. Sebulan berikutnya, saya mendapat sms bahwa daftar peserta yang lolos sudah dapat dilihat di website Bank BRI. Dan alhamdulillah, lagi-lagi saya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan ke tahap interview akhir. Jumlah orang yang lolos ke tahap ini ada sekitar 30 orang. Dalam hati saya berpikir, berarti cukup banyak peserta yang belum bisa melanjutkan ke tahapan selanjutnya. Memasuki hari di mana interview akhir dilaksanakan, saya berangkat ke Sendik BRI di Jogja untuk melakukan interview. Saya mempersiapkan diri selain dengan mempersiapkan presentasi diri saya yang baik juga belajar sekilas mengenai Bank BRI. Karena saya mendapat informasi bahwa yang meng-interview di tahapan akhir ini bisaanya adalah karyawan BRI yang sudah berada di jajaran top management. Tiba giliran saya dipanggil masuk ke ruang interview dan melakukan sesi interview. Dalam interview kali ini, kita ditanyai seputar profil, pengalaman dan aspek lain mengenai diri kita secara mendetail. Namun tidak hanya itu, banyak juga pertanyaan mengenai seputar perbankan secara general. Saya cukup gelagapan saat ditanyai mengenai perbankan karena saya belum menyiapkan hal tersebut dengan baik. Jadilah saya hanya mengarang bebas mengenai apa yang saya yang ketahui meskipun banyak sekali jawaban ngelantur yang salah, haha. Selesai interview, saya sudah pasrah apapun hasil yang saya terima. Karena saya merasa, meski secara garis besar saya mampu menjawab pertanyaan para interviewer, saya merasa saya kurang mantap di interview kali ini. Saya berpikir tidak masalah saya tidak lolos, toh kuliah juga belum lulus, hahaha. Sekitar 2 minggu kemudian, tiba-tiba saya mendapat informasi via website Bank BRI bahwa saya dinyatakan lolos ke tahapan medical check-up (MCU). Saya sangat bersyukur sekali, karena saya tidak menyangka interview saya yang berantakan bisa membawa saya lolos sampai ke tahapan final. Sebenarnya saya cukup deg-degan karena saya belum pernah melakuan MCU apapun sebelumya, jadi saya tidak tahu apa yang harus saya persiapkan. Ditambah lagi, postur tubuh saya sebenarnya kurang ideal (apalagi perut, haha). Sekitar beberapa hari sebelum MCU, saya hanya memperbanyak konsumsi sayur, buah dan air putih serta memperbanyak istirahat. Setibanya waktu MCU, saya bertemu juga dengan peserta lain yang total berjumlah 10 orang termasuk saya. Saya cukup terkejut, karena dari ratusan peserta yang mendaftar, ternyata hanya 10 yang diambil. Namun jumlah ini belum termasuk jumlah yang lolos rekrutmen di tempat lain. Saya merasa sangat bersyukur bisa sampai tahapan ini. MCU di Bank BRI kurang lebih sama seperti proses MCU di perusahaan lain pada umumnya. Bisaanya meliputi cek kadar gula darah, kolesterol, tes urine, rekam jantung, tes fisik (mata, THT, berat dan tinggi badan, gigi, dll), tekanan darah serta pemeriksaan dokter. Alhamdulillah, dua hari kemudian saya dinyatakan lolos tahap MCU dan berhak mengikuti tahapan offering dan tanda tangan kontrak serta program pendidikan PPS BRI yang diadakan di pusat pendidikan karir Bank BRI di Rawamangun, Jakarta seminggu kemudian. Namun, karena waktu itu posisi saya belum punya ijazah karena saya belum lulus (oh ya, program PPS BRI waktu itu mensyaratkan kontrak kerja selama 5 tahun dengan ijazah yang ditaham, serta dilarang menikah selama 2 tahun pertama), maka saya pun terpaksa memohon untuk meminta penundaan sampai saya lulus dan memiliki ijazah. Waktu itu dari pihak Bank BRI mengizinkan penundaan jadwal untuk disertakan dalam batch berikutnya atau proses rekrutmen setelah ini. Waktu itu jujur, saya menjadi sangat jumawa, saya merasa bangga karena saya merasa sudah ‘aman’, belum lulus kuliah tapi sudah mendapat pekerjaan. Dan ternyata memang benar kata orang tua saya, orang yang sombong itu balasannya akan datang cepat sekali. Ternyata proses pengerjaan skripsi saya tidak bisa semulus yang saya pikirkan. Sampai sekitar 3 kali saya ditelpon oleh Bank BRI namun saya belum juga menyelesaikan studi saya. Bahkan parahnya, saya baru menyelesaikan studi saya setahun sejak saya resmi diterima menjadi PPS BRI. Jauh sebelum proses wisuda saya sudah beberapa kali menghubungi Bank BRI namun jawaban dari mereka saya diminta untuk menunggu panggilan lagi. Namun ternyata karena tidak kunjung juga ada panggilan, saya pun meminta kepastian kapan kira-kira saya bisa mengikuti program di batch selanjutnya, namun mereka juga tidak bisa memberikan kepastian kapan waktu pastinya saya bisa bergabung lagi di program ini. Hari-hari setelah lulus pun hanya saya habiskan untuk menunggu telepon dari Bank BRI. Dan setelah saya pikirkan matang-matang, karena tidak kunjung mendapatkan panggilan dari Bank BRI, saya menghubungi mereka apakah saya bisa sambil menunggu sambil mencari pekerjaan di tempat lain. Dan mereka pun mempersilahkan saya untuk mencari di tempat lain karena memang mereka juga tidak bisa memberikan kepastian kapan lagi akan ada batch selanjutnya untuk program ini. Dalam hati kecil saya sebenarnya cukup kecewa, walaupun Bank BRI sebenarnya bukan pekerjaan impian saya, namun prospek kerja di sini sebenarnya sangat menjanjikan. Bekerja di salah satu Bank BUMN terbesar, apalagi menjadi MT tentu memberikan sebuah ‘rasa aman’ bagi kita, orang tua, dan mungkin calon mertua kita kelak. Karena tidak menutup mata, untuk para orang tua, tentu melihat anaknya bisa bekerja di BUMN adalah sebuah kelegaan tersendiri. Waktu itu yang sangat kecewa tentu adalah orang tua saya. Namun apa boleh buat, semua ini karena salah saya yang terlalu jumawa karena merasa sudah ‘aman’ mendapatkan pekerjaan bahkan sebelum lulus. Ya ini pelajara bagi saya, bahwa sombong itu membahayakan diri kita sendiri. Karena balasannya begitu besar dan cepat. Semenjak kejadian ini, saya sempat merasa malas untuk mengikuti rekrutmen lagi karena masih dirundung kesedihan. Tapi saya harus move on, saya harus segera mungkin mendapatkan pekerjaan untuk masa depan saya. Dan sampai sekarang, saya juga tidak pernah dikontak lagi oleh Bank BRI, mungkin mereka sudah tidak menganggap saya, hahaha! 

  • PT Coca Cola Amatil Indonesia (CCAI)
Setelah kejadian kegagalan di Bank BRI, saya akhirnya move on dan mulai lagi mengirimkan aplikasi lamaran ke banyak perusahaan. Saya bahkan sampai membabi buta dimana ada lowongan yang sesuai dengan jurusan saya, apapun itu posisinya, saya pasti lamar. Sikap saya yang spartan ini didasari pada desakan karena malu jadi pengangguran, hehe. Karena dalam proses jobseeking, saya punya prinsip yaitu lamar lowongan yang sesuai sebanyak mungkin, baru nanti diseleksi setelah kita diterima. Kalo berhasil alhamdulillah, kalau gagal itung-itung bisa dapat pengalaman alias try out gratis hehe. Dan panggilan yang datang pertama kali waktu adalah dari PT Coca Cola Amatil Indonesia (CCAI). Ada cerita unik saat saya mengikuti proses seleksi di CCAI ini. Waktu itu, melalui webnya, CCAI sedang membuka lowongan posisi Graduate Trainee Program (GTP) atau MT. Waktu proses administrasi pendaftarannya adalah kita mendownload form registrasi yang harus kita lengkapi kemudian kita kirimkan ke alamat rekrutmen yang dituju melalui email. Waktu itu form-nya berisikan mengenai profil lengkap kita serta pertanyaan-pertanyaan seputar pengalaman kita. Form ini harus ditulis dalam bahasa Inggris dengan ada cukup banyak poin-poin pertanyaan yang harus kita jawab. Waktu itu saya kurang lebih menghabiskan sampai 5 halaman Ms. Word, lumayan membingunkan juga karena ini baru pertama kalinya saya melakoni seleksi dengan model seperti ini. Waktu proses menunggu hasil sejak kita mengirimkan form tersebut cukup memakan waktu lama. Saking lamanya, saya sampai sudah lupa pernah mendaftar di CCAI haha. Sampai tiba-tiba, beberapa bulan setelahnya, di suatu sore, saya ditelpon oleh HRD dari CCAI yang mengundang saya untuk mengikuti proses interview di plant CCAI di Ungaran, Semarang. Saya waktu itu sebenarnya agak bingung, baru tahapan awal kok sudah langsung interview? Apa memang tahap awalnya adalah interview? Tapi jika interview awal, kenapa proses informasinya langsung via telepon personal dimana biasanya penginfoan via telepon personal dilakukan jika proses sudah sampai pada tahap akhir atau ketika peserta sudah tinggal sedikit. Pada awalnya, saya ragu apakah ini penipuan. Saya pun sampai mengecek dan menanyakan ke pihak customer care CCAI pusat namun ternyata nomor telepon yang digunakan untuk menelepon saya memang benar milik CCAI. Karena sudah mendapat validasi, saya pun akhirnya berangkat mengikuti proses interview. Setibanya di hari saat proses interview, waktu itu ada sekitar 7 orang. Saya sempat heran juga, kenapa sedikit sekali? Atau memang sudah dibagi ke dalam beberapa batch? Kemudian saat itu, ternyata saya bertemu dengan kenalan saya, teman ospek fakultas semasa kuliah, yaitu Lyra. Saya pun kemudia bertanya kepada Lyra mengenai proses seleksi di CCAI ini. Sampai kemudian penjelasan Lyra mengejutkan saya bahwa ini merupakan tahap interview user yang berarti sudah tahapan akhir. Karena sebelumnya, dia sudah melewati tahapan tes tertulis, FGD dan interview HR. Saya makin terkejut lagi, kok bisa saya tidak mengikuti ketiga tahapan tersebut namun tiba-tiba saja sudah langsung dipanggil untuk interview user? Apa dari pihak CCAI ada kesalahan data sehingga mungkin harusnya bukan saya yang dipanggil? Namun ternyata bukan, ada satu lagi peserta yang juga langsung dipanggil untuk interview user tanpa mengikuti proses sebelumnya seperti saya, saya pun makin bingung. Kemudian saya memutuskan untuk menanyakan hal ini kepada interviewer saya nanti. Bukan apa-apa, saya hanya khawatir kalau sampai ternyata ini adalah kesalahan pemanggilan, kasihan peserta yang seharusnya saya ‘gantikan’. Kemudian tiba giliran saya masuk ke ruang interview. Saya di-interview oleh dua orang, yang satu adalah HR Manager Plant Ungaran dan yang satunya lagi adalah Plant Manager CCAI Ungaran. Tadinya saya mau langsung menanyakan hal ini di awal, namun melihat kesempatannya belum ada dan saya juga melihat CV serta form saya ada di atas meja interviewer saya berpikir mungkin memang ini bukan kesalahan, jadi saya putuskan untuk menanyakannya setelah selesai interview nanti. Proses interview dilakukan dalam bahasa Inggris dengan pertanyaan seputar informasi diri dan pengalaman serta masalah-masalah apa saja yang pernah kita alami dengan beberapa tambahan pertanyaan mengenai seputar keilmuan semasa kuliah. Proses interview berjalan kurang lebih 30 menit. Kemudian di akhir interview saya diberi kesempatan untuk bertanya balik. Saya pun menggunakan kesempatan ini untuk mengklarifikasi mengenai pemanggilan saya ini apakah benar seperti ini atau ada sebuah kesalahan, mengingat saya tidak mengikuti proses-proses sebelumnya. Namun kata HR Managernya, tidak ada kesalahan dalam proses ini dan memang saya benar-benar dipanggil. Beliau mengatakan, bahwa memang ada beberapa kandidat yang langsung mendapat shortcut karena kualifikasinya dan proses interview ini tadi sebenarnya juga menggunakan sistem untuk menilai beberapa aspek yang juga dilihat ketika tes tertulis maupun FGD. Saya sempat terkejut dan agak sedikit ‘bangga’ juga, karena berarti saya cukup qualified untuk mendapat ‘jalan pintas’ ini, hehe. Kemudian beliau juga menyampaikan pada saya bahwa hasilnya akan diinfokan kurang lebih dalam seminggu ke depan via telepon. Jika lolos, maka kita akan lanjut ke tahpan MCU kemudian tahapan offering dan siap untuk bekerja kira-kira dalam 2 minggu ke depan, hmm kilat juga pikir saya. Seminggu kemudian, waktu itu hari Kamis siang, saya mendapat telepon dari CCAI yang menginfokan bahwa saya dinyatakan lolos ke tahapan MCU dan diminta untuk datang proses MCU pada hari jumat di Lab. Prima Medika di Solo. Saya waktu itu sempat terkejut, karena prosesnya yang begitu singkat dan mendadak. Karena jika kita dinyatakan lolos MCU, maka pada hari Seninnya, kita sudah diminta untuk berangkat ke Head Office CCAI di Jakarta untuk offering kontrak sekaligus mulai bekerja hari pertama. Waktu itu saya sempat bimbang, kenapa? Karena prosesnya yang begitu cepat dan apesnya, proses ini jadwalnya sangat berdekatan dan hampir berdekatan dengan rekrutmen perusahaan lain yang sebenarnya lebih menjadi prioritas saya. Saya pun mencoba mengontak apakah saya bisa memninta penundaan jadwal dengan maksud saya bisa melihat dulu hasil rekrutmen di dua perusahaan lain tersebut namun ternyata hasilnya tidak bisa, karena mereka juga terbentur dengan jadwal yang sudah mereka atur. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan dan berkonsultasi dengan orang tua dan orang-orang terdekat, saya pun memutuskan untuk tidak melanjutkan ke tahapan MCU di CCAI dengan harapan agar bisa lebih berfokus ke rekrutmen perusahaan yang lain. Agak berat juga awalnya, namun mungkin memang CCAI belum menjadi rejeki saya. 

  • Indofood Noodle Division (I-CBP)
Perusahaan berikutnya yang saya coba apply adalah Indofood. Waktu Indofood Noodle Division membuka lowongan untuk program MT yang dinamakan I-Fuel (Indofood Future Leader). Waktu itu saya memperoleh info mengenai lowongan ini melalui website ECC UGM. Karena dari segi posisi dan company yang cukup benefit, saya kemudian langsung apply. Panggilan baru datang sekitar sebulan sesudahnya dan saya ingat betul, saya menerima teleponnya ketika sedang menunggu antrian untuk interview di CCAI. Saya sebenarnya agak sedikit lupa detail mengenai tahapan proses seleksinya, namun secara garis besar akan saya coba jelaskan. Tahapan seleksi I-Fuel ini sendiri sebenarnya cukup panjang namun dipadatkan menjadi dua hari sampai tahapan sebelum interview akhir dimana kita harus berangkat ke Jakarta. Proses seleksinya sendiri waktu itu dilangsungkan di University Club (UC) UGM. Sebelum masuk ke tahapan tes, pertama-tama oleh pihak panitia kita diberikan presentasi mengenai company Indofood dan program I-Fuel ini secara garis besar (yang mana ini sangat bagus menurut saya untuk dicontoh oleh setiap perusahaan agar setiap kandidat benar-benar mantap untuk mengikuti seleksi dan agar setiap perusahaan benar-benar memperoleh kandidat yang benar-benar sudah mantap dari awal). Tahapan pertama terdiri dari tes tertulis. Tes tertulis ini sendiri cukup berbeda dibandingkan dengan yang saya pernah ikuti. Soal berkisar tentang logika, numerical dan bahasa Inggris. Soalnya sendiri ada sekitar 50 soal namun bukan pilhan ganda seperti tes tertulis pada umumnya melainkan isian singkat. Tahapan ini berlangsung sekitar 30-45 menit, jika lolos, langsung berhak melanjutkan ke tahapan berikutnya. Pengumuman lolos atau tidaknya ke tahapan selanjutnya sendiri sangat cepat, selesai mengerjakan, kita diminta menunggu kurang lebih 15 menit sampai panitia seleksi mengoreksi dan memperoleh nama-nama yang lolos. Kemudian, nama-nama yang lolos berhak melanjutkan ke tahapan selanjutnya. Tahapan selanjutnya adalah tahapan tes Pauli (kalau tidak salah, saya sedikit lupa). Namun sebelum mengerjakan tes ini, sebelumnya peserta diminta untuk menuliskan mengenai pengalaman hidup yang paling berkesan di sebuah kertas HVS dengan panjang maksimal 8 paragraf dalam bahasa Inggris, dengan waktu kurang lebih 15 menit kemudian hasilnya dikumpulkan ke panitia. Setelah selesai, baru kemudian tes Pauli dimulai. Setelah sekitar 30 menit mengerjakan, kemudian diperoleh hasil nama-nama yang lolos ke tahapan selanjutnya. Nama-nama yang lolos berhak tinggal untuk melanjutkan ke tahapan berikutnya. Tahapan berikutnya adalah tahapan penilaian performa. Ini juga unik menurut saya, karena seumur hidup saya baru pertama kali melakukan tes seperti ini. Format tes ini adalah, peserta diberikan waktu selama 1 menit untuk menceritakan kembali mengenai pengalaman hidup yang dituliskan di kertas HVS tadi dalam Bahasa Inggris. Namun uniknya, peserta yang maju ke depan harus berbarengan sejumlah 6 peserta yang kemudian berbicara bersama-sama. Uniknya lagi, panitia rekrutmen mengambil posisi duduk di barisan paling belakang, sehingga secara tidak langsung peserta harus bisa berbicara dengan jelas dan menyampaikan maksudnya dengan baik sampai ke panitia yang ada di belakang. Yang mana tentu akan sulit, karena semua peserta hanya diberi waktu selama satu menit dan tentu suaranya akan tumpang tindih dengan peserta lainnya. Urutan majunya sendiri bersifat sukarela siapa yang ingin maju lebih dahulu. Saya sengaja tidak memilih maju pertama untuk mengamati dulu seperti apa prosesnya. Ternyata seperti yang saya duga, suara para peserta yang tumpang tindih membuat para pendengar tidak bisa mendengar dan menangkap maksudnya dengan baik, bahkan bagi saya yang duduk paling depan sekalipun. Namun kemudian saya ‘menangkap’ satu hal, bahwa pasti yang dinilai bukan lah dari apa yang mereka ucapkan, karena toh percuma, para panitia yang duduk paling belakang juga tidak akan bisa mendengar dengan baik. Namun disini yang lebih dinilai adalah elemen visual, yaitu mengenai gaya kita berbicara, intonasi, mimik serta gestur tubuh kita. Karena itulah yang paling bisa dilihat dengan baik. Dan benar saja, saat giliran saya maju, saya ‘iseng’ untuk membuktikan dugaan saya tadi. Saya berbicara ngalor ngidul tidak sesuai apa yang saya tulis di HVS, namun saya barengi dengan gestur tubuh dan mimik wajah sedemikian rupa agar tampak meyakinkan. Dan ternyata terbukti, saya dinyatakan lolos ke tahapan selanjutnya. Dalam hati saya senang namun sebenarnya tertawa geli juga karena apa yang saya bicarakan di depan tadi sama sekali tidak ada isinya, hahaha! Tahapan selanjutnya adalah tahap FGD. Sampai pada tahapan ini, peserta yang tersisa ada sekitar 20 orang. FGD ini membagi peserta ke dalam dua kelompok besar yang masing-masing beranggotakan 10 orang. Dalam FGD kali ini, setiap kelompok diberikan kasus mengenai 20 pilihan alternatif benda-benda yang harus kita bawa ketika kita akan diberikan ujian survival di sebuah pulau asing yang belum kita ketahui. Tugas kita adalah untuk memilih 10 dari 20 daftar benda yang tersedia untuk kita bawa. Awalnya kita diminta untuk memikirkan jawabannya secara individu kemudian kita diminta untuk berdiskusi secara kelompok untuk menentukan jawaban kelompok kita. Proses diskusi kelompok ini sendiri berjalan sangat lancar dan menyenangkan. Kendati ada beberapa kali silang pendapat, namun semua bisa diatasi dengan baik. Tidak ada anggota kelompok yang terlihat ngotot dan mendominasi jalannya diskusi. Hasil akhir pun kemudian tercapai, kita juga diminta melihat ada berapa perbedaan antara pilihan kita secara individu. Kemudian, setelah hasil dinilai oleh panitia selama kurang lebih 10 menit, nama-nama yang lolos kemudian diumukan. Di kelompok saya hanya ada 1 orang yang tidak lolos dan di kelompok sebelah, ada sekitar 5 orang yang tidak lolos. Sebenarnya kami cukup sedih, membayangkan perasaan satu-satunya rekan kami yang belum bisa lanjut sedangkan kami semua bisa lanjut. Tapi mungkin sudah ada rejeki lebih baik yang menanti rekan kami tersebut. Setelah nama-nama yang lolos telah diperoleh, kemudian dilakukan briefing oleh pihak panitia. Tahapan selanjutnya adalah tahapan terakhir sebelum final interview. Tahapan ini adalah tahapan business case presentation, dimana kita diminta untuk melakukan studi lapangan mengenai sebuah bisnis dilihat dari kacamata supply chain, pemasaran dan apalagi saya lupa detailnya hehe. Dibuat pptnya yang kemudian akan kita presentasikan keesokan harinya. Namun sampai pada tahap ini saya pun dengan berat hati harus mengundurkan diri tidak melanjutkan karena jadwalnya bertabrakan dengan salah satu perusahaan yang lebih saya prioritaskan. Lagi-lagi saya sebenarnya sangat sedih karena harus melepaskan kesempatan yang sebenarnya sudah cukup dekat, namun mungkin memang Indofood belum menjadi rejeki saya. 

  • PT PLN Persero
Rekrutmen selanjutnya yang saya ikuti adalah di PT PLN Persero. Waktu itu saya mengetahui lowongan PLN dari publikasi di situs informasicpnsbumn.com serta jobscdc.com (silahkan rajin-rajin buka dua situs ini karena sangat lengkap dan update. Untuk situs yang pertama, khusus hanya untuk info lowongan BUMN dan BUMD di seluruh Indonesia dan untuk situs yang kedua, update mengenai semua jenis perusahaan besar di Indonesia. Dan keduanya menyertakan link langsung ke perusahaan terkait). Awalnya saya tidak terlalu yakin mendaftar di PLN, karena tidak ada spesifik pilihan untuk jurusan saya, hanya untuk Teknik Industri. Namun karena waktu itu saya sudah ‘frustasi’ karena lama tidak kunjung mendapat pekerjaan, saya nekat coba apply saja, karena di samping ilmu yang masih mirip, proses pendaftarannya sendiri hampir mirip dengan proses pendaftaran di Pupuk Kaltim yang juga saya ikuti, yaitu melalui pos dan menggunakan format serta dokumen yang hampir sama dan waktu pendaftaran yang juga hampir berdekatan. Awalnya saya justru lebih yakin akan diterima di Pupuk Kaltim karena bidang pekerjaannya lebih ‘sesuai’ dengan jurusan saya, namun ternyata justru saya tidak lolos seleksi administrasi di Pupuk Kaltim dan justru beberapa hari sesudahnya saya mendapat sms bahwa nama saya lolos seleksi administarsi untuk PT PLN. Program yang saya ikuti di PLN ini adalah program seleksi calon pegawai untuk lulusan S1. Awalnya saya sempat terkejut, kok bisa ya saya diterima di antara banyaknya peserta lain yang mungkin memiliki background jurusan yang sesuai? Tapi saya beranggapan bahwa mungkin ini adalah kesempatan emas bagi saya untuk bisa bergabung dengan PLN. Tahap pertama setelah kita lolos seleksi administrasi adalah tes tertulis. Berhubung waktu itu jumlah pendaftar yang begitu banyak, maka periode tes pun dibagi ke dalam dua tahapan besar, yaitu untuk jurusan non-teknik dulu, baru jurusan teknik. Jurusan teknik pun dalam satu hari masih dibagi lagi ke dalam empat batch dimana per batchnya sendiri terdiri kurang lebih 200 orang. Waktu itu tes dilakukan di JEC. Tes tertulis tahap pertama ini meliputi psikotes seperti numerikal, matematika, persamaan dan lawan kata serta mengurutkan susunan gambar acak menjadi sebuah rangkaian yang membentuk sebuah cerita (detail tesnya seperti apa saya agak lupa), yang jelas kurang lebih sama seperti psikotes pada umumnya. Tes berlangsung selama kurang lebih 2 jam dan nama-nama yang lolos akan diumumkan via website PLN dan ECC UGM pada malam harinya untuk kemudian mengikuti tes kemampuan bidang dan bahasa Inggris di keesokan harinya. Kemudian malam harinya, saya mendapatkan info bahwa nama saya beruntung bisa lolos untuk mengikuti tes kemampuan bidang dan bahasa Inggris keesokan harinya. Karena pengumumannya baru di-publish sekitar jam 7 malam dan saya kebetulan juga ada acara, jadilah saya kurang maksimal dalam persiapan untuk tes, terutama tes kemampuan bidang. Untunglah saya mendapat jadwal jam 1 siang, jadi saya masih punya sedikit waktu belajar di pagi harinya. Tes kemampuan dasar ini terdiri dari 50 soal yang berisi mengenai soal-soal yang berhubungan dengan background jurusan kita. Jadi berbeda background jurusan, berbeda pula tipe soal yang diberikan. Karena saya apply untuk jurusan teknik industri, maka soalnya pun berkisar mengenai keilmuan tersebut (waktu itu kebanyakan mengenai riset operasional). Yang sama hanyalah tes kemampuan Bahasa Inggris. Dalam tes ini, memiliki aturan yang cukup tricky, karena jika kita menjawab benar, kita akan mendapat nilai +4, jika kita tidak menjawab kita mendapat nilai 0, namun jika kita menjawab salah, kita akan mendapat nilai -1. Dan parahnya, karena saya tidak belajar mengenai kemampuan bidang dengan baik, saya hanya mengisi 5 dari 50 soal! Artinya hanya 10% saja! Di samping memang banyak soal yang saya lupa, saya juga takut menjawab beberapa soal yang jawabannya masih ragu karena sistem pengurangan nilai yang diterapkan tadi, selain itu saya cukup optimis dengan soal bahasa Inggris, jadi semoga saja kekurangan saya di tes kemampuan bidang bisa ter-cover di tes bahasa Inggris ini. Kedua tes ini total waktunya berlangsung sekitar 3-4 jam. Hasil nama-nama yang lolos akan diumukan malam harinya dan nama-nama yang lolos berhak untuk mengikuti psikotes keesokan harinya. Saya sebenarnya cukup pesimis mengingat tes kemampuan bidang saya yang begitu pas-pasan, namun saya begitu terkejut saat mengetahui bahwa saya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan ke tahapan selanjutnya, Alhamdulillah. Tahapan selanjutnya merupakan tahapan psikotes. DI tahapan kali ini jumlah peserta sudah mulai berkurang cukup banyak. Psikotes disini meliputi beberapa tahapan, di antaranya adalah Wartegg test, Pauli, Menggambar orang dan pohon (jika kurang saya mohon maaf, karena ada yang lupa). Selain tes ini, kita juga diminta untuk mengisi form biodata dan profil yang disediakan, yang meliputi informasi lebih detail mengenai diri kita. Tahapan ini berlangsung selama kurang lebih 3 jam. Namun hasilnya baru akan diumukan sebulan kemudian, dikarenakan untuk mengoreksi tes ini memang membutuhkan waktu. Kita juga dihimbau untuk menjaga kondisi fisik dan kesehatan untuk persiapan mengikuti tes fisik dan laboratorium jika lolos, karena pihak PLN menjelaskan bahwa di tahapan ini merupakan tahapan yang paling sulit sehingga sering banyak peserta yang gugur. Namun memang saya yang ‘bandel’, waktu sebulan itu tidak saya manfaatkan dengan baik. Sehingga pada saat nama saya tercantum di antara nama-nama peserta yang lolos ke tahapan tes fisik, saya mendadak panik, karena tahapan tes fisik akan dilakukan seminggu kemudian! Saya panik karena kondisi fisik saya yang gendut dan masih berada di atas berat badan ideal (BMI). Saya panik karena hampir mustahil dengan waktu seminggu menurunkan berat badan hingga mencapai kondisi ideal dan menghilangkan perut buncit saya. Sebenarnya waktu itu pengumuman PLN ini berbarengan juga dengan offering dari CCAI dan interview di Indofood, namun dengan alasan PLN lebih benefit, saya memilih PLN tanpa memperhitungkan strategi dan mana perusahaan yang menawarkan peluang lebih besar. Pokoknya waktu itu saya hanya bermodal nekat dan yakin bahwa saya bisa lolos. Karena waktu itu saya juga berasumsi bahwa sepertinya tesnya sama dengan MCU di Bank BRI dimana saya juga bisa lolos dengan kondisi fisik tubuh yang tidak jauh berbeda. Namun ternyata, dugaan saya sangat jauh berbeda. Tes fisik PLN ini begitu ketat. Tesnya sendiri dilakukan di lab Prodia dan memakan waktu kurang lebih 3 jam. Saya mendapatkan jadwal tes di jam 8 pagi. Mungkin dari semua tahapan tes MCU yang pernah saya lalui, MCU PLN ini adalah MCU dengan tahapan yang paling detail dan paling panjang. Aspek yang dicek sangatlah banyak. Dimulai berat badan, tinggi badan, tekanan darah, berat badan ideal, mata, telinga, keseimbangan badan, gigi, lingkar perut, hingga pengecekan (maaf) anus juga dilakukan. Dan entah kenapa, mungkin juga karena kurang persiapan, sepanjang tes saya merasa sangat deg-degan dan alhasil, ketika ada pengecekan tekanan darah, tensi saya menunjukkan nilai yang begitu tinggi. Ditambah lagi dengan ukuran lingkar perut saya yang sudah ‘offside’ ini, saya pun merasa sangat pesimis saya bisa lolos ke tahap selanjutnya. Apalagi peserta yang lain badannya jauh lebih ‘oke’ ketimbang saya. Namun entah kenapa, saya masih berharap banyak pada PLN ini sekalipun peluangnya sangat kecil. Sehingga saya pun berani melepas peluang di CCAI dan di Indofood. Ya mungkin juga karena faktor BUMN yang membuat saya terus berharap banyak. Hasil dari MCU ini akan diumumkan seminggu kemudian. Dan setelah tiba di hari pengumuman, seperti yang sudah saya duga, ternyata saya tidak lolos ke tahapan tes laboratorium. Ternyata pada tahapan ini, jumlah peserta yang di-cut sangatlah banyak, hampir separuhnya. Saya waktu itu benar-benar sedih sesedih-sedihnya. Karena perhitungan saya yang meleset, saya jadi kehilangan tiga kesempatan kerja sekaligus. Karena terlalu ngotot mengejar PLN, peluang di CCAI dan Indofood yang sudah terbuka lebar pun akhirnya harus melayang. Pelajaran yang bisa saya ambil dari kejadian kali ini adalah bahwa dalam mencari pekerjaan, kita harus bisa benar-benar jeli menghitung setiap peluang yang ada. Kendati ada satu perusahaan yang memang kita kejar, kita juga harus consider dengan peluang atau tawaran yang paling dekat. Harus benar-benar jeli, cermat dan berhati-hati. 

  • PT Surya Madistrindo
Perusahaan selanjutnya yang saya ikuti seleksinya adalah PT Surya Madistrindo (SM). Bagi yang belum tahu, PT Surya Madistrindo ini adalah anak perusahaan milik PT Gudang Garam, tbk. (GG) yang khusus didirikan untuk menangani bidang sales, distribution dan marketing. Kenapa sampai dibentuk perusahaan sendiri? Agar penjualan rokok di Gudang Garam yang volumenya sangat besar bisa ter-handle dengan baik dan lebih optimal. Untuk posisi yang saya apply ini adalah posisi di Management Trainee Sales & Management Operation (MT-SMO). Sebenarnya sejak awal, saya kurang tertarik bekerja di perusahaan rokok dan tembakau karena beberapa faktor, namun melihat salary dan benefit yang ditawarkan begitu ‘wah’, saya menjadi ‘dibutakan’ dan langsung berminat mendaftar. Saya memperoleh info dan meng-apply lowongan ini via web ECC UGM. Dan saya sudah apply cukup lama namun setelah beberapa bulan saya baru mendapat panggilan untuk seleksi tahap awal, yaitu psikotes. Psikotes ini dilaksanakan di ECC UGM. Soal yang diujikan cukup standar dan cukup awam ditemui, sehingga saya yakin anda semua juga pasti bisa mengerjakan dengan lancar. Tahap psikotes ini dilaksanakan dalam sehari dengan dibagi ke dalam 4 batch. Tiap batch-nya bedurasi sekitar 2 jam dengan jumlah peserta tiap batch-nya sekitar 50 orang. Nama-nama yang lolos kemudian akan mendapatkan invitation ke tahapan selanjutnya, yaitu (FGD) via email sekitar seminggu ke depan. Seminggu berikutnya, saya mendapat email yang isinya saya berhak lolos ke tahapan FGD. Namun sehari sebelum melaksanakan FGD, para peserta yang lolos diminta hadir di acara presentasi company profile yang dilaksanakan di Hotel Ibis oleh pihak PT SM. Pada acara presentasi ini, para peserta dijelaskan mengenai profil PT SM secara gambaran umum dan detail mengenai program MT serta apa yang akan didapat dan dipersiapkan. Menurut saya, presentasi company profile ini sangatlah menarik dan bermanfaat. Bagi saya, presentasi mengenai company profile dan program rekrutmen yang dilakukan di awal merupakan win-win solution bagi pihak perusahaan maupun peserta. Karena dengan begini, peserta bisa mendapatkan gambaran ke depan akan seperti apa serta dapat menentukan dengan baik dan memantapkan pilihannya untuk lanjut mengikuti proses seleksi atau tidak. Dan bagi perusahaan, mereka akan mendapatkan kandidat yang sudah benar-benar mantap untuk bergabung dan meminimalisir resiko kandidat yang mundur di tahapan akhir, singkatnya proses seleksi menjadi lebih efektif dan efisien. Pihak SM juga sedikit ‘memberikan’ bocoran bahwa materi presentasi ini juga kemungkinan akan terus ditanyakan kembali saat proses seleksi ke depan, jadi para peserta diminta untuk fokus dan bisa menyerap materi dengan baik. Presentasi ini berlangsung kurang lebih 2 jam sekaligus dilakukan pembagian kelompok untuk proses FGD di keesokan harinya. Hari berikutnya, proses FGD pun dilaksanakan. FGD dilakukan di kantor SM cabang Jogja di Jalan Monjali depan Hotel Hyatt. Saya mendapat giliran pada jam 1 siang. Waktu itu anggota kelompok FGD saya ada 6 orang. FGD dilaksanakan dengan dipandu oleh moderator dari pihak SM. FGD ini dimulai dengan durasi 30 menit. Dengan rincian, 10 menit untuk membaca materi dan 20 menit untuk berdiskusi. FGD kali ini cukup unik dan baru pertama kali saya temui. Soal FGD sendiri dibagi ke dalam 2 tipe, yang pertama adalah berupa soal bacaan esai dan yang kedua adalah menentukan urutan/skala prioritas. Sebelum memulai diskusi, kita diminta untuk membuat jawaban kita sendiri yang nanti kemudian hasilnya akan dibandingkan dengan jawaban akhir hasil dari diskusi kelompok. Jika jawaban kita sama dengan jawaban kelompok, kita mendapat nilai +1 (kalau tidak salah) dan jika jawaban kita berbeda, kita mendapatkan nilai -1. Kemudian, semua jawaban ditotal nilainya untuk menghitung skor akhir. Proses diskusi berjalan cukup lancar, setiap peserta dapat memaparkan pendapatnya dengan baik dan lancar. Sampai pada penghitungan skor, ternyata saya mendapatkan nilai minus karena ada beberapa jawaban saya yang tidak sesuai dengan jawaban kelompok. Awalnya saya sempat ragu dan pesimis melihat saya satu-satunya yang mendapatkan skor minus di antara semua peserta lain, namun saya sudah nothing to lose terhadap apapun hasil yang saya terima nantinya. Panitia mengumumkan bahwa hasil dari FGD ini sudah bisa didapatkan sore hari nanti dan nama-nama yang lolos berhak untuk melanjutkan ke tahapan interview HR keesokan harinya. Kemudian di sore harinya, saya sangat terkejut ketika mendapatkan sms dari pihak SM yang mengundang saya untuk mengikuti sesi interview HR keesokan harinya, yang berarti saya lolos dari tahapan FGD. Saya cukup kaget juga mengingat skor saya saat FGD memperoleh nilai minus. Saat tiba sesi interview HR, saya lebih kaget lagi karena dari 6 orang peserta FGD, hanya 3 yang lanjut ke tahapan interview HR. Saya cukup kaget mengingat performa peserta lain sebenarnya semua sangatlah bagus. Yah, mungkin mereka berhak mendapatkan jalan rejeki yang jauh lebih baik di tempat lain. Kemudian tiba giliran saya di-interview oleh pihak HR. Interviewernya sendiri ada 3 orang yang salah satunya merupakan pengisi materi saat presentasi company profile. Sesi interview HR ini sendiri dilakukan dalam bahasa Indonesia dan memakan waktu cukup singkat hanya sekitar 15 menit. Pertanyaan yang diajukan seputar kepribadian kita dan beberapa poin-poin materi terkait presentasi company profile. Setelah sesi selesai, interviewer menjelaskan bahwa hasilnya akan diumumkan via telepon. Bagi peserta yang lolos, akan ditelpon untuk mengikuti sesi final interview yang akan dilakukan di kantor pusat SM di Jakarta. Setelah sekitar 3 minggu berikutnya, saya baru ditelpon oleh pihak SM yang memberitahukan bahwa saya dinyatakan lolos interview HR dan berhak mengikuti sesi final interview di Jakarta. Namun, karena saat itu posisi saya sudah bekerja, maka saya pun harus menolak tawaran dari pihak SM ini. 

  • PT HM Sampoerna Tbk. /Phillip Morris Indonesia
Perusahaan selanjutnya yang saya daftar adalah PT HM Sampoerna (HMS). Saya memperoleh informasi adanya lowongan ini melalui website ECC UGM. Waktu itu lowongan yang dibuka adalah untuk posisi supervisor marketing. Beberapa minggu setelah saya apply lowongan tersebut, saya memperoleh sms undangan dari pihak HMS untuk mengikuti tahapan written test awal yang diadakan di UKDW Jogja. Tahapan test ini dalam satu hari dibagi ke dalam 4 batch. Setiap batch-nya berlangsung selama 2 jam dengan peserta masing-masing batch ada sekitar 50-an orang. Written test di HMS ini menurut saya termasuk salah satu proses written test yang cukup berbeda dan relatif lebih sulit dibanding jenis written test lain yang pernah saya kerjakan. Tesnya sendiri terdiri dari 50 soal dan merupakan gabungan antara psikotes, matematika, bahasa inggris dan soal logika lain. Dengan sistem penilaian mirip seperti tes masuk perguruan tinggi. Yaitu apabila benar akan mendapatkan nilai +4, salah -1 dan apabila tidak dijawab tidak mendapatkan poin. Karena sistem penilaian ini, maka kita pun harus benar-benar jitu dan cermat dalam menjawab soal-soalnya. Saya waktu menjawab sekitar 40 soal. Kemudian pihak HMS memberitahu bahwa hasilnya akan diumumkan di sore harinya dengan nama-nama yang lolos berhak untuk mengikuti tahapan FGD dan rangkaian interview. Sore harinya, saya kembali ke UKDW untuk melihat hasil pengumuman yang ditempelkan di papan pengumuman. Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk lolos ke tahapan selanjutnya. Tahapan tesnya sendiri diadakan 2 hari kemudian. Dari tiap-tiap batch, ada sekitar 10 orang yang lolos. Jadi total yang lolos dari tahap tes awal ini ada sekitar 40 orang. Tahapan tes selanjutnya adalah FGD dan interview. Tahapan ini dilaksanakan di kantor HMS Jogja di daerah Nogotirto ring road barat. Waktu itu kami diminta datang pukul 8 pagi. Pertama-tama, kami di-brief terlebih dahulu mengenai pembagian kelompok untuk FGD. Satu kelompok terdiri dari 6-7 orang. Kelompok saya mendapatkan urutan masuk nomor 2. Di tahapan ini, saya juga bertemu beberapa orang kawan kuliah saya, namun sayang saya tidak satu kelompok dengan mereka, jadi tidak bisa kerjasama, haha! Kemudian tibalah giliran kelompok saya untuk memulai FGD. Begitu masuk, sudah ada 4 orang dari pihak HMS yang akan bertindak sebagai reviewer. Karena sistem FGD di HMS ini sendiri sebenarnya lebih mirip ke Business Case Presentation dibandingkan dengan FGD lain yang pernah saya ikuti. Waktu FGD ini adalah 30 menit dengan rincian 10 menit diskusi kelompok yang dilanjutkan dengan 20 menit presentasi dan tanya jawab oleh reviewer dan peserta. Soalnya sendiri merupakan studi kasus mengenai sebuah perusahaan yang ingin merilis produk baru dengan dua opsi pilihan dan analisis mengenai strateginya. Kita diminta untuk memilih opsi mana yang akan kita gunakan dan alasan mengenai pemilihan opsi tersebut. Saat proses diskusi kelompok, semua berjalan relatif lancar, sampai saat yang paling mendebarkan adalah saat sesi presentasi dan tanya jawab dengan reviewer. Suasananya saat itu benar-benar mirip seperti saat sidang skripsi, deg-degan parah! Namun alhamdulillah kami bisa melewati tahapan ini dengan cukup lancar meskipun ada beberapa hal yang kurang bisa disampaikan dengan baik. Hasilnya sendiri akan langsung diumumkan sekitar 10 menit setelah kita keluar dari ruangan. Setelah kami semua keluar, kami pun sangat dag dig dug menanti keputusan dari pihak HMS siapa saja yang lolos. TIdak sampai 10 menit, tiba-tiba salah satu interviewer mengumumkan nama-nama yang lolos. Dari 7 orang anggota kelompok saya, ada 3 orang yang dinyatakan lolos dan alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk lanjut ke tahapan selanjutnya. Tahapan selanjutnya adalah tahapan interview HRD+user. Seharusnya tahapan interview HRD dipisah, namun karena kesibukan para interviewer, kesulitan mencari waktu serta kebutuhan rekrutmen, maka untuk sesi interview kali ini dijadikan dalam satu sesi. Saat tiba giliran saya di-interview, saya mendapat giliran di maju nomor dua. Saat itu ada 5 orang interviewer. Satu dari pihak HRD dan empat lainnya adalah dari user/manager terkait. Interview dilaksanakan di dalam bahasa Inggris. Saat pertama kali setelah mengenalkan diri, saya cukup terkejut karena pertanyaan pertama yang terlontar dari salah satu interviewer adalah : “Kamu suka Star Wars ya? Ini kok di Instagrammu banyak postingan tentang Star Wars”. Saya cukup syok, karena saya belum pernah membayangkan bahwa mereka akan mencari tahu sedetail ini mengenai diri saya, bahka sampa melihat Instagram saya. Dan pertanyaan mengenai Star Wars ini kemudian menjadi pertanyaan pembuka yang lebih dalam lagi. Hingga saya ditanya lebih detail mengenai alasan saya menyukai Star Wars. Memang interview kali ini cukup unik menurut saya, mungkin juga karena perusahaan rokok terutama untuk posisi marketing, jadi pertanyaan yang diajukan juga cukup berbeda dari interview lain yang pernah saya ikuti. Selain mengenai informasi diri, saya juga ditanya mengenai band kesukaan saya, pengalaman membuat event musik sewaktu SMA, selera musik, konser-konser favorit dan masih banyak lagi. Hingga proses interview pun selesai dan saya diberitahu bahwa hasilnya akan diinformasikan sekitar dua minggu kemudian. Saya merasa bahwa proses interview saya berjalan sangat sebentar, namun setelah keluar, peserta lain mengatakan bahwa interview saya sangat lama, hampir satu jam lebih. Mungkin karena ini salah satu interview yang paling menyenangkan yang pernah saya alami, maka saya jadi merasa menikmati proses interview saya selama di dalam. Setelah dua minggu sejak proses interview, saya kemudian mendapatkan telepon dari pihak HMS bahwa saya dinyatakan lolos dan berhak mengikuti MCU. MCU dilaksanakan di Klinik Pramita Yogyakarta. Waktu saya melakukan registrasi di Pramita, saya mengintip di buku registrasi milik petugasnya dan saya mendapatkan info bahwa yang lolos sampai tahap MCU ada 3 orang, namun saya tidak bertemu mereka di lokasi, mungkin jadwalnya yang beda. Yang dites di tahap MCU ini meliputi pengambilan darah, urine, rontgen, rekam jantung dan cek fisik. Hasilnya nanti akan langsung diinfokan oleh pihak HMS melalui telepon untuk menyatakan apakah kita lolos atau tidak. Sekitar dua minggu sejak MCU, saya kemudian mendapat telepon dari Manager Area Marketing HMS area Surabaya, yang menyatakan bahwa saya lolos tahapan MCU dan mendapatkan offering sekaligus mendapatkan penempatan di area Surabaya. Saya ditawari posisi menjadi Supervisor Consumer Engagement (SCE) yang meng-handle bagian community dan event. Waktu itu, salary dan benefit yang ditawarkan oleh pihak HMS benar-benar tinggi untuk seorang fresh graduate seperti saya. Jumlah salary dan benefit yang tinggi, ditambah dengan penempatan di area Surabaya, yang notabene masih di Jawa dan tidak terlalu jauh dari Jogja, saya pun tidak berpikir lama-lama untuk kemudian menyetujui offering dari HMS tersebut. Saya kemudian diberi tahu bahwa saya bisa mulai bekerja seminggu kemudian. Selama proses masuk kerja pertama ini saya sangat antusias. Saya diberikan fasilitas tiket pesawat dan menginap di hotel bintang 4 selama sebulan. Selain nominal salary yang saya terima juga sudah sangat besar, saya masih mendapat benefit fasilitas lain seperti mobil dinas, laptop, tunjangan handphone, tunjangan pulsa, tunjangan tempat tinggal, tunjangan makan, serta uang saku harian selama 3 bulan pertama yang jika semuanya dinominalkan, gaji saya setiap bulannya bisa lah untuk membeli satu motor Honda Vario keluaran terbaru. Namun setelah beberapa bulan bekerja, saya baru sadar bahwa ternyata uang atau gaji bukanlah segalanya dalam bekerja. Awalnya saya sangat antusias melihat gaji yang saya dapatkan, namun karena beberapa faktor ketidakcocokan hati dan nurani, maka setelah 3 bulan saya memutuskan untuk resign dari HMS. Sebenarnya bekerja di HMS sangatlah menyenangkan, orang-orangnya yang sangat terbuka dan baik, manajemen perusahaan yang sangat mumpuni, people development yang di-manage dengan baik. Intinya, jika kalian ingin belajar dan menambah ­value added kalian, HMS adalah tempat yang sangat tepat. Secara HMS adalah bagian dari Phillip Morris yang merupakan perusahaan tembakau terbesar di dunia, sehingga values di perusahaan ini benar-benar mencerminkan sebuah perusahaan yang sangat kompeten. Saya juga mendapat mentor dan buddy yang sangat baik dan perhatian, yaitu Pak Fadjar. Kendati tampilan beliau cukup sangar dengan tutur khas orang Surabaya, namun beliaulah yang membantu saya untuk belajar dan memberikan wejangan-wejangan tentang hidup dan belajar (terima kasih banyak Pak Fadjar! Hope I’ll see you again in another occasion!). Namun semua kembali lagi, ada faktor kuat dalam diri saya yang membuat saya tidak bisa meneruskan bekerja di sini. Akhirnya, resmi per Juni 2016, saya tidak lagi menjadi bagian dari HMS, yang artinya lagi, saya kembali menjadi jobseeker. 

  • PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk.
Setelah resmi resign dari HMS, saya dengan susah payah harus kembali mengumpulkan niat dalam diri saya untuk memulai kembali proses pencarian kerja. Percayalah, masa-masa dimana kita harus memulai kembali menjadi seorang jobseeker setelah mendapat pekerjaan yang cukup settle adalah momen yang sangat berat. Memang tidak mudah untuk memulainya, namun saya harus mengumpulkan niat dan mencari pekerjaan, karena sya tidak boleh berlama-lama menganggur. Namun karena saya berhenti bekerja di pertengahan tahun, dimana di periode ini sangat sedikit perusahaan yang membuka rekrutmen karena berbenturan dengan puasa dan lebaran, maka saya pun hanya menghabiskan waktu dengan menunggu. Beruntunglah, di masa jobseeking yang sangat berat itu, saya juga bekerja freelance sebagai content writer di perusahaan startup IT lokal, sehingga lumayan untuk mengisi waktu luang dan menambah sedikit uang jajan sehari-hari. Setelah cukup lama menunggu panggilan, akhirnya saya pun mendapat panggilan pertama saya dari PT. Bank Muamalat Indonesia (BMI). Saya mendapat panggilan seleksi untuk posisi Muamalat Officer Development Program (MODP), atau posisi yang setara dengan MT. Waktu itu saya diminta hadir di proses seleksi awal yang diselenggarakan di Hotel Jayakarta Jogja. Tahapan pertama yang harus dilewati adalah tahapan FGD. Cukup unik juga bagi saya, karena baru pertama kali ini saya mengikuti rekrutmen yang proses FGD-nya ditaruh di awal. Waktu itu dari sekitar 100 orang yang hadir, dibagi ke dalam beberapa kelompok FGD dimana tiap kelompoknya terdiri dari sekitar 6-7 orang. Waktu itu tema FGDnya adalah tentang studi kasus mengenai pembukaan cabang baru di daerah yang butuh pengembangan dan kita diminta untuk memilih kepala cabang mana yang paling cocok untuk memimpin kantor baru tersebut sesuai dengan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh tiap kandidat. Proses FGD berjalan sekitar kurang lebih 30 menit. Dan hasilnya akan diumukan setelah semua kelompok selesai melakukan proses diskusi. Setelah sekitar 2 jam, hasil dari proses FGD sudah diumukan, alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan bersama sekitar 50 peserta lainnya untuk lolos ke tahapan selanjutnya. Tahapan selanjutnya adalah tahapan online test, dimana sebelumnya peserta sudah dihimbau untuk membawa laptop masing-masing agar bisa mengerjakan dengan baik. Proses online test ini meliputi dua tahapan, yaitu tes kepribadian dan logika. Saya agak sedikit lupa detail tesnya seperti apa, namun tipe soal-soalnya sendiri termasuk cukup awam ditemui di beberapa psikotes perusahaan lain. Jumlah soalnya juga tidak terlalu banyak dan total waktu pengerjaannya ada sekitar 2 jam. Dan hasil nama peserta yang berhak lolos langsung diumumkan begitu tes selesai dikerjakan. Dan alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan dan dinyataka n berhak lolos ke tahapan selanjutnya bersama dengan sekitar 20 peserta lain. Kemudian peserta yang lolos di-brief untuk mengikuti tahapan tes keesokan harinya, yaitu presentasi dan final interview. Kita kemudian diminta untuk membuat materi presentasi mengenai perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah yang akan dipresentasikan di hadapan para user dengan durasi sekitar 15 menit. Setelah sesi presentasi, akan dilanjutkan dengan final interview. Malamnya saya pun menyiapkan materi presentasi saya dengan semaksimal mungkin. Namun sungguh aneh tapi nyata, entah kenapa, hanya H-beberapa jam sebelum tes dimulai, saya memilih untuk tidak datang dan melanjutkan proses seleksi. Entah kenapa tiba-tiba, saya merasa bahwa BMI ini bukanlah tempat saya. Ya, memang saya juga belum tentu lolos, namun saat itu saya punya firasat kuat bahwa saya tidak perlu melanjutkan proses seleksi. Saya sendiri sebenarnya juga sangat terheran mengapa saya bisa sampai membuat keputusan mendadak seperti itu, bahkan saya sampai ditelpon berulang kali oleh pihak BMI dan saya tidak menjawabnya, haha! Jujur, bahkan sampai sekarang pun saya masih terheran-heran mengapa saya bisa membuat keputusan seperti itu. Tapi saya mencoba mengambil hikmahnya, mungkin Allah sedang berusaha menunjukkan pintu rezeki lain bagi saya melalui cara yang cukup ‘radikal’, hahaha! 

  • Perum Peruri
Rekrutmen berikutnya yang saya ikuti adalah rekrutmen di Perum Peruri. Peruri sendiri merupakan BUMN yang bertugas untuk mencetak uang kertas rupiah di Indonesia. Waktu itu saya memperoleh lowongan ini salah satu website loker pencarian kerja. Berhubung ada salah satu lowongan yang membutuhkan kualifikasi jurusan yang cukup sesuai dengan background saya, maka saya pun kemudian mencoba mendaftar. Tahapan pertama adalah kita diminta untuk melakukan registrasi online. Setelah selesai, hasilnya akan diumumkan sekitar 2 minggu kemudian. Setelah sekitar 2 minggu sejak saya mendaftar, saya kemudian mendapat sms informasi yang menyatakan bahwa saya berhak melanjutkan ke tahapan selanjutnya yaitu tes tertulis. Tes tertulis ini sendiri terdiri dari dua bagian, yang pertama soal mengenai kemampuan dasar yang meliputi tes logika sederhana dan yang kedua adalah tes kemampuan bahasa Inggris. Masing-masing bagian terdiri dari 50 soal dengan total waktu pengerjaan sekitar 2 jam. Setelah selesai, kami diinfokan bahwa hasilnya akan diumumkan keesokan harinya. Nama-nama yang lolos berhak untuk mengikuti tes selanjutnya, yaitu psikotes. Keesokan harinya, saya mendapatkan sms pemberitahuan yang berisi informasi bahwa saya dinyatakan lolos ke tahapan selanjutnya. Namun karena jadwalnya bertabrakan dengan tes di Bank Indonesia (BI) yang waktu itu lebih saya prioritaskan, maka saya pun terpaksa tidak melanjutkan tes di Peruri. Sebenarnya cukup sedih juga waktu itu, karena peserta seleksi Peruri yang total berjumlah 400 orang ternyata hanya setengahnya yang hadir. Dengan jumlah peserta dan tahapan yang relatif pendek serta kebutuhan jumlah pegawai yang cukup banyak dan mendesak, sebenarnya peluang di Peruri lebih terbuka. Namun karena waktu itu sejak awal saya sudah meniatkan diri untuk berfokus di BI, jadilah saya pun harus merelakan kesempatan di Peruri. 

  • Bank Indonesia 
Rekrutmen selanjutnya yang saya ikuti, sekaligus yang terakhir yang saya bagi disini, adalah rekrutmen di Bank Indonesia (BI). Waktu itu posisi yang dibuka adalah program Pendidikan Calon Pegawai Muda (PCPM). PCPM ini singkat kata adalah program MT di BI dengan segala macam benefit yang ditawarkan. Karena benefit yang begitu tinggi serta iming-iming prestige bisa bekerja di BI, saya pun langsung mendaftar dan berniat untuk berusaha sekuat tenaga untuk bisa masuk di posisi ini. Kendati di persyaratan tidak ada pilihan background pendidikan yang sesuai dengan saya, namun saya tetap ‘nekat’ mendaftar untuk posisi dengan background jurusan pertanian. Setelah selesai mendaftar online, hasilnya akan diinformasikan kurang lebih selama 2 minggu ke depan. Setelah kurang lebih 2 minggu sejak proses pendaftaran dilakukan, saya kemudian mendapatkan notifikasi bahwa saya masih diberi kesempatan untuk lanjut ke tahapan selanjutnya. Tahapan selanjutnya adalah tahapan tes kemampuan dasar. Proses tes ini dilakukan di Semarang, berhubung di pilihan lokasi tes hanya ada Semarang yang paling dekat dengan domisili saya, jadi dari awal sampai akhir, proses seleksi akan dilakukan di Semarang. Waktu itu seleksi dilakukan di Fakultas Ekonomi Unnes. Waktu itu jumlah peserta tesnya sangatlah banyak, mungkin bisa ribuan yang hadir yang dibagi ke dalam beberapa batch. Tes kemampuan dasar ini meliputi tes logika dasar yang awam ditemui di proses rekrutmen berbagai perusahaan. Jumlah total soalnya saya lupa detailnya berapa namun seingat saya cukup banyak. Dengan total durasi waktu mengerjakan sekitar 2 jam. Setelah selesai, panitia mengumumkan bahwa hasilnya akan diinfokan dalam waktu sekitar dua minggu setelahnya. Jika lolos, tahapan tes selanjutnya adalah tes ekonomi dasar dan kebanksentralan. Dua minggu kemudian, saya mendapatkan info bahwa saya masih mendapatkan kesempatan untuk lolos ke tahapan selanjutnya yang akan diselenggarakan seminggu kemudian. Saya pun berusaha semaksimal mungkin untuk belajar. Mengenai BI dan juga mengenai ilmu ekonomi. Walaupun saya tidak bisa maksimal karena saya harus benar-benar mulai dari nol dan keterbatasan waktu, namun saya tetap berusaha semaksimal mungkin. Kemudian tiba saat hari-H tes, saat membaca soal, saya seketika langsung lemas karena soal yang keluar jauh beda dengan apa yang saya pelajari. Dengan keterbatasan saya dan sistem penilaian yang menggunakan sistem skor -1 apabila kita menjawab salah, maka saya pun tidak bisa maksimal dalam mengerjakan. Alhasil, saat hasilnya diumumkan seminggu kemudian, saya pun tidak bisa lolos ke tahapan selanjutnya. Waktu itu saya sangat sedih, karena saya merasa sudah berusaha sekeras mungkin dan BI sangat saya kejar pada waktu itu. Ya, mungkin Allah sudah mempersiapkan jalan lain yang lebih baik bagi saya. Oh iya, jika lolos dari tahapan tes ini, tahapan tes selanjutnya kalau tidak salah adalah psikotes, interview dan MCU. Dan program PCPM ini sendiri cukup jarang ada lowongan, bisaanya 2 tahun sekali, namun itu pun juga tidak tentu. Dan perlu diketahui, gaji PCPM BI ini nominalnya sungguh bisa membuat mata terbelalak. DItambah dengan sangat terbukanya kesempatan untuk melanjutkan studi ke luar negeri yang dibiayai oleh BI, maka tidak heran jika BI menjadi impian banyak jobseeker di negeri ini.
Nah sekianlah sekelumit pengalaman saya saat menjalani proses rekrutmen di berbagai perusahaan. Sebenarnya selain daftar di atas, saya juga pernah mendapat undangan rekrutmen di berbagai perusahaan lain seperti Unilever, Frisian Flag, P&G, OJK, Pegadaian, Danareksa, Garuda Indonesia dan beberapa lagi. Namun memang tidak saya tulis karena beberapa saya tidak bisa datang atau gagal di tahap-tahap awal. Hahahahaha!

Dan Alhamdulillah, setelah melewati proses yang panjang dan melelahkan, sekarang yang sudah diterima bekerja di Danone dengan posisi MT. Untuk detail mengenai proses seleksi MT Star Danone, akan saya tulis di postingan saya selanjutnya. Terima kasih dan semoga bermanfaat!

4 komentar:

  1. Sebuah perjalanan hidup mengenai karir yang sungguh luar biasa ! Salam buat Pak Fadjar (seperti manajer saya juga)

    BalasHapus
  2. makasih kak udah sharing di sini, jadi punya gambaran nih sebelum ikut tes hehe

    BalasHapus
  3. Wah terima kasih banyak kakk. Ceritanya sangatt bermanfaat buat saya yg jobseeker. Keren bgt kak perjalanannya 😭😭

    BalasHapus